Kejutan dari Banyuwangi

The Sunrise of Java, begitulah tagline yang diusung pemerintah kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur untuk menarik minat wisatawan berkunjung. Cocok! karena Banyuwangi yang terletak di ujung paling timur Pulau Jawa adalah dimana matahari menampakkan diri lebih awal dari bagian lain di pulau ini. Ibaratnya, warga Bayuwangi sudah mulai bekerja saat warga ibukota masih terlelap.

Sudah sejak lama saya melirik Kawah Ijen dan Baluran. Semacam sudah masuk ke bucketlist. Dan bersyukur akhirnya bisa menginjakkan kaki di dua tempat itu sekaligus berkesempatan menikmati keindahannya yang alami. Tak hanya Kawah Ijen dan Baluran, ternyata ada destinasi lain yang juga wajib dikunjungi di Banyuwangi yaitu Taman Nasional Merubetiri. Aah… sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Lagi dan lagi #MeetTheStrangers untuk #MembunuhAkhirPekan. Open trip kali ini menawarkan destinasi-destinasi yang tidak mengecewakan sama sekali. Sebut saja Baluran, Kawah Ijen, TN Merubetiri dan beberapa spot menarik lainnya yang ada disekitar.

Sayangnya, Taman Nasional Alas Purwo tidak ada dalam daftar kunjungan kali ini. Padahal, Segitiga Berlian atau tiga titik pariwisata yang utama di Banyuwangi meliputi Kawah Ijen, Pantai Sukamade yang ada di TN Merubetiri dan TN Alas Purwo dimana terdapat Pantai Plengkung yang sudah mendunia. Pantai Plengkung dengan ombaknya yang diburu para surfer dunia ini lebih dikenal dengan sebutan G-Land.

Taman Nasional Baluran

Kami mengawali perjalanan ini dari Taman Nasional Baluran, salah satu taman nasional kebanggan Banyuwangi selain Merubetiri dan Alas Purwo. Sore itu kami tiba di Baluran, sedikit terlambat dari perkiraan memang. Tapi tak mengapa, toh kami masih punya kesempatan menangkap pemandangan ala Africa Van Java itu lengkap dengan langit birunya. Hanya saja memang musimnya bukan yang terbaik untuk menyaksikan cokelatnya padang savana Baluran dan tidak banyak satwa yang berkeliaran.

Baluran memiliki padang savana yang terluas di Pulau Jawa. Kira-kira, seperti inilah penampakan Savana Bekol di Baluran sore itu.

TN Baluran dari ketinggian gardu pandang…

Selain bisa menikmati keindahan padang savana, ratusan jenis flora dan puluhan jenis satwa yang dilindungi, kita juga bisa jalan-jalan menelusuri hutan mangrove dan Pantai Bama.

Kawah Ijen

2.30 pagi itu, udara dingin menemani kami para pemburu kecantikan alam. Trekking sejauh 3 km yang ditempuh dalam waktu 2 jam di jalur yang cukup aman mengantarkan kami pada keelokan Kawah Ijen di ketinggian 2386 mdpl yang sungguh tak terlupakan. Cuaca sejak semalam yang bersahabat membuktikan kebesaran Tuhan pagi itu. Saya pribadi, selalu menjadikan moment seperti ini sebagai cara lain berkomunikasi dengan-Nya :’)

Fenomena api biru atau blue fire yang terjadi di Kawah Ijen menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong. Bahkan konon api biru ini hanya ada 2 di dunia dimana yang satu lagi ada di Islandia. Jadi, tak perlulah jauh-jauh ke Islandia untuk dapat menikmati suguhan si api biru. Sayang disayang, kamera smartphone tak sanggup menangkap fenomena itu. Tak mengapa karena saya sudah menyimpannya dengan baik dalam ingatan.

Habis gelap, terbitlah keindahan tak terlupakan ala Kawah Ijen.

Tak perlu kamera pro dslr untuk menangkap keindahan Kawah Ijen pagi itu. Karena saking cantiknya.

Taman Nasional Merubetiri

Sekali lagi, Merubetiri adalah salah satu taman nasional kebanggan Banyuwangi selain Baluran dan Alas Purwo. Yang paling menarik dari petualangan kami ke Merubetiri adalah pengalaman road trip dengan 4WD mengarungi berbagai medan yang sungguh menantang. Lihat saja, dengan transportasi macho ini, kami melewati kawasan taman nasional lengkap dengan satwanya, jalur berbukit yang berkelok-kelok, jalan yang berbatu, bahkan mengarungi sungai. Lebih menantang lagi saat kami mengarungi medan yang sama di malam hari. Serasa safari night di hutan liar yang sesungguhnya. You’ll never know apa yang akan terjadi.

Di dalam kawasan TN Merubetiri ini, kita memiliki beberapa pilihan spot untuk ditengok. Sebut saja pantai Rajegwesi, Teluk Hijau, dan Pantai Sukamade.

Kalian akan disambut dengan sangat ramah oleh warga lokal dan pengurus Masyarakat Ekowisata Rajegwesi. Mereka sangat senang dikunjungi karena dengan begitu, kita sudah mendukung program model desa konservasi mereka yang secara langsung atau tidak langsung membantu potensi lokal. Di desa ini juga, warga lokal siap menerima kita bermalam di rumah penduduk alias homestay.

Seperti ini penampilan Pantai Rajegwesi…

Teluk Hijau

Hanya dengan berlayar selama 15 menit, kapal kecil ini mengantarkan kami ke surga tersembunyi milik Merubetiri. Kenapa tersembunyi? Karena memang letaknya yang berada di balik bukit dan di samping pantai Rajegwesi. Selain dengan kapal kecil, sebetulnya kita bisa mencapai surga ini dengan trekking.

Sungguh, kami dibuat takjub-setakjubnya oleh keindahan alami yang menanti untuk dipeluk. Tidak untuk dieksplor berlebihan tapi untuk dijaga kealamiannya.

Teluk Hijau atau disebut Green Bay memang menyuguhkan keindahan tiada tara dengan hijaunya warna air laut, lembutnya pasir putih, dan gagahnya bebatuan karang yang melengkapinya.

Pantai Sukamade

Pantai Sukamade terkenal dengan penangkaran penyunya. Dan beruntunglah kami karena diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari mereka yang turut melestarikan penyu. Ya meski dengan gerakan yang sangat kecil yaitu melepas seratusan tukik ke laut lepas. Tapi saya yakin, aksi sekecil itu akan membawa dampak positif demi keberlangsungan hidup penyu.

Usai melepas tukik, seolah Tuhan tidak henti-hentinya memberi kami bukti kuasanya. Kami disuguhi keelokan sunset ala Pantai Sukamade.

Pulau Merah / Red Island

Hari terakhir perjalanan di Banyuwangi. Tapi kok rasanya tak ingin melangkahkan kaki meninggalkan Banyuwangi. Namun dalam hati saya meyakinkan diri bahwasannya masih banyak tempat diluar sana yang juga menanti untuk ditengok. Ok.

Dalam perjalanan kembali ke Surabaya, kami mampir sejenak di Red Island ini. Pagi yang terik menambah cantik Pulau Merah yang luas ini.

Aah mata ini sudah diberi vitamin begitu banyak selama 3 hari belakangan. Sungguh, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustai? Terima kasih Tuhan karena masih mengijinkan saya untuk tetap melangkah dan menjadi saksi keagunganmu. Saya bersyukur. Sungguh.

Yang tertangkap kamera di Banyuwangi akhir pekan lalu bisa dilihat disini. Tapi percaya deh, yang tertangkap mata jauh lebih indah. Dan itulah kejutan dari Banyuwangi.

– Banyuwangi, Jawa Timur: 4, 5, 6 April 2014 –

Note: Terima kasih @FunAdventure_ atas kesempatannya bergabung di open trip ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *