I’m in Love in Way Kambas

“Setidaknya punya tujuh puluh tahun.

Tak bisa melompat, ku mahir berenang

Bahagia melihat kawan yang berenang

Berkumpul bersama sampai ajal

 

Besar dan berani berperang sendiri

Yang aku hindari hanya semut kecil

Otak ini cerdas kurakit berangka

Wajahmu tak akan pernah ku lupa”

Demikian sepenggal cerita Tulus dalam mendeskripsikan seekor gajah yang terangkai indah dalam sebuah lagu berjudul “Gajah”.

Sejujurnya, saya bukanlah pecinta binatang. Saya terlahir bukan sebagai perempuan manis penyayang binatang, yang mukanya akan berseri-seri saat bertemu kucing ataupun anjing lucu di jalanan. Baru jatuh cinta dengan ikan mas koki yang sudah setahun belakangan ini [surprisingly] bertahan menemani saya. Itu sudah.

Dan baru sadar telah tergila-gila dengan pesona seekor gajah yang saya temui di Way Kambas minggu lalu. Berawal dari penasaran kenapa seekor gajah bisa memberi inspirasi sebegitu besarnya untuk seorang penyair, saya mencoba memahami setiap kata dibalik lagu itu. Dan ternyata hewan besar ini memang mengagumkan. Meski saya tidak melalui pengalaman masa kecil seperti Tulus, yang justru kebalikannya, dimana dulu saya termasuk anak-anak kuntet yang selalu disuruh berbaris paling depan.

Gajah, the largest living land mammals on earth, yang konon katanya termasuk makhluk yang setia juga cerdas. Badannya yang super besar dan berat, tapi tak lantas membuat mereka bergerak lambat. Jika dibutuhkan, mereka bisa sangat cepat.

PicsArt_1424742014410

Berbadan besar tapi tak pernah terdengar suaranya. Lantas bagaimana cara mereka berkomunikasi satu sama lain? Ternyata gajah berkomunikasi dengan menggunakan suara infrasonik yang tak terdengar oleh telinga manusia. Suara infrasonik ini memungkinkan gajah berbicara menggunakan bahasa khusus dengan gajah lain yang terpisah sejauh 4 km. Bahkan, dalam keadaan cuaca baik, mereka bisa berkomunikasi dalam jarak 10km! Dan menariknya, saat saya di Way Kambas kemarin, ada rombongan pengunjung domestic dan juga mancanegara yang konon katanya bisa berkomunikasi dengan mereka. Lho kok menarik sih. Mbok ya saya mau diajari.

Meet Salmon, an adorable 24 year-old male elephant, salah satu dari sekitar 60an gajah yang menghuni Way Kambas saat ini. Meski di awal perjumpaan saya merasa agak takut karena menyadari ukuran dia yang super besar, toh hanya butuh waktu sesaat untuk bisa langsung jatuh cinta pada makhluk ini.

Salmon pula yang menemani saya berkeliling taman konservasi Way Kambas, mulai dari menyusuri hutan konservasi, membelah sungai yang cukup dalam, hingga diperkenalkan ke teman-temannya yang lain. Sebut saja Karmila, Rahmi, Agam, Roby dkk. They’re just adorable! Rasanya seharian bersama mereka pun masih kurang.

Baca-baca artikel tentang Way Kambas dan kegiatannya, sepertinya saya harus kembali ke sini dan menyempatkan menginap semalam untuk bisa tahu aktifitas pagi dan sore harinya menjelang sunset. Dan mungkin juga ikut memandikan mereka karena kata si pawang, mereka ini mandi 2x sehari layaknya manusia.

Sekilas tentang Taman Nasional Way Kambas (TNWK)

Taman Nasional Way Kambas diresmikan pada tahun 1985 yang merupakan sekolah gajah pertama di Indonesia. Dengan nama awal Pusat Latihan Gajah (PLG), namun semenjak beberapa tahun terakhir ini namanya berubah menjadi Pusat Konservasi Gajah (PKG). PKG ini diharapkan mampu menjadi pusat konservasi gajah dalam penjinakan, pelatihan, perkembangbiakan dan konservasi. Setiap gajah didampingi satu orang pawang yang bertanggung jawab penuh.

Berlokasi di ujung selatan Pulau Sumatera dan berjarak 110km dari kota Bandar Lampung, TNWK merupakan taman nasional tertua di Indonesia yang menempati lahan seluas 1.300 km².

 

Post Tagged with , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *