Akhir Pekan Lintas 3 Provinsi

Siapa sangka rencana #MembunuhAkhirPekan di kota Jogja berakhir dengan jalan-jalan lintas 3 provinsi, yaitu DI Yogyakarta, Solo (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur).

Jogja – DIY

Kamis malam, 27 Maret 2014 – Saya memulai long weekend ini lebih awal. Kereta Taksaka Malam membawa saya menjauh sejenak dari ibukota. Perjalanan 8 jam dari ibukota menuju Daerah Istimewa semakin dirasa biasa karena ini kali ke-4 kunjungan ke Jogja pasca #kaburcantik. Jadi, apa yang membuat saya keep coming back to Jogja? Simply karena saya merasa berhutang budi pada kota ini dan orang-orangnya.

Jumat, 28 Maret 2014 – Jam 4.30 pagi saya tiba di Stasiun Tugu. Tertarik dengan fasilitas @ojacktaximotor, ojek berargometer pertama dengan harga Rp 2/meter, malam sebelumnya saya sudah order untuk dijemput di stasiun. Menarik dan patut dicoba. Tarif awalnya 4ribu yang kemudian per meternya bertarif Rp2 saja. Ada driver cewek juga based on request. Dijemput tepat waktu.

Lagi, saya putuskan untuk menginap di @EduHostelJogja selama berakhir pekan disini. Ada artikel yang [mungkin] menarik perihal pengalaman berbagi kamar di dormitory. Boleh dicek disini.

[Mangut Lele Mbah Marto] Pernah makan mangut lele? Salah satu masakan khas Jogja. Saya pernah saat #kaburcantik yang lalu. Tapi mangut lele yang ini sungguh berbeda. Tidak hanya dari rasanya yang sangat pedas, tapi juga konsep warungnya. Begitu tiba di rumahnya si mbah ini, jangan sungkan untuk langsung menuju dapurnya di belakang. Tapi yo ojo lali kulon nuwon sik lik. Sambil bisa menyaksikan si mbah-mbah ini memasak di tungku, kita bisa ambil sendiri menu yang kita ingini alias self service.

[Jogja Last Friday Ride #JLFR] Sudah sejak #kaburcantik, saya ingin menjadi bagian dari rombongan ngepit di Jogja ini. Merasakan kenikmatan gowes di malam hari keliling kota Jogja bersama ratusan orang.

Iya, JLFR ini adalah kegiatan ngepit bareng di setiap Jumat malam, di minggu terakhir setiap bulannya. Maret ini, JLFR sudah yang ke-47 kalinya. Meski konon gerombolan JLFR ini belakangan dimusuhi pengguna jalan lain karena dampak macet yang disebabkannya, toh sampai saat ini JLFR masih berlangsung. Tapi memang iya sih, kemauan untuk berdisiplin menaati rambu-rambu lalu lintas masih sangat minim. Saya mau nggak mau pun terpaksa ikut-ikutan. *excuse Sangat disayangkan memang, gerakan menarik ini harus tercoreng namanya hanya karena segelintir / banyak orang yang tidak bertanggung jawab. Atau memang dengan sengaja mendompleng kepentingan tertentu. Hmm.. kurang ngerti juga sih ada apa di balik itu.

Sabtu, 29 Maret 2014 – [Dari Candi ke Candi] Karena jalan-jalan ke Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko itu terlalu mainstream. Maka berkemaslah kami (saya, @adnanroesdi dan @jogjapetualang) demi sebuah perjalanan yang sebut saja wisata anti mainstream dari candi ke candi. Hasilnya? 9 candi-nggak-mainstream berhasil kami tilik. Ah senangnya tak terkira. Belusukan demi menatap langsung peninggalan sejarah ini. Takjub sudah pasti. Nggak nyangka bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri candi-candi peninggalan jaman kerajaan Hindu Budha dulu kala. Cerita lengkapnya telisik candi ini bisa dibaca disini.

Solo – Jawa Tengah

Minggu pagi, 30 Maret 2014 – mengejar kereta pertama menuju Solo untuk bertemu sekaligus nebeng rombongan temannya teman yang akan bertolak ke Pacitan. Sekali lagi #MeetTheStrangers.

Aah, pagi di kota Solo yang sedang lengang karena Car Free Day.

Ingin menikmati sarapan khas Solo? Sambangi area Manahan dimana banyak pedagang yang menggoda dengan menu-menu sarapan khas Solo. Saya memilih Nasi Pecel Ndeso ini. Nasinya nasi merah dan bumbu kacangnya pun berbeda karena menggunakan wijen. Maknyuss…

Pacitan – Jawa Timur

Minggu sore, 30 Maret 2014 – Setelah berkendara selama 7 jam dari Solo, akhirnya rombongan 5 cewe plus 1 kiddo ini tiba di Pantai Klayar. Salah jalur dan juga macet dibeberapa titik karena padatnya kendaraan yang juga ingin menikmati libur panjang akhir pekan, jadi harap maklum.

[Pantai Klayar] Dengan penuh perjuangan karena macet yang tak biasa, akhirnya kami bisa menatap secara langsung Pantai Klayar yang terkenal itu. Jujur, meski tampak dari atas pantai ini ramai cenderung padat, tapi saya masih bisa menangkap keindahannya. Jadi saya yakin, jika saja timingnya tepat, it must be perfect!

[Goa Tabuhan] Pacitan adalah kota 1001 goa. Dan selama perjalanan ke Pacitan, kami sudah menemukan 2 goa, diantaranya Goa Gong dan Goa Tabuhan. Nah, masih ada 999 goa lagi untuk ditemukan. Ada yang tertarik?

[Pantai Watukarung] Hari yang sudah terlalu sore, tubuh yang terlalu lelah untuk kembali ke Solo, dan tidak adanya penginapan di sekitar Pantai Klayar, membuat kami bertekad menemukan penginapan di daerah Watukarung. Disini, ada beberapa penginapan atau homestay. Justru mayoritas yang menginap disini adalah turis asing karena memang ombak di sekitar Pantai Watukarung cocok untuk surfing. Tapi tidak untuk kami yang hanya ingin berfoto cantik.

Senin pagi setelah puas menikmati pantai Watukarung, kami bergegas kembali ke Solo. Ah, perjalanan cukup panjang dari Jogja – Solo – Pacitan ini cukup menyenangkan. Terutama perihal [lagi-lagi] how to deal with strangers. But somehow, I successfully #MeetTheStrangers.

Indahnya Pantai Klayar dan konon beberapa spot lainnya di Pacitan membuat saya ingin kembali lagi ke sini lain waktu, berharap bisa mendapatkan pemandangan yang seharusnya.

Jogja – DIY

Senin sore, 31 Maret 2014 – kembali ke garis start, Jogja. Sudah tidak punya banyak waktu melakukan hal-hal yang diinginkan. Tapi masih ingin bertemu dan ngobrol dengan beberapa teman di Jogja. Lalu apa yang saya lakukan?

[Angkringan Lek Man] Entah apa yang ada di pikiran saya saat itu hingga akhirnya bisa nongkrong bareng dengan beberapa teman sekaligus di waktu dan tempat yang sama, Angkringan Lek Man, Tugu.

Terharu adalah 8 teman di Jogja yang sebagian besar tidak saling kenal bisa duduk manis di tikar yang sama, jagongan ngalor ngidul khas Jogja, yang sekaligus menemani saya menantikan kereta Bima jam 11 malam. It’s all about connecting people.

Jadi, akhir pekan kali ini berhasil saya taklukkan. Sarapan di Pacitan, makan siang di Solo dan ditutup dengan makan malam di Jogja. Life is good, isn’t it?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *