Jazz Masuk Desa ala Ngayogjazz

Karena musik jazz adalah milik semua tanpa mengenal kasta.

Di ibukota dan sekitarnya, kita harus menabung demi eksis di belantika panggung musik jazz ternama. Sebut saja Jak Jazz, Java Jazz, bahkan hajat panggung jazz kelas mahasiswa Jazz Goes to Campus pun bikin kantong bolong. Tak tanggung-tanggung, line-up artisnya bernama besar, baik lokal maupun mancanegara. Venue yang bergengsi dengan tingkat keamanan yang super ketat pun menjadikan pesta musik tadi seakan tak terjamah oleh kalangan tertentu.

Di Bromo ada juga panggung musik jazz dengan nama Jazz Gunung yang digelar tahunan dengan harga tiket yang nggak murah. Tapi menariknya Jazz Gunung menawarkan atmosfer yang berbeda yaitu menikmati jazz di ketinggian Bromo dengan suhu yang extremely dingin. [Kepingin ngerasain sih, tapi sayangnya tahun ini belum kesampean].

Lain Jakarta, lain Bromo, lain pula Jogja. Jogja punya kebanggaan panggung musik jazz yang nggak jauh-jauh dari kebersahajaan ala Jogja, Ngayogjazz. Gratis alias nggak pake bayar puluhan ribu, ratusan ribu apalagi jutaaan rupiah. Line-up artisnya pun nggak kalah kece, lokal dan internarnasional. Tapi jujur, saya agak merasa kehilangan nama-nama musisi jazz yang wajib ada di setiap festival musik jazz. Nggak perlu juga usaha tampil heboh nan kece karena pada akhirnya nanti kamu akan berbecek ria dan lepek. Ini serius lho. Karena Ngayogjazz  selalu digelar di bulan November yang notabennya hujan sedang rajin-rajinnya mengguyur.

PicsArt_1385462363971

Yang paling menarik adalah venuenya. Ngayogjazz selalu mengajak pengunjung setianya untuk menikmati alunan musik jazz di kawasan perkampungan. Tiap tahun selalu berpindah dari desa wisata satu ke desa wisata lainnya. Tahun ini, Ngayogjazz digelar di Desa Wisata Sido Akur, Jethak II Sidokarto, Godean, Sleman, Yogyakarta. Iya, kami diajak menikmati jazz di kampung sesungguhnya bersama para penikmat jazz dalam maupun luar Jogja dan juga warga setempat. Ini yang saya maksud Jogja selalu bersahaja.

PicsArt_1385462200506

Bukan hanya unik menikmati musik [yang katanya] eksklusif itu di sebuah desa dengan cara yang sederhana, tapi bagaimana event besar dengan banyak sponsor dan media pendukung ini melibatkan dan memberdayakan potensi warga lokal. Seketika desa wisata Sidoakur menjadi ramai pengunjung dan warganya memanfaatkan moment tersebut untuk membuka lapak dagangan yang menguntungkan.

Ngayogjazz tahun ini digelar 16 November 2013  sebagai alternative malam mingguan bagi para romantic couples maupun jomblowan jomblowati yang berbahagia di Desa Sidoakur Sleman. 4 panggung utama (Panggung Wawuh, Guyub, Sayuk Rukun dan Srawung) plus 1 panggung tradisional siap menampung antrian artis yang cukup panjang. Sebut saja Monita Tahalea, Shadu Band, Idang Rasjidi, Dony Koeswinarno Quintet, Oele Pattiselano Trio, Kirana Bigband, Everyday Band, Keroncong Soesah Tidoer dan masih banyak lagi musisi jazz kebanggan milik bangsa. Nggak mau ketinggalan komunitas-komunitas musisi dan pecinta jazz dari berbagai penjuru tanah air, diantaranya Balikpapan Jazz Lovers, Solo Jazz Society, Jazz Ngisor Ringin Semarang, Komunitas Jazz Jogja, Gubug Jazz Pekanbaru. Suka produk import? Panggung Ngayogjazz pun memberi ruang tersendiri bagi para musisi internasional berikut: Baraka (Jepang), D’aqua (Jepang), Erik Truffaz (Perancis), Brink Man Ship (Swiss), Peni Chandrarini, dan Pellegrino (Amerika Serikat).

PicsArt_1384607763974

Meski waktu rehat [sesi prepare untuk setiap band yang akan tampil] dirasa terlalu lama.

PicsArt_1384607846555

Tapi jangan khawatir karena Ngayogjazz 2013 punya MC super kocak. Panggung Sayuk Rukun kebagian guyonan ala trio Lusy Laksita, Alit Jabangbayi dan Santi Zaidan. I just love their shirt. “Bukak Sithik Jazz!”

PicsArt_1385463597621

Tema-tema yang diusung Nyayogjazz sejak pertama kali digelar di tahun 2006 selalu menarik. Tahun ini, Nyayogjazz hadir dengan tema ““RUKUN AGAWE NGEJAZZ” yang maksudnya adalah kerukunan dalam musik jazz , dimana musik ini mengingatkan bahwasannya kita sebagai individu tak pernah lepas dari sebuah komunitas yang lebih besar yang membutuhkan keharmonisan. Yah kira-kira seperti itulah.

Semakin malam Ngayogjazz 2013 semakin ramai cenderung padat merayap di beberapa titik.

PicsArt_1385462531238PicsArt_1384608118970

Yang pasti, melarikan diri ke Jogja di akhir minggu demi Ngayogjazz sama sekali nggak bikin nyesel. Definitely will do it again next year! Successfully #MembunuhAkhirPekan sama jogjapetualang. Suwun nggih masnya.

PicsArt_1384598617910

– Jogjakarta, 16 September 2013 – 

 Note: Ada satu event musik jazz di ibukota yang cukup berbeda. It’s Ramadhan Jazz, panggung musik jazz dalam atmosfer bulan suci Ramadhan yang digelar di pelataran Mesjid Agung Cut Meutia dan free access untuk siapapun. Suka!

2 Responses so far.

  1. malmos says:

    Ahaaaaay!! Keren euy…

    *musti rajin2 berkunjung ke sini nih :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *