Kartu Pos dari Kepulauan Derawan

Libur panjang selalu menjadi pilihan para pelancong untuk packing dan berjalan menuju tempat-tempat yang diimpikannya. Tak terkecuali saya. Packing semanis mungkin, gendong ransel besar, kemudian melangkah dengan pasti ke destinasi yang sudah saya impikan sejak dulu.

18 April 2014 – 8.50 WITA saya menginjakkan kaki di Bandar Udara International Juwata, Tarakan. Iya, untuk pertama kalinya dalam hidup saya selama 27 tahun di dunia ini menginjakkan kaki di tanah Borneo. Jangan ditanya, rasanya ingin menangis terharu :’)

Long weekend itu bisa dibilang waktu paling tepat untuk traveling, tapi juga bisa dibilang sebaliknya, waktu yang paling tidak tepat untuk jalan-jalan. Karena apa? Karena semua orang pun bepergian. Semua orang pun ingin menikmati libur akhir pekan panjang di lokasi-lokasi mainstream itu. Jadi jangan kaget jika di tujuanmu nanti, akan banyak pelancong lain yang makin bikin meriah (baca: ramai cenderung padat)

Jalan keluar untuk menghindari libur long wiken yang seringnya beralih jadi disaster holiday adalah dengan menetapkan tujuan perjalanan ke tempat-tempat yang tidak terlalu mainstream. Atau kalau tidak, rencanakan detail perjalananmu sedikit lebih berbeda dari kebanyakan orang. Seperti perjalanan saya bareng @travelmateindo ke Derawan – Maratua – Kakaban – Sangalaki.

Bertolak dari Pelabuhan Tengkayu di Tarakan, sebuah speed boat sewaan membawa kami membelah lautan menuju Maratua. Maratua adalah tujuan pertama dan akan menjadi tempat singgah kami selama 2 malam. Iya, karena Derawan dipastikan penuh sesak oleh pelancong dari berbagai pelosok. Betul saja, setelah 4 jam terombang ambing di lautan, kami tiba di Pulau Maratua yang surprisingly peaceful tanpa terlihat ada rombongan pelancong lain yang akan menginap di desa ini. Seakan berteriak dalam hati, “yes, this is ours!” sambil loncat kegirangan.

Maratua, Surga di Pulau Terluar Indonesia

Selamat datang #travellie di Maratua, Kabupaten Berau :’)

Sore itu saat merapat di Maratua, kami disuguhi lukisan alam seperti ini.

Semacam welcome drink yang seketika menghilangkan haus dahaga. Maratua, karena Derawan masih bisa menunggu :)

Dan siapa sangka, kami tiba di Maratua tepat waktu. Seakan mentari menanti kami di Maratua untuk bisa mengucapkan selamat datang sekaligus berpamitan. “Till we meet again tomorrow morning”, seolah ia berbisik.

Lukisan Tuhan itu memang lebih terlihat di tempat-tempat seperti ini. *menikmatinya sambil ngeteh cantik di dermaga Maratua.

19 April 2014 – Selamat pagi dr Maratua. Entah bagaimana saya menjelaskan keindahan seperti ini :) *speechless

Hari ini, agenda kami adalah mengunjungi Nabucco Island yang masih termasuk di kecamatan Maratua, Berau, Kalimantan Timur.  Bagaimana mungkin sepanjang perjalanan dari dermaga Maratua ke Nabucco Island, airnya sejernih dan setenang ini?

Selamat datang di serpihan surga dunia, Nabucco Island. Cantiknya nggak main-main cenderung serius banget.

Memang terlihat jelas, selain keindahan asli khas alam kita, Nabucco Island terasa terlalu sempurna. Betul saja, perpaduan keindahan alami, fasilitas premium, resort yang tampak sangat mahal, turis asing yang berlalu lalang dan kebersihan yang hampir sempurna, tidak lain adalah karena resort sekaligus pulau ini dimiliki orang asing. Iya, pulau seindah ini yang ada di tanah air Indonesia dimiliki dan dikelola oleh seorang Germany. What would you say? What would you do? Berasa jadi turis di negeri sendiri.

Cukup puas sekaligus nyesek jalan-jalan di Nabucco Island, karena siapapun yang bukan tamu resort diharuskan membayar uang masuk seharga 50ribu. Yup, kalian bayar sejumlah uang ke orang asing karena telah menginjakkan kaki di tanah kalian sendiri. Sounds so wrong. Tapi begitulah cara kerjanya, memang.

Belum ke Maratua kalau belum menceburkan diri di jernihnya air khas Maratua.

Tak hanya snorkeling, kita juga bisa berenang bareng penyu-penyu raksasa, atau setidaknya berenang mengejar penyu-penyu itu. Yang nggak kalah seru adalah bermain dan berenang bareng anak-anak pulau Maratua.

Bahagia adalah menyaksikan anak-anak pulau bermain sebagaimana mestinya. No gadgets, no sophisticated toys.

Siang di Maratua, ada pilihan untuk berenang di Danau Hj Barang. Trekking selama 45 menit dengan jalur cukup melelahkan, akan membawa kita ke danau ini. Kita bisa minta diantar ke sisi lain dari danau dengan kapal kecil dan melihat keindahan alam Maratua dari sisi lain. Atau sekedar berenang berburu ubur-ubur.

Sore hari, tidak ada salahnya berjalan kaki sedikit untuk bisa melihat yang namanya Batu Payung. Konon, Batu Payung menjadi salah satu kebanggaan yang dimiliki Maratua.

Maratua adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Sulawesi dan berbatasan langsung dengan Malaysia (Sabah), ditinggali oleh Suku Bajao yang tersebar di 4 desa yang ada. Di salah satu rumah mereka lah kami menginap selama 2 malam. Berbaur dengan warga lokal dan merasakan sejenak hidup sederhana ala penduduk Maratua, tanpa listrik yang memadai dan tanpa sinyal yang seringnya menjadi penghambat. Penghambat bagi mereka yang mulai berbisnis dengan pihak di luar pulau, juga penghambat rindu. Entah rindu sanak keluarga yang sedang merantau, atau rindu kekasih nun jauh disana. Itulah mengapa mereka memiliki apa yang disebut DPR alias Dermaga Penyambung Rindu. Karena hanya di dermaga inilah, sinyal mengijinkan mereka berhubungan dengan siapapun di luar sana. Hanya di dermaga ini, tak ada tempat lain. Nggak heran, dermaga ini sungguh ramai di malam hari, terlebih malam minggu. Dermaga yang gelap gulita tanpa cahaya lampu, setiap malamnya akan terlihat kerlap kerlip dari cahaya handphone mereka yang merindukan seseorang. Heuheu…

20 April 2014 – Menjadi turis di negeri sendiri, tak berhenti sampai di Nabucco Island. Keesokan harinya, kami berkunjung ke Maratua Paradise Resort yang masih berada di sekitaran Pulau Maratua.

Resort nan cantik ini dikelola oleh Malaysian. Dan pengunjung non tamu resort diwajibkan membayar biaya masuk sebesar 30ribu. Bisa foto-foto di area tertentu dan bisa juga snorkeling.

Konon di area Maratua ini hanya ada 2 pulau kecil yang sudah dikelola dengan baik dari 14 pulau kecil yang ada. Dan iya, keduanya dikelola oleh orang asing. Jerman dan Malaysia. *tepuk tangan*

Berenang Bareng Ratusan Ubur Ubur di Kakaban

Selamat datang di Kakaban.

Apa yang paling menarik dari mengunjungi pulau ini tak lain adalah danau air payaunya yang konon hanya ada 2 di dunia. Danau Kakaban merupakan campuran air laut yang terperangkap di pulau ini ditambah rembesan air laut dari dalam tanah dan air hujan. Danau air payau ini hanya ada di Pulau Kakaban dan Kepulauan Micronesia di kawasan Tenggara Laut Pasifik. Jadi, berbanggalah kita memilikinya.

Ubur ubur yang hidup di dalam danau ini tidak menyengat sama sekali dan cenderung senang diajak bermain-main. Ratusan ubur ubur akan menemani kalian berenang kesana kemari. Jangan lupa untuk mengabadikan moment ini.

Ah, sungguh saya dibuat terpana dengan pemandangan di depan mata, melihat ratusan ubur ubur yang seakan sedang asyik berenang ke atas dan ke bawah. Terlintas di dalam hati, apa yah yang ada di pikiran mereka saat melihat kami manusia berenang dengan semangatnya dan mengganggu waktu santai mereka dengan mencoba mencomot dan memaksa mereka untuk tersenyum diajak berfoto.

Semoga saja mereka ikhlas kami ganggu. Yang pasti, jangan bawa mereka ke atas permukaan air.

[photo coming soon]

Masih di sekitaran Kakaban, ada spot snorkeling bagus banget. Dari atas speed boat, bahkan kita sudah bisa melihat indahnya karang-karang yang ada di bawah sana. Tapi yang paling menarik adalah adanya palung yang langsung menjorok terlalu dalam. Hati-hati saat bersnorkeling di sini. Baiknya pakai fin apalagi jika arus terasa cukup kuat. Pengalaman snorkeling tanpa fin di spot ini hampir membuat saya trauma karena arus yang cukup kuat mengharuskan saya berenang sekuat tenaga untuk bisa mencapai kapal.

Berburu Pari Manta di Sangalaki

Begitu jernihnya air laut di Pulau Sangalaki ini memungkinkan kita untuk bisa secara langsung melihat karang-karang indah di dasarnya. Terlebih saat air sedang surut. Kira-kira seperti inilah.

Pasir yang begitu putih dan langit yang sedang cerah cerahnya menyambut kami siang itu. Air yang sedang surut tidak memungkinkan kapal merapat ke pantai hingga memaksa kami berjalan cukup jauh di atas pasir putihnya.

Tak mengapa karena terbayar dengan pemandangan seperti ini.

Ada spot cantik buat yang ingin narsis berfoto, yaitu Pulau Gosong. Tapi sayang, karena siang itu terlalu panas, kami memutuskan untuk tidak berjalan menuju ke sana.

Berniat snorkeling di sekitaran Sangalaki demi berburu pari manta yang terkenal itu pun kandas karena sejauh pemantauan si supir kapal, dia tak melihat ada tanda-tanda kehadiran ikan yang sangat langka dan unik itu. Konon katanya, ikan pari manta biasanya bergerombol berenang-renang di perairan ini saat siang hari. Karena makanan mereka berupa plankton dan perairan di Sangalaki ini menawarkan zooplankton yang berlimpah, tak heran si pari manta berbondong-bondong ke area ini. Selain pari manta, kehidupan bawah laut di Sangalaki juga menyimpan biota laut lainnya yang tak kalah menakjubkan.

Oh ya, Pulau Sangalaki juga merupakan pulau peneluran penyu hijau. Kalau mau nontonin penyu-penyu unyu bertelur, baiknya menginap di pulau ini karena mereka bertelur di malam hari. Selanjutnya, campur tangan manusia dibutuhkan untuk mendukung kegiatan konservasi.

Menikmati Sunrise dan Sunset di Derawan

Derawan merupakan pulau yang paling terkenal di Kepulauan Derawan. Dan karena itulah, Pulau Derawan secara jelas tampak jauh lebih komersil dibandingkan dengan 3 pulau yang cukup di kenal lainnya, yaitu Maratua, Kakaban, dan Sangalaki.

Selamat datang di Derawan. Akhirnya…

Kesan pertama saat kapal mulai merapat ke salah satu dermaga disana adalah, padat. Iya, semacam pulau-pulau di Kep Seribu yang semakin terkenal, semakin padat dengan rumah-rumah ataupun penginapan. Kami menginap di Lestari, salah satu penginapan apung yang menyumbang kesan padat pulau ini. Dan pastinya menyumbang limbah air ke laut. Betapa tidak, pipa pembuangan air dari kamar mandi langsung dibuang ke laut dibawahnya. Hmm…

Meski demikian, masih banyak sudut di Derawan ini yang wajib dicapture karena memang menarik.

Apalagi moment senja ala Derawan. Sudah pasti haram dilewatkan.

Beruntung, dari dermaga penginapan Lestari, titik berburu senja kami dapat dengan mudah.

Keputusan untuk bermalam di Maratua selama akhir pekan sungguh paling tepat. Konon kata warga setempat, saat akhir pekan kemarin, terpantau ada sekitar 200an pengunjung menginap di Derawan ditambah 4 kapal yang merapat. Terbayang, kampung Derawan tidak akan selengang ini weekend lalu.

Saat kamu memiliki kesempatan untuk menikmati matahari terbit sekaligus terbenam di satu tempat, apa lagi yang mau kamu minta? Derawan menawarkan pengalaman berburu sunset dan sunrise dalam satu paket. Sunrise juga bisa dinikmati dari dermaga penginapan Lestari dengan penampakan seperti ini.

Namun, ia jauh lebih cantik jika dipandang dari Derawan Dive Resort.

Lukisan mahakarya matahari terbit di Derawan tadi cukup menjadi vitamin penyemangat untuk menutup perjalanan ini dan kembali ke ibukota. Haru akhirnya bisa menginjakkan kaki di tanah Borneo, menjadi saksi mata secara langsung hasil karya Sang Pencipta, mulai dari tanah yang diinjak, langit yang dijunjung hingga misteri bawah laut yang diselami. Setiap sudut dan keindahan yang tertangkap mata selama perjalanan 4 hari 3 malam ini menghasilkan gambar-gambar menakjubkan layaknya kartu pos. Kartu pos dari Kepulauan Derawan yang ingin saya kirimkan kepada siapa saja pengagum bumi nusantara.

Kartu pos –kartu pos cantik nan elok ala Derawan, Maratua, Sangalaki dan Kakaban Kalimantan Timur bisa ditengok disini.

Post Tagged with , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *