Lampung dan Kawan-Kawannya

Lampung, provinsi paling selatan di Pulau Sumatera. Cukup dekat dengan ibukota Jakarta dengan berbagai pilihan transportasi umum. Bisa naik kapal ferry yang cuma butuh waktu 2 jam untuk menyebrang dari Merak ke Bakauheni (dengan catatan: diluar waktu tunggu kendaraan keluar masuk kapal dan pelabuhan ya). Atau bisa juga naik bus Damri dari Stasiun Gambir ke Bandar Lampung dengan harga tiket mulai dari 160ribu, tergantung kelasnya. Pilihan terakhir yang bisa diambil adalah lewat jalur udara yang cuma 30 menit itu. Tapi, ini mungkin pilihan terakhir kalo kamu mau dibully gegara backpacking ke Lampung naek pesawat. And it happened to me.

Siap #MembunuhAkhirPekan

Kamis, 19 February 2015, bertepatan dengan Hari Raya Imlek. Karena semua orang mengira saya keturunan Tiongkok dan sibuk minta angpao, baiknya saya melarikan diri. Masih dalam rangka #MembunuhAkhirPekan yang kali ini sedikit lebih panjang, saya terbang ke Tanjung Karang, Lampung. Iya iya, ke Lampung aja naek pesawat. [Dasar anak manja].

Bandara Raden Inten II, Lampung

Bukan tanpa alasan kenapa Lampung. Pertama, karena saya belum pernah menginjakkan kaki di kota Lampung. Kedua, semacam ada undangan khusus dari yang menguasai Lampung dengan tawaran jalan-jalan yang dijamin menyenangkan. Ketiga dan seterusnya, because I want to.

Hoping Island [Tanjung Putus – Pahawang]

Perkenalkan, Noen, seorang teman yang baru saya jumpai di trip Raja Ampat tempo lalu yang berhasil membujuk saya jalan-jalan ke Lampung.

Beberapa hari sebelum berangkat, dia kabari bagaimana kira-kira agenda perjalanan nantinya. Agak kurang pede ketika dia bilang kita mau ke Tanjung Putus bareng teman-teman freediver dari Lampung yang ternyata bukan cuma freediver, tapi komunitas #spearfishingLampung. Nah loh, jiper kan lo. Dan surprisingly, ada sekitar 20an orang lebih di perjalanan ini. And I was the only stranger in a group.

Perjalanan dari pelabuhan Ketapang, Padang Cermin ke Tanjung Putus memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sayangnya, Tanjung Putus siang itu lagi kurang bagus. Banyak limbah alam yang bikin kotor. Mungkin karena memang cuacanya lagi kurang oke, jadi banyak sampah merapat ke Tanjung Putus.

Karena kecewa batal nyemplung di Tanjung Putus, akhirnya kami putuskan putar arah ke Pahawang. Berlokasi di Dusun Jelarengan, Kecamatan Punduh Pidada Kabupaten Pesawaran Lampung, Pulau Pahawang menjadi salah satu dari sekian banyak destinasi favorit hoping island di wilayah perairan Lampung.

Pahawang, cocok bagi para pecinta wisata bahari karena selain snorkeling, bisa juga diving bahkan spearfishing. Nih, hasil kerja keras kami nih. [Baca: team #spearfishingLampung]. Tapi percuma juga sih, kalo nggak jadi bakar-bakaran ikan. Kasian ikan-ikan ini, mereka sudah rela mati padahal.

Pahawang was quite nice meski jujur saya terlalu ngantuk untuk berlama-lama nyemplung. Jadi mohon maaf karena kamera GoPro saya nggak bekerja maksimal.

Way Kambas

Jujur, apa yang membuat saya bersemangat ke Lampung tidak lain adalah Way Kambas. Mengagumi dan mendalami lagu Gajah yang ditulis oleh penyanyi favorit saya Tulus, sedikit demi sedikit saya cari tau tentang gajah, the largest living land mammals on earth.

Bukannya saya tidak pernah melihat gajah secara langsung, tapi saya kepingin sekali berinteraksi langsung tanpa jarak dengan hewan besar ini. Bisa hidup sampai 70 tahun, yang tidak jauh berbeda dengan umur manusia, gajah adalah hewan yang cerdas dan punya rasa empati yang tinggi ke sesamanya. Dan konon mereka adalah tipikal yang setia pada pasangannya. [Tuh, masa kalian kalah sih sama gajah?]

Jumat, 20 February 2015 – Agenda perjalanan hari ini khusus untuk mengunjungi Way Kambas yang lokasinya memang agak jauh dari kota. Terletak di sekitaran Sungai Way Kambas, pantai timur Provinsi Lampung, tepatnya di Kecamatan Labuhan Ratu dan berjarak sekitar 110km dari kota Bandar Lampung, Way Kambas bisa ditempuh dalam waktu 3 jam berkendara. Itu normalnya. Dalam kasus kami, perjalanan ditempuh lebih lama karena banyak mampirnya dan terlalu santai. Ditemani Noen, Cumi, Awe, Rey dan BangJer, 4 jam perjalanan membawa kami ke gerbang ini :’)

Sebagai salah satu taman nasional tertua di Indonesia, Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan luas sekitar 1300 km persegi ini dihuni oleh 60an gajah. Masing-masing gajah dijaga dan dilatih oleh satu orang pawang. Hmm, kalau ada kesempatan “Sehari Jadi Pawang Gajah”, I would love to do so 😀

Salah satu penghuni Way Kambas yang saya temui dan kebetulan mengantar saya berkeliling taman konservasi adalah Salmon, an adorable 24-years-old male elephant. Dengan membayar 75ribu, saya bisa lebih dekat dengan Salmon (dan pawangnya) untuk berkeliling taman konservasi selama kurang lebih 1 jam.

Sensasi menunggangi gajah menyusuri hutan konservasi dan membelah sungai membuat saya semakin mengagumi hewan ini. Dari yang awalnya takut-takut, sampai titik dimana kepingin memeluk hewan berbadan super besar itu. Selain Salmon, penghuni Way Kambas lainnya: Karmila, Rahmi, Agam, Robby, dkk juga successfully made my day!

Sama halnya seperti Taman Nasional Baluran di Jawa Timur, tidak ada kata-kata “waktu yang paling tepat untuk berkunjung”. Itu semua kembali ke kacamata masing-masing. Mau melihat drama rerumputan yang mengering dan kecoklatan, atau indah dan sejuknya hamparan hijau rerumputan. Beruntung, TNWK kemarin tampak hijau dan cantik luar biasa.

Entah ya, mungkin bagi kebanyakan orang, Way Kambas bukanlah tujuan wisata yang menarik. Kurang seksi untuk ada di bucketlist mereka. Kurang keren atau kurang mainstream untuk disambangi. Mungkin juga bukan suatu kebanggaan bagi warga Lampungnya itu sendiri. Nggak beda lah dengan warga ibukota yang belum pernah ke Monas. Tapi ketika kita tahu betul apa yang kita mau dari suatu perjalanan, terserah dipandang keren atau nggak, dijamin kepuasan yang lebih dari apapun, akan kita dapat. And that is what exactly I got. Kalau kata Roy Goodman, “Remember, happiness is a way of travel, not a destination”.

Nggak disangka, Way Kambas can be one of my best trip. And I’m thanking these people for taking me there :’)

Berburu kuliner khas Lampung

Sabtu, 21 February 2015 – Hari ketiga di Lampung rencananya mau dihabiskan dengan wisata kuliner. Tapi berhubung host saya ada undangan penting sebagai bukti eksistensinya di kalangan sosialita Lampung, jadi ada beberapa penyesuaian.

Berikut beberapa pilihan kuliner yang bisa diicip selama di Lampung:

Sate Mat Raji, Lo Cupan di Mie Ayam Ajan, Nasi Uduk Toha, Mie Lampung, Pempek Nori, Bakso Sonny, Begadang Restaurant, Pindang Meranjat Riu.

Kalau mau nongkrong-nongkrong cantik, bisa di The Edge / The Summit Bistro Lampung, juga bisa di Bukit Randu. Pemandangan malamnya romantis. [sepertinya sih begitu]

The Summit Bistro

Kedai Kopi: Keiko Bahabia. Karena Lampung juga terkenal dengan kopinya, jangan ngaku-ngaku pecinta kopi garis keras deh kalo belum nyeruput kopi khas Lampung. Kalo boleh saran sih, nyeruputnya di Keiko Bahabia ya di LetJen Rya cudu Street No.48 Way dadi Bandar Lampung. Cari Mas Wisnu/Utu dan minta diskon special deh.

Duren! I was like the Queen of Durian. Sepulang dari Way Kambas kami mampir sejenak untuk menjawab hasrat makan duren. Dan jangan sedih! 2 jam sebelum pulang pun saya masih dimanjain sama duren yang kali ini rasanya lebih mantab dari sebelumnya. Oh ya, one of the biggest moment in my life: untuk pertama kalinya setelah 28 kali berulang tahun, saya akhirnya ngerasain yang namanya buah cempedak. Dan sejarah pun terukir di kota Lampung.

Semakin absurd trip kali ini…

Memasuki hari ketiga, agenda perjalanan dirasa mulai absurd. Mulai dari terjebak di rombongan penganten artis asal Jakarta, kebawa ke rumah mewah artis asal Lampung, kemudian makan siang bersama rombongan hijabers. Nggak berhenti disitu, malamnya pun masih keseret ke after-wedding party si pasangan artis di Novotel yang kemudian berlanjut ke obrolan dunia percomblangan di antara mereka. I was like… plenga plengo. Being the most dekil and undressed person among those beautiful and kinclong ladies, oh what should I say. In this case, I wanna thank Cumi for being my savior! ;D

Ternyata keabsurdan ini belum berakhir di hari keempat. Touchdown Mall Bumi Kedaton yang katanya mall terbesar kedua di dunia setelah mall di Dubai (sumber informasi: Awe), bukan buat eksis jadi anak g4uL Lampung tapi cari kado ultah buat anak usia 1 tahun. Lalu pergilah saya ke pesta ulang tahun the birthday boy. Kurang absurd apa coba??

Lampung Undercover

Diambil dari obrolan saya dengan orang Lampung asli, konon katanya kamu belum dipandang sukses kalau belum jadi seorang PNS. Bahkan kamu bisa dipandang belum punya kerjaan kalau bukan PNS.

Family background juga punya peran besar dalam hidup. Bahkan seumur hidup. Kalau kamu bukan keturunan PNS, bukan keluarga dari tokoh ternama dan pengusaha sukses, tidak ada hubungan dengan Polisi Militer, sudahlah mending ke laut aja. Bukan apa-apa, segigih dan seulet apapun kamu berusaha jadi orang sukses di Lampung, kalau kamu bukan salah satu dari yang tadi saya sebut, status sosial tetap sulit didapat. Kebayang kan kalau saya terlahir dan tinggal di Lampung. Da apalah atuh saya mah hanya butiran debu yang sedikit-sedikit divacum ;))

Status PNS dan keluarga yang dipandang nggak jauh-jauh dari piil. Begitu orang Lampung membahasakan harga diri, sesuatu yang mereka jaga baik-baik yang seringkali berubah jadi konflik di antara mereka.

Kaum borjuis Lampung. Saya ternganga-nganga ketika tahu kekayaan kaum elite Lampung. Mungkin nggak jauh berbeda dengan orang-orang kaya di Ibukota. Hanya saja ketika kekayaan sebanyak itu berada di daerah, rasa-rasanya jadi lebih terlihat menonjol. Harta yang kayaknya nggak akan habis 7 turunan. Rumah yang kayaknya bisa menampung satu RT. Mobil-mobil mewah yang kayaknya bisa kasih makan satu kelurahan. Dan seterusnya. Sigh, andai mereka mau kasih saya 1 M aja buat beli rumah singgah untuk Dilts Foundation 😀 [mulai ngelantur]

In conclusion

Meski belakangan saya lebih suka solo traveling, tapi ketika ada kesempatan ditemani dan berbagi moments menyenangkan dengan teman-teman yang juga menyenangkan, itu berarti saya diberkati. Dan saya pun yakin, travelmates selalu punya peran penting dari setiap perjalanan kita.

“As with any journey, who you travel with can be more important than your destination”.

And please allow me to say that Lampung is just beautiful. However, I would say that the best part from Lampung based on my own experience spending 4 days here is the people I met. Orang-orang yang awalnya asing tapi kemudian tidak asing. Iya, karena “a stranger is just a friend you haven’t met yet”.

Terima kasih tak terhingga untuk Noen atas semua kesempatan, mulai dari yang diagendakan sampai yang mulai absurd. Terima kasih sudah menyediakan tempat menginap, terima kasih sudah diantar jemput sana sini sama BangJer, terima kasih sudah ditraktir ini itu, terima kasih semua bocorannya tentang Lampung, terima kasih sudah diperkenalkan dengan teman-teman baru yang amazing dan surprisingly ngangenin. Meski agak… *tinta habis

Terima kasih untuk teman-teman dari #spearfishingLampung. Bangga rasanya bisa satu perjalanan sama kalian. Terima kasih Bang Didi, Mbak Ditta, Mbak Mitul, Cumi, Utu, Awe, Deri, Ical, Oneng (Arry/Ayahnya Romeo), Epeng, Bara, Ghe, Mas Frans, Ismir dan teman-teman.

Terima kasih lagi buat Noen, Cumi, Awe dan Rey yang sudah bantu menceklist Way Kambas dari list destinasi impian saya. A dream comes true and it was even perfect because of you. #halah Menurut kalian, aslinya saya keluar saat perjalanan ini. Please, what happens in Way Kambas stays in Way Kambas ya. Tolong jaga image baik saya karena saya nggak lolok seperti kalian. Okesip!

Ohya, sepertinya saya akan mudah sedih karena di ibukota nggak ada yang ngomong “jangan sedih!” sesering kalian :’( Sekali lagi terima kasih banyak. Main-main geh ke Jakarta! 😉

– Lampung, 19 – 22 February 2015 –

Yang tertangkap kamera selama #MembunuhAkhirPekan di Lampung bisa dilihat disini.

10 Responses so far.

  1. Seru banget tripnya.
    Kalau ke Lampung lagi kabar2i ya kak :)
    Salam.

  2. Bara says:

    Waaahh ternyata mba eli ini traveller sejati
    Jadi iri deh hehee

  3. Atu amma says:

    Seru yah baca nya sayang ga bisa ikutan berpetualang ,tp sempet kenalan setitik yah kita dinovo dikenalin tumik hihi . Sukses trus yah mba berpetualang nya

    • ellie says:

      Hi Mba Amma. Iya, lumayan lah udah kenal muka. yang mirip Jihan Fahira kan? 😀 Siapa tau nanti ketemu di mana gitu kan bisa saling sapa 😉

  4. Firman Syahib says:

    Tripnya mantap, tapi kurang seru kalo blm mengunjungi destinasi yg ada dikalianda… noen ajakin mbak ellie ke krakatau… salam kenal mbak heheheh

    • ellie says:

      Hi Mas Firman, salam kenal juga.

      Iya, kemaren kepingin ke Kalianda sih. Pingin tau tempat kerja Mbak Noen dan kepingin banget makan duren disana. Kan katanya durennya maknyus disana. next time, Insya Allah :)

  5. Putra TM says:

    Pagi, mohon ijin copy widgetnya ya rek, tks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *