Berdiri di Titik Nol Paling Barat Nusantara

Sore itu menjelang senja, kaki ini berpijak di tanah Weh dan mata ini menatap langit Aceh. Tepatnya saya berdiri tegar di ujung barat negeri ini. Titik dimana senja terlihat paling terlambat dibandingkan dengan pelosok lain di tanah air ini. Titik dimana berhasil membuat saya mengharu biru. “Iya, you made it this far, ellie. You have traveled so far” :’)

Sore yang cenderung berawan hitam. Kami bertolak segera dari Iboih menuju kawasan wisata tugu Nol untuk mengejar si senja. Iya, konon katanya senja di titik nol seringkali bersolek lebih cantik dari biasanya. Meski dalam hati sedikit pesimis karena langit yang kurang bersahabat.

Tak mengapa, muncul atau tidak, cantik atau biasa saja, saya tetap setia menunggu. Disini. Di ujung barat nusantara.

Good things happen to those who wait… Tuhan mendengar doa saya karena akhirnya langit mendung tadi berganti rupa menjadi seperti ini…

Seperti biasa, Tuhan selalu baik hati berbagi hasil karya lukisan-Nya. Untuk mereka yang betul-betul menginginkannya. Untuk mereka yang masih percaya. Untuk mereka yang masih memiliki keyakinan akan hal baik.

Lukisan Tuhan sore itu tak menampilkan sang bulatnya mentari sama sekali. Seolah Sang Pelukis hanya mencorat coret kanvas langit dengan warna-warni mengagumkan. Dan semburat yang dihasilkan pun sungguh berhasil membuat siapapun tersenyum melihatnya.

*kita tulis cerita, yang takkan kita lupa, bersama di bawah langit senja

Sore itu milik saya dan para pemburu senja…

Maka dengan ini, resmi sudah saya menginjakkan kaki di Zero Kilometer, The Westernmost Point of Indonesia :’)

Aceh, 2 Mei 2014 

Post Tagged with , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *