9 Candi-Nggak-Mainstream Untuk Dikunjungi

Karena jalan-jalan ke Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko itu terlalu mainstream. Maka berkemaslah kami (saya, @adnanroesdi dan @jogjapetualang) demi sebuah perjalanan yang sebut saja wisata anti mainstream dari candi ke candi.

Sabtu, 29 Maret 2014, kami menghabiskan waktu sehari penuh untuk menelusuri candi-candi yang belum banyak terekspos, mulai dari kawasan Jogja hingga memasuki area Jawa Tengah. Lebih tepatnya sih mereka yang menemani saya menyambangi candi-candi itu satu per satu.

Hasilnya? 9 candi-nggak-mainstream berhasil kami tilik. Ah senangnya tak terkira. Belusukan demi menatap langsung peninggalan sejarah ini. Takjub sudah pasti. Nggak nyangka bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri candi-candi peninggalan jaman kerajaan Hindu Budha dulu kala.

Ini dia 9 candi-nggak-mainstream di Jogja dan sekitarnya yang patut dikunjungi. (urutan berdasarkan rute transportasi – sepeda motor dirasa lebih efektif dan efisien karena beberapa medan tidak mungkin dilalui kendaraan roda 4)

1. Candi Sambisari di Kalasan, Sleman, Jogja. Konon katanya diperlukan waktu selama 21 tahun, sejak batu pertamanya ditemukan pada tahun 1966, untuk menggali dan menyusun ratusan keping bebatuan ini sebelum akhirnya direkonstruksi dan menjadi indah seperti ini. Sungguh. Bagus. Banget.

Seperti tampak pada foto, posisi Candi Sambisari memang terletak di bawah permukaan tanah. Konon katanya karena tertimbun lahar dari Gunung Merapi yang dulu meletus dengan dahsyatnya.

2. Candi Kalasan, masih di daerah Kalasan, Sleman, Jogja. Konon candi ini adalah candi Budha tertua di Jogja dan Jawa Tengah. Letaknya sangat dekat dengan jalan raya, bahkan siapapun bisa melihat candi ini menjulang dari jalan raya.

3. Candi Kedulan, masih di Kalasan, Sleman, Jogja. Belum terlihat seperti candi seutuhnya karena sebagian masih terkubur didalam tanah dan masih perlu digali pun dipugar. Konon katanya sih candi ini ukurannya cukup panjang, jadi proses penggaliannya terpaksa harus menunggu pembebasan tanah warga sekitar. Kita tunggu saja perkembangannya.

4. Candi Sari, masih di Kalasan, Sleman, Jogja. Candi ini terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk.

PicsArt_1396967332807

5. Candi Plaosan, di Kab Klaten, Jawa Tengah. Lokasinya berdekatan dengan Candi Prambanan. Areanya pun cukup luas. Terbagi menjadi dua, yaitu Candi Plaosan Kidul dan Candi Plaosan Lor yang jauh lebih luas karena merupakan candi utama. Tanpa ada tiket masuk yang harus dibayar, kami diminta retribusi seikhlasnya. Tak mengapa karena Candi Plaosan ini sungguh elok luar biasa.

6. Candi Sojiwan, berlokasi di Desa Kebondalem Kidul, Kec Prambanan, Kab Klaten, Jawa Tengah. Konon semenjak tahun 1999, Candi Sojiwan ini dimanfaatkan sebagai Pusat Pendidikan dan Latihan Pengembangan Metode Pemugaran Candi Tingkat Nasional. Sama seperti di Candi Plaosan, meski tidak ada tarif resmi yang terpampang di pos penjaga depan, kami tetap diminta membayar retribusi seikhlasnya.

7. Candi Barong, terletak di perbukitan Batur Agung, tepatnya berada di Dusun Candi Sari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Lokasinya dekat dengan Candi Ratu Boko. Dan untuk sampai kesini, kita melewati jalur berbukit dengan pemandangan indah serba hijau. Konon dinamai Candi Barong karena adanya hiasan pada setiap sisi tubuh candi yang menyerupai singa/barong.

8. Candi Ijo, terletak di Sambirejo, Sleman. Disini kami temukan lumayan banyak pengunjung. Mungkin karena memang sudah cukup terdengar namanya. Karena letaknya yang masih satu komplek dengan Candi Ratu Boko dan Candi Barong, akses menuju Candi Ijo ini pun sedikit menantang karena jalan yang berbukit dan berkelok-kelok. Tapi jangan khawatir karena pemandangan yang menemani perjalanan itu pun nggak kalah cantik.

9. Candi Abang di Dusun Sentonorejo, Ds Jogotirto, Kec Barbah, Sleman. Juga dikenal dengan nama bukit Teletubbies. Loh mana candinya? Karena sejauh yang kita tahu, candi itu identik dengan bangunan bebatuan megah yang dikelilingi arca-arca. Tapi tidak dengan candi yang satu ini. Sekilas hanya terlihat seperti gundukan tanah. Namun sesungguhnya didalamnya terdapat reruntuhan candi yang terbuat dari batu bata merah. Itulah pula kenapa namanya Candi Abang (yang artinya merah). Akses ke lokasi ini cukup sulit dijangkau meski dengan roda dua karena jalannya yang berbatu dan menanjak.

Itu tadi 9 candi yang berlokasi di sekitaran Sleman dan Klaten yang belum terlalu banyak diekspos. Nyatanya, masih banyak lagi candi-candi yang lain. Nggak cukup waktu seharian untuk meng-capture semua peninggalan sejarah ini.

Menurut saya dari kacamata orang awam yang kurang mengerti tentang ilmu arkeologi dan sejarah, pemeliharaan candi-candi ini sudah cukup baik. Semua tampak bersih dan terawat. Bahkan retribusi di candi-candi wilayah Jogja, seperti Sambisari, Sari, Kedulan, Kalasan, Barong, dan Ijo sudah ditiadakan. Kita hanya perlu mengisi buku tamu untuk kepentingan data mereka. Beda halnya dengan candi yang berada di wilayah Jawa Tengah seperti Candi Plaosan dan Candi Sojiwan yang masih dikenakan tarif retribusi seikhlasnya meski tidak terpampang secara resmi.

Matur sembah suwun kanggo mas @adnanroesdi dan mas @jogjapetualang karena petualangan seperti ini membuat pengetahuan saya akan candi percandian naik 5 level. Jujur, akan sangat sulit menyambangi candi-candi ini tanpa dampingan mereka yang sudah tahu jalannya.

Sekian laporan langsung dari jamaah anti-mainstream. Nantikan telisik candi episode berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *