Berakhir Pekan di Pulau Biawak, Kenapa Nggak?

Akhir pekan datang lagi. Dia tak pernah datang terlambat, meski terkadang datang lebih cepat. Saatnya #MembunuhAkhirPekan.

Pulau Biawak, baru sebulan yang lalu saya mendengarnya. Semacam adiknya Pulau Komodo, konon begitu. Mungkin tak seindah Pulau Komodo, saya pun tak bisa menjamin karena belum pernah ke Pulau Komodo. Saya hanya bisa menjamin, Pulau Biawak adalah tempat yang asyik untuk sekedar #MembunuhAkhirPekan di Sabtu dan Minggu.

Jumat malam, 12 April 2014 – lagi lagi saya harus berlari mengejar Cirebon Ekspres yang dijadwalkan meluncur menuju Cirebon pukul 20.40 WIB. Meeting seharian dan macet khas ibukota di Jumat sore tak menyurutkan semangat saya berakhir pekan di Pulau Biawak. Tiba 10 menit sebelum keberangkatan, cukup membuat jantung ini deg-degan. “Aaah, Tuhan masih sayang dan mengijinkan saya untuk menikmati karya-Nya lagi minggu ini”, bisik saya dalam hati.

Hampir tengah malam, Cireks yang saya tumpangi tiba di Stasiun Jatibarang, Indramayu.  Dan disinilah #MeetTheStrangers kembali dimulai. Bertemu 5 pria super seru ngobrolin seputar traveling dan teman-temannya, menjadi awal yang sangat baik untuk kemudian harus bernegosiasi dengan belasan pejalan lain.

Kami mulai berlayar dengan kapal nelayan dari dermaga Indramayu saat subuh hampir tiba. Dengan menyusuri Sungai Cimanuk di satu jam pertama, perjalanan menuju Pulau Biawak ditempuh dalam waktu 4 jam.

Beruntung ombak pagi itu sedang baik-baik saja dengan cuaca cenderung cerah ceria. Kami pun sempat menikmati keindahan matahari terbit di tengah perjalanan.

Saat Biawak menyambut kedatangan kita…

Hampir siang kami tiba di Pulau Biawak.

Dan tentu saja kami disambut oleh penghuni lokal pulau ini yang tidak lain tidak bukan adalah biawak. Tak disangka, ternyata biawak-biawak ini ukurannya cukup besar dengan sabetan ekornya yang lumayan dahsyat. Maka dari itu, diharap setiap pengunjung selalu waspada saat berjalan di sekitar pulau. Warna kulitnya yang rancu dengan warna sekitar, menyebabkan kita seringkali tak menyadari keberadaan mereka di dekat kita. Dan perlu diketahui juga, mereka sama sekali tak takut pada manusia. Jadi, kitalah yang seharusnya takut dan ekstra hati-hati.

Sebagai catatan, Pulau Biawak ini adalah area konservasi dan biawak yang konon katanya berjumlah sekitar 300 ekor yang tinggal di Pulau ini adalah satwa dilindungi. Oleh sebab itu, dilarang bagi siapapun membunuh atau membawa pergi biawak dari pulau ini. Apalagi dikonsumsi. Meski banyak kita temui sate biawak di area Indramayu. Itu lain cerita.

Sisi lain Pulau Biawak…

Snorkeling Keindahan Bawah Laut

Ternyata eh ternyata, Pulau Biawak juga punya keindahan bawah laut. Persiapkan goggle dan snorkel mu! Beberapa spot di sekitar Pulau Biawak menawarkan keindahan yang bikin nyesel kalo kita nggak ikutan nyemplung.

Salah satu spot untuk snorkeling adalah Pulau Gosong yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Pulau Biawak.  Menurut informasi dari @PulauBiawak, lokasi menarik untuk bersnorkeling ria ini sayangnya kurang sempurna karena banyak karang yang sudah rusak yang kabarnya akibat dari pengerukan untuk pembangunan salah satu perusahaan minyak BUMN di tahun 80-an. Hmm…

Menatap Keindahan Pulau Biawak 360 derajat

Sore menjelang senja adalah saat yang tepat untuk berolahraga menaiki mercusuar setinggi 65 meter. Didirikan pada jaman penjajahan Belanda pada tahun 1872, mercusuar ini memang terlihat sudah sangat tua. Untuk itu, harap berhati-hati saat menapaki setiap anak tangganya yang sudah mulai berkarat.

Tapi percaya deh, capek yang dirasa dan juga ketakutan yang melanda saat menuju ketinggian ini akan terbayar dengan apa yang tertangkap oleh mata telanjang saat kita tiba di puncak mercusuar. Menatap dermaga, pemandangan lepas pantai, juga hijau dan lebatnya hutan pinus bakau dari ketinggian melengkapi sore yang tenang di pulau tanpa sinyal itu. Bahkan, jika sabar menanti, matahari terbenam dapat terlihat lebih cantik dari ketinggian ini pula.

Trekking Hutan Bakau

Apa lagi yang bisa dilakukan di Pulau Biawak? Pulau Biawak yang luasnya 120 ha, sebagian besar ditutupi dengan hijau dan lebatnya hutan bakau. Sudah ada trek untuk kita bisa berjalan kaki berkeliling pulau. Tapi, lagi-lagi harus ingat untuk tetap berhati-hati. Saat trekking, kita bisa sekaligus menemukan makam Syeh Syarif Khasan dan beberapa makam lain yang tak dikenal yang seringnya dijadikan tempat pesugihan.

Sabtu Minggu pun tak terasa berakhir. Saatnya kembali ke peraduan masing-masing. Tragedi nyemplungnya smartphone ke air asin yang mengakibatkan satu-satunya modal saya menangkap moment saat jalan-jalan itu sekarat. Untung foto-foto masih bisa diselamatkan tepat pada waktunya. Dan tragedi matinya mesin kapal saat perjalanan pulang yang mengakibatkan kita terombang-ambing di tengah lautan luas pun menjadi cerita seru tersendiri. Semua cerita tadi cukup untuk menutup akhir pekan saya.

Jika masih ada waktu bermalam di Indramayu, maka bermalamlah dan nikmati kota Indramayu keesokan harinya. Banyak pilihan kuliner yang wajib dicicipi di kota kecil ini.

Semua moment yang tertangkap kamera di Pulau Biawak dan berhasil diselamatkan sebelum tragedi nyemplungnya handphone, bisa dilihat disini.

*Terima kasih @PulauBiawak telah memperkenalkan keelokan pulau ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *