Belajar Tersenyum dari Bocah Papua

Kamu lupa caranya tersenyum? Coba tanyakan pada Mein, bocah asli Papua yang saya temui di Mansoar – Raja Ampat beberapa minggu yang lalu.

Entah penulisan namanya benar atau salah. Berhubung anak ini belum sekolah dan belum bisa baca tulis, jadi ditanya pun dia hanya tersenyum.

Pagi itu pagi kedua saya di Raja Ampat. Berniat menyambung tugas #1Traveler1Book di tanah Papua. Para bocah ini adalah anak-anak dari para pekerja di homestay tempat kami menginap. Saya hampiri dan coba ajak bermain. Sekeras usaha saya untuk coba bisa berkomunikasi dengan mereka, tapi gagal. Mereka hanya tersenyum bahkan tertawa. Aah indahnya senyum dan tawa mereka. Meski kami tak mengerti satu sama lain, tapi saya yakin kami mengagumi satu sama lain.

Sedikit sekali hasil obrolan kami yang saya mengerti. Setidaknya saya menangkap beberapa mereka memang sudah bersekolah. Tapi Mein dan Bajo belum.

Lihat si Bajo. Bocah kecil yang berdiri di samping kiri saya dengan “umbel meler”. Duh bawaannya kepingin nyisi umbel’e tapi takut dimarahi mamaknya.

Bergerak ke Desa Arborek, masih di Raja Ampat. Anak-anak disini lebih interaktif dan ekspresif. Mungkin karena desa mereka ini sering didatangi pengunjung. Dan saya temui mereka suka sekali berfoto wefie.

Lain lagi cerita bertemu anak-anak SD YPK Lahairoi – Selpele ini. Kebetulan di Sabtu pagi itu, jadwal mereka berkegiatan di luar kelas. Datanglah kami untuk mengganggu, tentu saja. Ibu Guru memberi tugas menggambar apapun yang mereka lihat saat itu. Gambarnya bagus-bagus, tapi sayang perlengkapan menggambar dan mewarnai mereka minim sekali. Satu anak hanya memegang beberapa pensil warna dan pensilnya pun sudah sangat pendek. Belum lagi saat terjadi pinjam meminjam di antara mereka.

Meski demikian, toh wajah mereka bahagia as if they have everything.

Siapa kira juga, di antara mereka ini adalah calon pemimpin bangsa di masa depan? Seperti Ibu Yohana Yembise yang baru saja menjabat menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menteri perempuan pertama asal tanah Papua.

Beruntung bisa berbincang sejenak dengan Bapak Teyo Rumbewas sang kepala sekolah dan sempat bertukar alamat pos.

Entah ya, dari perjalanan ke Raja Ampat yang cuma 4 hari ini, justru tampang dan senyum anak-anak inilah yang paling membekas di hati. Paling ngangenin dan bikin kepingin balik lagi. Bukan. Justru bukan karena underwaternya yang bak surga dunia.

Saya. Gagal move on. Dari. Senyum. Mereka.

– November 2014 –

Post Tagged with , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *