Gili Trawangan Can Be a Good Idea

“Lombok is always a good idea”, sapa billboard di bandara International Lombok.

Ini kali kedua saya mendarat di sini. Dan bagaimana mungkin saya belum pernah mengeksplor Lombok yang terkenal itu? Lombok yang konon terkenal hampir menyamai Bali. Apalagi belum pernah melirik sedikitpun Gili Trawangan. Nggak masuk akal karena ternyata saya dengan mudahnya jatuh cinta pada Gili Trawangan. Love at the first step di dermaga Gili Trawangan.

Selamat datang di Gili Trawangan

Selamat datang di Gili Trawangan

Mungkin selama ini belum tertarik Gili Trawangan karena kesan “tujuan wisata sejuta umat”.

“Males ah, rame banget pastinya”.

“Ah mainstream”.

“Lebih keren ke pulau tak berpenghuni. Berasa private island”.

Memang benar sih. Gili Trawangan ini tujuan wisata sejuta umat, terlebih bagi turis Australia. Dan memang cenderung padat, meski kemarin belum tiba “peak season”. Tapi begitu speedboat sewaan merapat di dermaga Gili Trawangan, dan mata ini disambut dengan kesibukan turis yang lalu lalang dengan outfit pantainya; mereka yang bersepeda dengan hati riang; mereka yang mencoba bernego dengan kusir cidomo (semacam delman); dan mereka dengan ransel-ransel besar yang tampak kebingungan karena baru tiba seperti kami, entah kenapa tanpa disadari senyum saya merekah.

“Oh ini toh Gili Trawangan. Where have I been?”, bisik saya dalam hati.

Selama ini, terlalu sibuk membuat diri terpana akan pulau-pulau cantik yang sepi tak berpenghuni, bahkan belum terjamah. Mungkin itu sebabnya, ketika menemukan nuansa “hidup” seperti ini, saya pun merasa hidup. Berasa Rapunzel yang baru melarikan diri dari rumah pohonnya.

Jadi, kenapa Gili Trawangan adalah ide yang bagus? Berikut 9 alasan kenapa saya ingin kembali ke Gili Trawangan dan menghabiskan waktu minimal 2 minggu disana:

1. Bebas polusi udara dari kendaraan bermotor. Yang ada hanya polusi udara dari asap pembakaran sate dan seafood, juga asap rokok. Bayangkan saja, bagi orang-orang seperti kami yang tinggal di kota metropolitan dan metropolutan, yang setiap harinya menyaksikan ribuan kendaraan bermotor yang berjubel, lalu seketika pemandangan heboh tadi berganti dengan orang-orang berjalan kaki, bersepeda dan ber-cidomo. Sungguh menyenangkan!

2. Pulau dengan panjang 3 km dan lebar 2 km ini tak diragukan keindahannya. Pantainya bersih, berpasir putih, dan air lautnya yang bergradasi hijau juga biru. Karena pulaunya cukup kecil, sangat memungkinkan untuk berjalan kaki atau berolahraga lari pagi atau lari sore mengelilingi pulau ini.

3. Sunrise dan Sunset. Keduanya bisa kita nikmati dengan mudah setiap harinya. Untuk menikmati sunrise, bersiaplah di sebelah timur pulau atau area yang paling padat penduduk (central turis). Dan untuk menikmati sunsetnya yang indah, temukan spot paling nyaman di sisi lain pulau, sisi belakang pulau dari central. Spot yang cukup terkenal adalah Hotel Ombak Sunset yang lagi happening dengan ayunannya itu. Bisa juga di The Exile. Atau sebenarnya sih semua tempat adalah spot sempurna untuk menunggu sunset.

Spot menikmati sunrise di The Exile

Spot menikmati sunset di The Exile Bar

4. Malam panjang di Central – Gili Trawangan. Central atau Pasar Seni Gili Trawangan akan berubah menjadi sangat hidup pada malam hari. Café, bar, dan kios berjejer di sepanjang pantai tengah Gili Trawangan. Musik mereka saling bersahutan mencoba menarik pengunjung. Beberapa tempat menawarkan live music. Ada pula outdoor cinema dengan tiket nonton 50ribu sudah termasuk pop corn. Saat belum terlalu malam, nikmati live music di Tir Na Nog Irish Bar yang memainkan lagu-lagu top 40, bisa jadi pilihan menghabiskan malam.

Tir Na Nog Irish Bar

Tir Na Nog Irish Bar

Jika menginginkan pesta yang lebih hidup, datang saja ke Sama Sama Reggae Bar. Semakin malam akan semakin hidup. Kurang cocok sih buat yang nggak suka kehidupan malam seperti saya.

Jalan-jalan aja can be an option

Jalan-jalan aja can be an option

5. Gili Trawangan Food Night Market. One of my favorite dari Gili Trawangan adalah Food Night Market-nya. Bagaimana serunya berkumpul dengan semua turis di satu tempat sambil menikmati masakan lokal khas pesisir pantai. Bagaimana juga serunya memperhatikan interaksi pedagang lokal yang cukup jago berbahasa inggris menjajakan dagangannya ke pengunjung. Dan juga serunya makanan yang dijajakan. Saya suka sate-sateannya. 3 malam berturut-turut saya menikmati makan malam disini tanpa rasa bosan.

Favorite buffet di Food Night Market

Favorite buffet di Food Night Market

6. Snorkeling, Marine Walk, Diving, etc. Konon katanya kehidupan bawah lautnya Gili Trawangan dan 2 gili lainnya, yaitu Gili Meno dan Gili Air menakjubkan. Sayangnya di kesempatan kemarin, saya belum nyicipin bawah lautnya. Lebih memilih buka laptop di café pinggir pantai dan berkarya (baca: standby kerjaan). Tapi next time pasti nyemplung deh. Banyak pilihan trip bawah laut yang ditawarkan, mulai dari snorkeling trip ke 3 Gili, Marine Walk, Diving, dll.

Gili Trawangan

Gili Trawangan

7. Leha leha di manapun. Ide extend ke Gili Trawangan sepulang dari Makassar memang bukan untuk mengeksplor tempat ini, melainkan lebih untuk bersantai tapi dalam mode standby pekerjaan yang sudah beberapa hari belakangan sedikit terbengkalai.

Spot tepat di depan The Mengong

Spot tepat di depan The Mengong

Dan ternyata Gili Trawangan memang lokasi yang pas untuk berleha-leha. Entah itu berleha-leha sambil bekerja santai dan menulis yang disebut dengan leha-leha produktif, atau leha-leha with doing nothing. Both are feeling so good! Di Gili Trawangan, saya bisa dengan mudah menemukan spot untuk berleha-leha. Satu hari saya bekerja di Karma Kayak. Satu hari lainnya saya bekerja di The Exile Bar. And so many options out there with free wifi connection.

Comfort spot di The Exile

Comfort spot di The Exile

The Exile Bar

The Exile Bar

8. Backpack atau koper, can be arranged. Berhubung Gili Trawangan sudah sangat ramai turis, jadi tak perlu khawatir dengan urusan akomodasi. Banyak penginapan murah untuk kantong backpacker dan banyak juga pilihan resort bintang 4 dan 5 yang lebih cocok untuk mereka yang berbulan madu (atau turis berkantong tebal). Kami menginap di Abdi Resort di area Central yang harga sewanya Rp 200rb/malam (harga temen).

Abdi Resort

Abdi Resort

 

9. Nice local people. Meski nggak punya banyak kesempatan berinteraksi dengan local people di Gili Trawangan, tapi perkenalan dengan geng The Mengong memberi kesan tersendiri. Walau penampilan mereka jauh dari kata rapi, percaya deh, mereka semua baik hati. Mampirlah ke basecamp mereka ini. Dijamin kalian akan disambut hangat. Nice to know you, Long and friends (temen-temennya Cumik).

The Mengong, Reggae Community

The Mengong, Reggae Community

Perjalanan yang sebetulnya tidak ada dalam rencana. Bertolak dari Bandara Sultan Hassanudin di Makassar yang seharusnya membawa saya kembali ke ibukota, namun justru mendarat di Lombok hanya karena bujukan. Eh ternyata, Gili Trawangan meninggalkan bekas di hati dan menyisakan rencana lain untuk kembali.

Thank you KurniaNoen, Cumik, Deri, and Lekat for giving me a good idea. A good idea just to relax, tanpa itinerary, tanpa mengejar sesuatu. Just to enjoy every second I have.

– Gili Trawangan, April 2015 –

One Response so far.

  1. kurnianoem says:

    lagii yuukk ke gili yuukk…seminggu leha2…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *