Ini Aceh, Serambi Mekkah

Pemakaian kain penutup kepala menandakan saya sedang berada di Aceh. Ada hawa yang berbeda memang begitu kaki menapaki tanah rencong ini. Hati mengingatkan, iya ini Aceh, Serambi Mekkah. Kota maju dengan syariah Islam yang menjadi aturan sehari-hari.

Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Tapi entah kenapa, hati ini senang tak terkira saat harus mengikuti aturan yang berlaku disana.

Bagi seorang muslim, yang nggak boleh ketinggalan saat di Banda Aceh tentu saja berkunjung ke Mesjid Raya Baiturrahman. Mesjid yang berdiri gagah di tengah kota ini, konon tetap berdiri tegar meski tsunami menghantam delapana tahun silam.

Siang itu, adzan duzhur berkumandang tepat ketika saya melangkah memasuki gerbang pintu mesjid. Seolah Tuhan mengundang saya untuk memasuki rumah-Nya yang cantik dan sowan barang sebentar saja.

Jujur, sebetulnya ada perasaan takut setelah mengambil air suci dan kemudian memasuki ruang ibadah. Takut apa? Entah, takut aja. Karena konon katanya saat kita di tanah suci Mekkah, kita akan mendapat balasan dari perbuatan kita. Dan mengingat Aceh ini adalah Serambi Mekkah, sontak perasaan takut akan balasan tadi pun menyerang. Iya, menyadari diri ini terlalu banyak dosa.

Namun ketakutan tadi sungguh tak beralasan. Toh kebaikan justru menghampiri saat saya yang seharusnya mengantri cukup panjang untuk mendapatkan mukena, eh justru ada ibu-ibu baik hati memberikan kain suci itu begitu saja kepada saya. Alhamdulillah, terima kasih. Bisa menyempatkan diri mengadu pada Sang Pemilik Semesta di masjid ini sungguh memberikan perasaan senang dan haru yang tak dapat diungkapkan. Indescribable!

Rumah Tuhan ini begitu indah dan cantik. Dari luar ataupun dalam. Dari depan maupun belakang. Rasa puas dan ketenangan batin saat menginjakkan kaki di sini membuat saya yakin untuk bisa segera menginjakkan kaki di tanah suci. Amin.

Aceh, 4 Mei 2014 

Post Tagged with ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *