Cantiknya Kawah Ijen Pagi itu

Jumat, 4 April 2014 – 2.30 pagi dini hari. Udara super dingin menemani kami para pemburu lukisan alam. Rasa kantuk dan lelah luar biasa tak menyurutkan semangat kami untuk menjadi saksi [tidak] bisu kuasa Tuhan.

Keraguan yang menyerang di titik awal trekking dimana tour leader mengingatkan siapa saja untuk mengenali dan menyadari kemampuan diri, untuk tidak memaksakan diri, jika memang dirasa tak mampu. Iya, malam itu saya agak ragu karena merasa badan sedang tidak fit. Menjadi solo traveler diantara rombongan sekaligus menjadi orang asing diantara orang asing lainnya menambah keraguan itu. Apa yang terjadi saat nanti saya tak sanggup melangkah dan tak seorang pun peduli.

Entah bisikan apa yang terlintas di telinga saya. Bisikan itu meyakinkan saya untuk terus berjalan tanpa henti. Untuk percaya pada kemampuan diri sendiri. Untuk percaya bahwa Tuhan akan melindungi saya.

Trekking sejauh 3 km saya tempuh dalam waktu 2 jam melalui jalur yang cukup aman untuk pendakian. Durasi trekking 2 jam itu dirasa normal bahkan saya termasuk orang-orang dengan langkah cepat. Dan puji syukur, langkah kaki ditengah hembusan angin yang dingin dan kencang mengantarkan saya pada keelokan Kawah Ijen di ketinggian 2386 mdpl yang tak terlupakan. Sungguh.

Danau kawah asam yang terletak di puncak Gunung Ijen, pagi itu tampil cantik-secantiknya. Cuaca sejak semalam yang bersahabat membuktikan kebesaran Tuhan akan mahakarya-Nya. Saya pribadi, selalu menjadikan moment seperti ini sebagai cara lain berkomunikasi dengan-Nya :’)

Kawah Ijen yang menjadi salah satu kawah paling asam terbesar di dunia memiliki daya tarik yang akan membuat siapapun yang memandangnya merasakan kedamaian. Pagi hari saat langit sedikit demi sedikit mulai terang adalah saat yang paling tepat untuk menikmati pertunjukan alam ini. Ketika matahari masih bersembunyi di balik gunung dan mengirimkan sedikit cahayanya, saat itulah warna kemilau hijau keemasan perlahan muncul dan menyempurnakan lukisan alam ini. Warna hijau tosca yang sempurna dikelilingi oleh dinding kaldera yang juga rupawan seketika menghapus semua lelah yang dirasa.

Sebelum menyaksikan keindahan itu semua, jika beruntung, kita akan disajikan si fenomena api biru atau blue fire. Fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong Kawah Ijen. Karena konon api biru ini hanya ada 2 di dunia dimana yang satu lagi ada di Islandia. Jadi, tak perlulah jauh-jauh ke Islandia untuk dapat menikmati suguhan si api biru. Sayang disayang, kamera smartphone tak sanggup menangkap kecantikan si api biru. Tak mengapa karena saya sudah menyimpannya dengan baik dalam ingatan.

Selain keelokan Kawah Ijen dan Blue Fire, di atas sana, mata kita akan tersita pada mereka penambang belerang. Kawah Ijen merupakan tempat penambangan belerang terbesar di Jawa Timur yang masih menggunakan cara tradisional.  Dan tahukah kalian berapa rupiah yang mereka dapat dari pekerjaan dengan taruhan nyawa itu? Rp 700 per kg. Bayangkan, mereka naik turun gunung dan menambang belerang di tengah bahaya panasnya air kawah yang mencapai 200 derajat celcius. Mungkin atas alasan itu pula mereka jadi sedikit “matre”. Bukan tanpa alasan saya berkata demikian. Terang saja, saat saya minta ijin mengabadikan moment ke salah satu dari mereka, seketika itu juga mereka meminta “Rupiah”.  What can I say?

Meski demikian, vitamin mata yang saya dapatkan pagi itu sudah lebih dari cukup. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *