Keriaan Sekaten Jogja

November tahun lalu saat berkunjung sejenak ke kota Jogja, saya dibuat penasaran dengan kesibukan yang ada di Alun Alun Utara. Sudah mulai terlihat kerangka-kerangka permainan ala pasar malam. “Asyik, mau ada pasar malam yah?”, seru saya. “Bukan pasar malam, itu nanti buat Sekatenan”, jawab jogjapetualang. Kemudian percakapan berlanjut dengan banyak pertanyaan seputar rasa ingin tahu saya tentang apa itu sekaten.

Warna Warni Sekaten Jogja

Warna Warni Sekaten Jogja

Jadi, Sekaten atau Sekatenan adalah tradisi masyarakat Jogja [dan juga Solo] untuk menyambut dan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat, Sekaten selalu diadakan setiap tanggal 5 bulan Mulud atau Rabiul Awal dan akan digelar selama 40 hari hingga tepat tanggal 12 Rabiul Awal, hari dimana Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Dulu tradisi ini digunakan oleh Sultan HB I untuk mengajak rakyatnya memeluk agama Islam.

6 Desember 2013, Sekaten Jogja mulai digelar. Tradisi Sekaten diawali dengan iring-iringan abdi dalem bersama dua set gamelan Jawa menuju Mesjid Agung. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan selama 7 hari berturut-turut hingga tanggal 11 Rabiul Awal.

Memantau kemeriahan Sekaten Jogja hanya dari linimasa, membuat saya menyimpan rasa ingin pergi. Ingin sekali. Libur natal pun saya manfaatkan untuk lagi-lagi kembali ke Jogja.

Seminggu di Jogja [21 – 27 Desember], saya berbaur di keramaian Sekaten Jogja hingga 3 kali. Tanpa menyicipi satu pun permainan yang ditawarkan, saya cukup senang hanya dengan berburu foto. Bonus ketagihan bakso tusuk bakar. Kira-kira, seperti inilah keriaan Sekaten Jogja yang tertangkap kamera saya.

Bianglala khas Sekaten

Bianglala khas Sekaten

thrilling kora kora

thrilling kora kora

Komedi putar

Komedi putar

Bianglala di malam hari

Bianglala di malam hari

Keliling dengan balon udara

Keliling dengan balon udara

Ombak Cinta

Ombak Cinta

Rumah Hantu ala Sekaten

Rumah Hantu ala Sekaten

Wajib diburu: awul awul

Wajib diburu: awul awul

Khas Sekaten, mainan Othok Othok

Khas Sekaten, mainan Othok Othok

gemerlap Kora Kora dan Bianglala di malam hari

gemerlap Kora Kora dan Bianglala di malam hari

Warna warni Bianglala dan Kora Kora

Warna warni Bianglala dan Kora Kora

Puncak acara peringatan Sekaten ditandai dengan Grebeg Mauludan diadakan hari ini, 12 Rabiul Awal. Kurang lebih sama seperti tradisi Grebeg lainnya, Gunungan yang berisi beras ketan, makanan, buah-buahan, sayuran dan hasil bumi lainnya yang sudah didoakan sebelumnya, diarak menuju Mesjid Agung untuk kemudian diperebutkan oleh warga. Tradisi ini yang menarik, menurut saya. Karena hasil rebutan Gunungan ini dipercaya membawa berkah dan juga kesejahteraan bagi siapa saja yang mendapatkannya.

Sebagai wisatawan, saya sangat menikmati kemeriahan Sekaten Jogja. Ibarat kata, saya belum pernah main ke pasar malam sebesar, seluas, dan seramai itu. Layaknya anak kecil yang baru pertama kali diajak ke pasar malam, saya bungah tak terkira. Tapi bagi beberapa warga [mungkin aspirasi sebagian besar warga asli Jogja], tradisi Sekatenan dirasa semakin kehilangan jati dirinya. Kudapan asli Jogja justru sulit di dapat. Kenapa musti ada kerak telor khas Betawi mejeng di Sekaten Jogja? Makanan-makanan modern pun lebih merajalela. Barang-barang dagangan simbok dan simbah yang sering kita lihat dijalanan tidak mendapat tempat di pasar rakyat ini. Tak ada tempat lagi karena lapak sudah dibeli oleh mereka yang mampu menjual barang-barang yang lebih modern. Mungkin saya salah. Mungkin saya tidak tahu.

Sekaten, hiburan untuk keluarga

Sekaten, hiburan untuk keluarga

Ohya, saya juga sempat mampir dan menyaksikan secara langsung Sekaten yang ada di Solo. Kurang lebih sama, hanya saja areanya sedikit lebih sempit.

Senja di Sekaten Solo

Senja di Sekaten Solo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *