Jangan Tunda ke Pulau Tunda

Pulau Tunda memang belum sepopuler pulau-pulau favorit di Kepulauan Seribu dan Laut Jawa lainnya. Tapi Pulau Tunda bisa jadi alternatif menghabiskan akhir pekan lho. Apalagi bila dibandingkan dengan pulau-pulau di Kep Seribu yang sudah semakin padat pengunjung dan banyak sampah itu. Perlu perjalanan yang sedikit lebih jauh memang, tapi tak apa lah. Demi mengintip Tunda yang mulai diomongin itu.

Pulau kecil yang terletak di Laut Jawa, sebelah utara Teluk Banten ini secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Serang, Banten. Perjalanannya memang cukup jauh. Dari ibukota, kita menuju terminal Serang dengan menumpang bis Jakarta – Merak. Dari terminal Serang, kita harus 2 kali lagi naik angkutan umum untuk bisa ke dermaga Karangantu. Nah dari Karangantu ini, kita bisa sewa perahu nelayan untuk mengantar kita langsung ke Pulau Tunda. Atau bisa juga menumpang KMP Tunda dari Karangantu tujuan Pulau Tunda yang jadwal keberangkatannya setiap hari jam 1 siang.

Terombang-ambing di laut Jawa selama lebih dari 2 jam, akhirnya kami tiba di Pulau Tunda. Beruntung, cuaca cerah ceria. Hanya ada satu desa di Pulau Tunda, yakni Desa Wargasara. Namun desa ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Kampung Barat dan Kampung Timur. Belum ada penginapan khusus pelancong di pulau ini. Satu-satunya pilihan adalah tinggal bersama warga lokal di rumah mereka. Dan tinggallah kami di Kampung Timur.

Dengan luas mencapai 300 hektare, Pulau Tunda dihuni oleh lebih dari 3000 jiwa. Mata pencaharian penduduk Pulau Tunda tentu saja mengandalkan hasil laut. Namun, jika Pulau Tunda semakin ramai wisatawan, bukan hal yang tak mungkin masyarakatnya akan berpenghasilan juga dari sektor pariwisata.

Sama halnya dengan pulau-pulau eksotis lainnya, tujuan mengunjungi Pulau Tunda adalah untuk menengok alam bawah lautnya. Perlengkapan snorkeling pun sudah siap. Bahkan kalau boleh dibilang “lebih dari siap” karena alat perang teman-teman trip saya kali ini sungguh kelas pro.

Sabtu, 30 Agustus 2014 – hari pertama di Pulau Tunda, kami sudah disambut riang oleh lumba-lumba yang tampak dari kejauhan lincah berenang-renang. Siang menjelang sore kami menceburkan diri di 2 spot snorkeling. Memang bukan spot snorkeling terbaik, tapi lumayan kok ada yang ditengok di bawah sana.

Melancong ke pulau kecil belum lengkap tanpa cerita senjanya. Bergegaslah kami ke Kampung Barat demi melepas sang mentari sore itu. Lumayan, tangkapan kamera smartphone-nya seperti ini.

Malam di Pulau Tunda cenderung sepi. Bahkan sinyal pun ogah mampir. Jadilah malam minggu kami habiskan bebakaran ikan di homestay.

Minggu, 31 Agustus 2014 – masih ada sedikit waktu untuk menceburkan diri lagi. Kami pun berhasil menandai 2 spot di sekitar Pulau Tunda. Spot-spot snorkeling di Pulau Tunda bisa dijangkau dengan perahu yang kita sewa yang jaraknya tidak terlau jauh dari dermaga.

Sebetulnya masih ada beberapa aktifitas lain yang bisa dilakukan di Pulau Tunda. Seperti diving, memancing dan jalan-jalan terlusur pulau. Waktu yang terbatas memaksa kami berpamitan dengan ibu dan bapak pemilik homestay, mas guide dan Pulau Tunda. Eits, jangan lupa #1Traveler1Book nya dulu kakak!

Share cost yang kami habiskan untuk 2 hari 1 malam di Pulau Tunda dengan 14 orang adalah 350ribu per orang. Memang lebih mahal dibandingkan open trip sebelah dengan 50an peserta. Tapi dijamin deh, ngetrip bareng 50 orang itu rasanya kek mana ya? Lebih seru bikin dan kumpulin massa sendiri. Nih, produk share cost kali ini, rombongan lenong yang kejar setoran. Heuheu… Nice to know you all!

Jadi, tunggu apa lagi? Jangan tunda ke Pulau Tunda! Temukan foto-foto Pulau Tunda lainnya di sini.

Pulau Tunda, Serang, 30 – 31 Agustus 2014

 

Post Tagged with , , , ,

One Response so far.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *