Buying Experience: Kereta Bandara Kualanamu Medan

1,5 tahun yang lalu mendarat di Medan masih di bandara Polonia. Kali ini, meski hanya untuk transit sebentar sepulang dari Gunungsitoli – Nias, tapi setidaknya saya sudah ber-experience dengan bandara baru Kualanamu yang sedang ramai dipuji-puji itu. Yah, pantaslah kita harus bayar airport tax sebesar 60ribu jika dibandingkan dengan bandara Binaka Gunungsitoli yang hanya 10ribu dengan metal detector yang tak berfungsi.

Sudah seperti bandara internasional di luar negeri, bandara Kualanamu dipenuhi toko-toko dengan brand ternama, mulai dari restaurant, kafe, chocolate dan oleh-oleh, hingga apparel dan fashion. Saya pribadi lebih melihatnya seperti mall kelas A+.

Tapi sungguh bukan bandara-tampilan-mall yang jadi perhatian saya di Kualanamu. Saya sudah cukup kenyang dengan mall-mall yang berserakan di ibukota. Yang tidak boleh dilewatkan dari bandara Kualanamu adalah kereta bandaranya. Sepulang dari Nias, saya sengaja keluar dari bandara menuju Medan kota sekedar untuk menghabiskan waktu menanti penerbangan di malam harinya. Dan memang diniati juga untuk bisa merasakan sensasi naik kereta bandara yang bahkan ibukota pun belum punya.

Untuk mencapai railway station, saya cukup berjalan kaki dari Tip Top Restaurant melewati Lapangan Benteng dan jembatan gantung. Baru memasuki station, saya sudah dibuat terpukau. Bahkan belum tiba di bandara pun rasa rasanya sudah seperti berada di bandara. Petugas ticketingnya ramah berkualitas. Nggak cuma jual beli tiket, petugas akan dengan senang hati menginformasikan kereta selanjutnya yang sesuai dengan flight kita, sekaligus menginformasikan estimation time arrival (ETA) di bandara.

Saat menanti keberangkatan, area tunggu station dibuat begitu nyaman. Salah satunya kita bisa nongkrong cantik di kedai kopi setarbak. Begitu kereta memasuki station, kita baru diperkenankan masuk ke peron. Jangan takut jadi orang udik karena fasilitas yang serba modern dan canggih ini. Petugas station yang cantik dan cakep akan selalu siap membantu.

Dengan harga tiket 80 ribu (Juni 2014), pengalaman dan perjalanan dari kota Medan menuju bandara ini sungguh menakjubkan. Jadwal keberangkatan yang pasti dan ketibaan yang tepat waktu menjadi nilai penting, terlebih bagi para pejalan bisnis. Kalau perjalanan super nyaman dengan AC, reclining seat, wifi dan audio visual seperti ini sih, 30 menit dirasa terlalu singkat ya. Rasanya masih ingin bernorak ria di dalam gerbong kereta.

Dioperasikan oleh Railink, kereta api bandara ini mulai beroperasi pada 25 Juli 2013 bersamaan dengan beroperasinya bandara Kualanamu. Sebagai bandara terbesar kedua setelah Soekarno-Hatta, tak lantas fasilitas dan kenyamanannya pun jadi nomor 2. Justru saat ini, bandara Kualanamu jauh di depan melampaui bandara ibukota dalam hal fasilitas dan kenyamanan. Ayo ibukota, jangan mau kalah!

Medan, 23 Juni 2014

One Response so far.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *