Bermalam di Baduy Dalam

Merasakan sejenak hidup terisolasi dari dunia luar sekaligus berbincang tentang tradisi yang masih dipegang teguh di tengah desakan modernisasi sana sini. Dengan konsep “tanpa perubahan apa pun”, atau perubahan sesedikit mungkin, Baduy Dalam adalah salah satu contoh kekayaan budaya yang masih perawan dan tak tersentuh kemajuan jaman.

Konon katanya, Baduy Dalam baru mulai terbuka untuk wisatawan lokal di 15 tahun belakangan. Sebelumnya? Jangan harap siapapun orang luar bisa masuk apalagi bermalam di Baduy Dalam.

Tidak terlalu jauh dari ibukota tapi cukup melelahkan untuk bisa mencapainya, Baduy Dalam terletak di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten (Berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung). Naik kereta ekonomi dari stasiun Duri di jam 8.20 pagi dengan harga tiket 2ribu rupiah, jangan berharap ketepatan waktu dan kenyamanan. Lebih baik naik kereta Patas Merak dengan harga tiket 5ribu atau kereta RangkasJaya seharga tiket 15ribu. Perjalanan hampir 3 jam dengan kereta ekonomi membawa kami ke stasiun Rangkasbitung. Perjalanan dilanjutkan dengan menyewa angkot menuju Desa Ciboleger yang ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Bersiap diajak ugal-ugalan sama supir angkot karena jalanan yang masih rusak. Mungkin kebanyakan dikorupsi. Mungkin ya, mungkin.

Tiba di Desa Ciboleger, ternyata Alfamart masih bisa ditemukan. Nah di sinilah kami membeli beras, mie instan dan sarden untuk bekal kami makan malam dan makan pagi.

Beristirahat sejenak di Baduy Luar sambil menyantap makan siang karena energi ekstra akan dibutuhkan untuk perjalanan yang sesungguhnya menuju Baduy Dalam. Di kampung-kampung Baduy Luar ini pula kita bisa menengok hasil kerajinan tangan warga setempat. Ada kain tenun, pakaian khas Baduy, tas rajut, dan berbagai macam asesoris. Bolehlah colong start belanja oleh-oleh sebelum perjalanan dimulai karena kami tidak akan melewati kampung ini lagi saat perjalanan pulang.

Baduy Luar yang sudah lebih modern karena bersedia menerima pengaruh dari luar bisa dikunjungi siapa saja. Mau menginap di kampung ini pun boleh.

Banyak teman-teman yang memperingatkan saat mereka tahu saya akan ke Baduy Dalam, “Siap-siap lho. Jalan kaki 5 jam!” Agak jiper memang, tapi malu sama ransel kalau mundur sebelum berjuang. Saya dan Fian (satu-satunya yang saya kenal dalam rombongan 20 orang ini) memutuskan untuk berjalan lebih awal dengan ditemani kang Sangsang Nadi.

photo by GoPro Fian

photo by GoPro Fian

Memang paling enak berjalan jauh itu bareng orang yang jalannya agak cepat. Semacam motivasi lah. Untuk mencapai Baduy Dalam, kami melewati 7 kampung yang ada di Baduy Luar. Di wilayah ini, kami masih diperbolehkan foto-foto. Objeknya memang cantik! Rumah-rumah khas Baduy Luar, anak-anaknya, perempuan-perempuan cantiknya yang sedang menenun, dan tata letak rumah-rumahnya. Katanya jarak dari Baduy Luar ke Baduy Dalam adalah 12 km. Terdengar tidak terlalu ekstrem memang. Tapi ketika 12 km itu terdiri dari banyak tanjakan, sedikit turunan, dan beberapa sungai, rasanya seperti berjalan dari Jakarta ke Bogor.

Sudah lebih dari setengah perjalanan. “Sedikit lagi mulai masuk Baduy Dalam”, Kang Sangsang menghibur kami. Dan ini adalah jembatan perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam. Begitu melewati jembatan ini, kami sudah tidak diperkenankan lagi mengambil gambar. Iya, konsentrasi penuh memaknai kehidupan ala Baduy Dalam tanpa sibuk jeprat jepret.

Photo by GoPro Fian

Dengan peluh, akhirnya kami tiba di Baduy Dalam, tepatnya Kampung Cibeo. Melongok jam tangan, dan cukup terkejut karena kami berhasil berjalan dalam waktu 3 jam. Setengah kekuatan dari orang Baduy Dalam nya sendiri yang terbiasa keluar/masuk dalam waktu 1,5 jam.

Rombongan kami tiba terlalu sore, bahkan sudah menjelang malam. Badan yang super lengket memaksa kami mandi di sungai dalam kegelapan. Iya, malam di Baduy Dalam tanpa lampu kecuali cahaya di dalam rumah masing-masing. Mandi di sungai tanpa diperbolehkan menggunakan sabun dan bahan kimia lainnya, saya cukup bisa menikmatinya. Pasalnya, ini kali pertama saya betul-betul mandi di sungai. Mandi ya, bukan bermain air. Jangan khawatir karena area pria dan wanita dipisah. Berbekal sedikit cahaya dari lampu senter, mandi malam di sungai pun ditemani beberapa cahaya kecil dari kunang-kunang. Saking gelapnya, kami tidak tau bentuk sungai dan airnya seperti apa. Hanya meraba-raba dan menerka. Dalam hati, “kita lihat besok pagi”.

Malam hari setelah disuguhi makan malam bawaan kami tadi, kami berbincang dengan beberapa dari mereka yang menjadi guide kami. Seru. Banyak sekali informasi baru tentang mereka dan hidup mereka sebagai Baduy Dalam.  Mulai dari orang-orangnya, kepercayaannya, adat pernikahannya, pantangan-pantangannya, bahkan soal percintaan ala warga Baduy Dalam. Obrolan kami dengan mereka, ada disini.

Terlalu lelah, malam minggu di Baduy Dalam tidak bisa kami habiskan dengan berbincang-bincang terus. Lebih cepat tidur lebih baik karena besok pagi kami sudah harus meninggalkan Baduy Dalam.

Pagi di Baduy Dalam. Udara dingin sudah terasa sejak malam. Bagi saya yang tidak membaca jaket, ya lumayan perjuangan menahan dinginnya. Berniat mandi lagi di kali pagi itu tapi urung. Sudah tidak memungkinkan karena langit sudah terang. Bisa jadi tontonan publik, juga sudah banyak ibu-ibu Baduy yang mencuci-cuci di sungai. Anak-anaknya juga sudah memulai ritual pagi alias pup. Dan entah pria-pria di ujung sana juga mungkin sedang melakukan ritualnya.

Masih ada waktu sebentar untuk berkeliling kampung yang tidak terlalu besar itu. Ada sekitar 98 rumah, 143 kepala keluarga dan 600 penduduk di Kampung Cibeo ini. Rumah di Baduy Dalam lebih sederhana dibanding Baduy Luar. Yang menarik adalah satu area yang tidak boleh kami masuki, yaitu area rumah Pu’un atau ketua adat. Pu’un juga memiliki area sungai sendiri.

Di Baduy Dalam sudah ada penjual kerajinan/oleh-oleh yang berkeliling dari rumah ke rumah. Sabtu dan minggu memang waktu dimana banyak wisatawan berkunjung dan bermalam di Baduy Dalam. Saya memilih untuk membeli oleh-oleh langsung dari keluarga tempat kami bermalam. Mereka punya kain tenun, pakaian khas Baduy, gula aren dan madu asli.

Saatnya pulang karena orang luar tidak diperkenankan berada di kampung Baduy Dalam lebih dari 24 jam, termasuk Baduy Luar.

Photo by GoPro Fian

Photo by GoPro Fian

Kami menempuh jalur yang berbeda saat perjalanan pulang. Tidak lebih dekat dan lebih mudah medannya. Sama saja, ditempuh dalam waktu 3 jam. Jalur yang berbeda kami tempuh demi jembatan akar dan sejenak menceburkan diri di sungai ini. Segar sekali!

14 jam berada di Baduy Dalam sudah cukup membuka mata saya akan kehidupan lain yang ada di bumi nusantara ini. Kemudian sebuah tanya muncul, “What would I do now if I was born as Baduy Dalam?”

Jalan bareng Agus, anak asli Baduy Dalam

Jalan bareng Agus, anak asli Baduy Dalam

– #MembunuhAkhirPekan, Kampung Cibeo, Banten, 13 – 14 September 2014 –

Post Tagged with , , , ,

One Response so far.

  1. pemalu says:

    ini dia oleh-oleh seru yg ditunggu-tunggu.
    terima kasih kak ellie untuk ceritanya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *