First Time Climber: Mount Kinabalu is a Mistake

I would say it was a mistake.

Untuk first time climber seperti saya, dengan sombong dan songongnya langsung menyambangi salah satu gunung tertinggi di Asia Tenggara dengan ketinggian 4,095 mdpl ini adalah sebuah kesalahan. Bukan kesalahan yang fatal, tapi cukup fatal. Dan masih bisa menulis cerita ini pun patut disyukuri.

Berawal dari hanya sebatas ajakan (yang berakhir dengan “I managed almost everything”), saya jawab ajakan mendaki Kinabalu dengan anggukan. Padahal nggak tahu banyak tentang Kinabalu.

Cari-cari info dari internet, baru ketauan modal mendaki Kinabalu cukup besar cenderung mahal. Paket mendaki 3D2N langsung dari sole operatornya, Sutera Sanctuary Lodge seharga RM 792 (harga Oktober 2014) dan harga terbaru 2015 adalah RM 800. Harga ini tergolong murah karena kami booking langsung di sole operatornya SSL, yang konon harus booking 6 months in advance. Dan memang terbukti agak susah mendapatkan climbing permitnya yang terbatas itu. Ada beberapa travel agent yang menawarkan paket Climbing Kinabalu juga, dan nggak perlu booking jauh-jauh hari. Tapi harganya lumayan jauh lebih mahal. Bisa sampai RM 1000-an. Harga RM 792 tadi include climbing permit, akomodasi, meals, dan insurance, tapi belum termasuk guide fee, transport dari Kinabalu Park ke Timpohon Gate (two way), entrance fee ke Kinabalu Park, entrance fee di Timpohon Gate, dan porter. Diitung-itung ya lumayan banget sih budget trip kali ini.

Done with the budget, deal with it, sekarang jalani dan nikmati saja apa yang sudah kami bayar. Kami cukup percaya diri dengan apa yang sudah kami bayarkan. You pay what you get.  Dan ternyata memang benar adanya. Kami amazed dengan fasilitas yang disediakan untuk para pendaki. Bagi 2 rekan seperjalanan yang notabennya pendaki professional, mereka pun dibuat kagum dan kikuk karena kok ternyata mendaki bisa jadi semewah ini.

Day 1:

Bertolak dari Kota Kinabalu dengan kereta sewa menuju Kinabalu Park (RM20 per person), memakan waktu hingga 2 jam perjalanan. Tiba di Kinabalu Park, kami disambut dengan kabut yang tebal dan suhu yang dingin. Di titik ini saja, kami sudah berada di ketinggian 1,500an mdpl. Check in di SSL karena malam pertama kami harus menginap di Grace Hostel sebelum besok harinya kami mulai mendaki.

Bermalam di Grace Hostel, 1,500an mdpl

First impression diberi tempat menginap di Grace Hostel sudah cukup membuat kami norak bukan kepalang. Kamarnya bagus, shared bathroomnya pun bersih, living room-nya kece dan berasa milik kami pribadi.

Makan malam buffet di Balsam Restaurant

Kami dibuat lebih terlena lagi saat makan malam tiba. Saking terlena-nya, kami lahap semua yang tersedia meski harus terburu-buru karena jam operasionalnya hampir habis. I can see it in their eyes, kebahagiaan tak terkira atas makanan mewah saat pendakian. Tak mungkin terjadi saat mendaki gunung-gunung di Indonesia. Jadi, kami nikmati saja sambil tak kuasa menahan senyum merekah.

Bobok cantik di bunk bed untuk ber-4. Bersiap pendakian yang sesungguhnya esok hari.

Day 2:

Tidak akan mengulangi hal yang sama makan terburu-buru hanya karena kami telat seperti semalam, kami tiba di Balsam Restaurat untuk sarapan pagi tepat waktu. Kali ini kami bisa menikmati makan pagi kami dengan lebih santai, tapi masih dengan senyum merekah karena makanan mewahnya.

Packed lunch pun sudah disiapkan untuk kami bawa mendaki. Isinya 3 potong sandwich, air mineral dan 1 buah apel.

Sebelum mendaki, kami harus bereskan dulu urusan bayar membayar di SSL dan juga climbing permit berupa name tag. Guide fee sebesar RM 175 untuk 4 pendaki (return trip), RM 34 untuk transport dari Kinabalu Park – Timpohon Gate – Kinabalu Park dan porter if needed. (well, we do not need a porter)

Jarak 4 km dari reception SSL di Kinabalu Park ke Timpohon Gate sebetulnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Itu kalau mau berhemat RM 34. Tapi from the very beginning kan kami sudah terlalu dimanja dengan pendakian ini, jadi naik mobil lah!

Selamat datang dan selamat mendaki dari start point Timpohon Gate.

Disini kami masih harus membayar conservation fee sebesar RM 15 per person. Selain Timpohon Gate, ada alternative lain yaitu via Mesilau Gate. Tapi jaraknya sedikit lebih jauh.

8.30 waktu setempat kami memulai pendakian. Semangat masih 45. Apalagi kami sepakat untuk saling menyemangati dengan iming-iming buffet enak di atas sana. Karena memang katanya kami harus tiba di check point Laban Rata  tidak lebih dari jam 5 sore sebelum buffet ditutup. Okefain.

Tanjakan Sejauh 6 km Yang Tak Berujung

Sekitar 1 – 2 jam perjalanan masih dirasa OK. Lalu kemudian hujan turun membuat effort kami mendaki semakin terasa. Dan semakin lama semakin berat karena kami tidak menemukan bonus alias jalanan landai. Semua tanjakan. Bonusnya hanya berupa pondok/shelter tempat berteduh dari hujan dan istirahat sejenak.

Kira-kira begini jalur pendakiannya. Melewati 7 shelter dimana kami bisa sejenak mengistirahatkan kaki. Kandis shelter, Ubah shelter, Lowii shelter, Mempening shelter, Layang-Layang shelter, Villosa shelter, dan Paka shelter.

Photo by Alex

Kilometer demi kilometer dilalui dan semakin dirasa berat. Faktanya kami hanya harus trekking (yang semuanya tanjakan) sejauh 6 km untuk bisa sampai di check point Laban Rata di ketinggian 3,272mdpl. Tapi rasanya tanjakan-tanjakan ini tak berujung.

Sudah banyak didahului pendaki lain, ah masa bodo! Apalagi surprisingly, di Kinabalu ini kita akan mendapati banyak pendaki dari kalangan orang tua. Oma Opa ini sungguh hebat dan patut diacungi jempol. Maka, malulah kami yang masih terbilang muda tapi kebanyakan mengeluh.

Perjalanan terberat menuju Laban Rata adalah di 2 jam terakhir. Hujan masih mengguyur, tanjakan bebatuan dialiri air hujan yang cukup deras, licin, ketersediaan oksigen semakin menipis, nafas terengah-engah, dingin bukan kepalang karena hanya berbekal raincoat plastic murahan yang dibeli di pintu masuk Timpohon dengan harga RM6 (persis jas hujan yang dijual di Indomaret/Alfamaret dengan harga 5ribuan).

Di 2 jam terakhir menuju Laban Rata, thankfully saya bersama Alex. 2 pendaki sesungguhnya, Bayu, ada jauh di depan, sedangkan Liberty jauh di belakang. Dan 2 pendaki abal-abal ini pun saling menyemangati satu sama lain dengan caranya masing-masing. Yaitu muka pasrah dan hampir menyerah (which doesn’t help).

Bunk Bed dan Buffet Tertinggi Abad ini

8,5 jam sudah dan akhirnya mukjizat pun kami dapati. Tiba di Laban Rata di ketinggian 3,272mdpl!

Hidangan buffet dengan varian menu dan gizi yang komplit siap menyambut pendaki yang berhasil tiba di titik ini sebelum pukul 5 sore. Tak perlulah repot-repot mengeluarkan perlengkapan masak dan nesting, juga perbekalan logistik. Disinilah, buffet tertinggi yang pernah saya temui di ketinggian 3,272 mdpl, kami melahap semua yang disediakan. Rasa-rasanya sudah 3 hari belum makan.

Kami pikir perjuangan hari ini sudah cukup sampai disini. Tapi jangan sedih. Ternyata kami kebagian lodge/penginapan di Gunting Lagadan Hut yang letaknya di ketinggian 3,300 mdpl. Yang berarti kami harus dealing dengan tanjakan lagi yang ditempuh sekitar 20 menit (dengan kecepatan paling minim yang bisa saya lakukan).

Inilah, Gunting Lagadan Hut, bunk bed tertinggi abad ini, tepat di 3,300 mdpl.

Kamarnya cukup nyaman. Meski sempit demi penghematan oksigen dan non-heated, tapi kami yakin ini adalah tempat menginap paling nyaman di ketinggian 3,300 mdpl. Tak harus membangun tenda dan gelar sleeping bag.

 

Istirahat secepatnya karena besok kami harus summit di jam 2 pagi. Membayangkannya saja sukses bikin perut ini mules-mules.

Day 3

Alarm membangunkan kami ber-4 tepat di jam 2.00 waktu setempat. SSL menyediakan supper sebelum summit di restaurant Laban Rata. Which means kami harus turun ke bawah sana hanya untuk sedikit mengisi perut dan kembali ke atas sini untuk summit. Cerdik sedikit lah, kami sudah membekali diri dengan roti dan selai yang kami ambil dari restaurant kemarin malam agar kami tak perlu bersusah payah.

Ternyata perjuangan kemarin mencapai 3,300 mdpl was nothing compare to what you have for the summit. Tanjakan di menit-menit pertama bahkan sudah membuat saya sedikit khawatir. Oksigen yang semakin menipis, cahaya yang hanya dari headlamp masing-masing, dan dingin yang nggak bisa diajak kompromi.

The Longest 2 km in My Life!

Kami harus menempuh jarak 2.72 km untuk bisa mencapai puncak Low’s Peak di ketinggian 4,095 mdpl atau 2 km saja untuk mencapai 3,929 mdpl. Bagi saya, jarak itu adalah 2 km terpanjang seumur hidup saya. Selangkah demi selangkah [tepatnya satu tanjakan demi satu tanjakan], dirasa sangat berat. Tanjakan di anak tangga kayu masih okelah. Tapi begitu memasuki medan bebatuan tanpa tangga dan hanya ada tali besar yang terjuntai disana, I was like “Oh God, now what???” Dan medan bebatuan dengan kemiringan yang fenomenal itu bukan hanya asesoris pendakian yang cuma sedikit, tapi seakan tak berujung.

Jika medan seperti itu dirasa masih kurang menantang, cobalah mendaki via Ferrata dengan tambahan biaya sekitar Rp 2juta. And this is what you get!

Photo by Alex

Sedang meyakinkan diri sendiri dalam hati, “There is no way back lie. You have to keep moving!” saat itu pula terdengar teriakan guide “Ayo lebih cepat. Check point tutup di jam 5”. Maksudnya adalah, tidak ada pendaki yang akan diperbolehkan melewati check point terakhir di Sayat Sayat lebih dari jam 5. Saya tahu posisi saya saat itu masih jauh dari check point. Bahkan tanda-tanda check point pun belum terlihat. Ingin rasa dalam hati teriak di depan muka si guide. Niatan pun sudah diatur. Jika memang saya tiba di check point lebih dari jam 5 dan tidak diperbolehkan lewat, dengan segenap hati saya akan caci maki siapapun yang ada disana. *sabar, makin emosi makin tipis oksigen dalam tubuh

Tuhan bersama kami. Saya dan Liberty yang ada di posisi belakang dibandingkan 2 teman pendaki yang lain, berhasil mencapai check point dan lapor di jam 5.55. 2.5 jam baru bisa mencapai titik ini. Entah apa yang terjadi dengan para pendaki di belakang sana. Doa saya menyertai mereka.

Karena puncak bukanlah tujuan akhir

Perjuangan belum berakhir. Puncak masih belum terlihat. Mata sudah kunang-kunang, nafas sudah setengah hati, kaki sudah gemetar, tapi jalurnya masih pun minta didaki. 3.5 jam baru bisa mencapai titik ini. Rasanya sudah tidak sanggup lanjut. Masih ada sekitar 1 km lagi untuk bisa meraih puncak. Dan saya kurang yakin butuh waktu berapa jam lagi untuk 1 km terakhir. Peraturan menyebalkan lainnya selain jam tutup check point Sayat-Sayat adalah puncak Kinabalu harus clear dari para pendaki di jam 6.30. Ini mendaki gunung apa running competition sih? There is no way saya bisa mencapai atas sana dalam waktu 30 menit. Jadi saya putuskan untuk rebahan disini [yang akhirnya terlelap] sejenak. Tak ada tenaga sama sekali untuk mengambil kamera dari ransel. Bahkan tak ada tenaga hanya untuk menjawab pertanyaan “are you ok?”

Ketika oksigen kembali mengaliri tubuh, saat itu pula saya sadar bahwa moment ini harus diabadikan. One of my lifetime achievement which I never thought before.

Salah satu alasan yang membuat perjalanan ini special adalah… less photos. Ketika saya mencoba mengeluarkan kamera GoPro, ternyata takdir berkata lain. Kamera mungil itu mati. Meski saya cukup yakin baterai-nya masih full. Ah never mind.

Di titik ini, Liberty memberi selamat terakhir kepada saya dan Alex yang sudah berhasil melewati puncak-puncak tertinggi gunung di Indonesia seperti Kerinci, Rinjani, Semeru, Slamet dan puncak tinggi lainnya. [sesuai perjanjian awal ,dia akan memberi ucapan selamat setiap kali kami melewati ketinggian puncak-puncak itu]. Bukan maksud hati meremehkan teman-teman pendaki yang sudah muncak di gunung-gunung itu, maklum lah ya saya ini terlalu bahagia bisa sampai di titik-titik itu karena saya sendiri nggak pernah yakin bisa mendaki Rinjani, apalagi Kerinci.

Sedikit menyesal memang tidak bisa berada di titik 4,095 mdpl. Meski dalam hati saya yakin saya mampu mencapai puncak itu hanya jika tidak ada waktu yang mengikat. Tapi betul kata Liberty, “tidak semua gunung harus kita taklukkan puncaknya”. Ego masing-masing lah yang harus ditaklukkan. Dan puncak bukanlah tujuan akhir, melainkan kembali pulang dengan selamat, itulah tujuan kami semua.

Sementara itu, pendaki andalan kami, Bayu, sudah kembali turun karena sudah berhasil mencapai Low’s Peak. Dialah pendaki pertama di hari itu yang menginjakkan kaki di puncak, mengalahkan pendaki lain dari berbagai negara. Ah, cukuplah saya ikutan bangga menjadi bagian dari kelompok pendaki ini.

Climbing with strangers

Alasan lain yang membuat perjalanan ini special adalah teman-teman pendaki yang notabennya belum cukup saling mengenal satu sama lain.

Bayu, totally stranger bagi kami bertiga. Nyantol di kaskus dengan ajakan ke Kinabalu menggantikan 1 pax yang cancel. Masih muda, tapi pengalamannya mendaki sudah tak bisa diragukan. Sebut saja nama gunung di Indonesia. Mana gunung yang belum didaki? (masih bermimpi mendaki Cartenz). Dan pendakian Kinabalu ini adalah pendakian gunung pertama di luar Indonesia. Bravo!

Liberty, juga seorang pendaki professional. Hampir semua gunung di Indonesia sudah didaki. Tapi entah kenapa, usai pendakian Kinabalu ini katanya mau pensiun jadi pendaki. Merasa sudah tidak sehebat dulu mungkin. Ya benar saja, dia adalah 5 orang terakhir yang mencapai finish line saat turun dari Kinabalu kemarin dari total 200an pendaki karena lututnya bermasalah. Hmmm itu sih faktor U, om 😛 –> Ralat: yang bersangkutan minta dikoreksi. Bukan “pensiun jadi pendaki”, melainkan “The Last Summit Attack”. Baca aja curahan hatinya disini.

Alex, yang sama seperti saya, baru kali ini icip-icip mendaki gunung. Anak pantai yang sok-sokan mau menaklukkan ribuan mdpl. Meski dengan susah payah, tapi kami si pendaki abal-abal ini berhasil naik dan turun dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Ini trip kedua kami jalan bareng.

Saya sendiri, the prettiest di tim pendaki ini. Sama seperti Alex, first time climber yang sombong merasa bisa mendaki Kinabalu meski belum pernah mendaki sebelumnya. Tapi Alhamdulillah, where there is a will, there is a way. Prestasi terbesar saya adalah berhasil turun dan mencapai check out point dalam waktu 4 jam dari Laban Rata [Jangan tanya kabar lutut ini] Terima kasih untuk para pria pendamping hidup saya selama beberapa hari kemarin. Thanks for sharing the moments.

Singkat kata, climbing Kinabalu was a mistake for first time climber like me.

But it was a BEAUTIFUL mistake!

– Mount Kinabalu, May 3 – 5, 2015 –

More pictures from Kinabalu Trip can be found here. (available soon)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *