Overland SulSel: Makassar, Toraja, Tanjung Bira

Bagi buruh seperti saya, bisa kabur selama 5 hari, sudah syukur Alhamdulillah dan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Entah bagaimana caranya, tiket Garuda PP CGK – UPG – CGK, hasil hunting promo di travel fair tahun lalu harus maksimal. Tersebutlah Kota Makassar, Rammang-Rammang, Toraja, dan Tanjung Bira [yang letaknya saling berjauhan itu], kami agendakan. Overland Sulawesi Selatan!

Karena memang ogah rugi, perjalanan 9 jam dari Makassar ke Toraja dan perjalanan 10 jam dari Toraja ke Tanjung Bira pun kami tempuh.

Cuma punya waktu 5 hari di Sulawesi Selatan? Kira-kira seperti ini perjalanan kami:

Day 1 : Makassar – Taman Nasional Bantimurung – Leang Leang – Rammang Rammang

Dalam perjalanan 9 jam dari Kota Makassar menuju Toraja, kami mampir ke beberapa place of interest yang ada. Memasuki Kota Maros, adalah Taman Nasional Bantimurung yang menjadi incaran para pelancong.

Di kawasan wisata ini terdapat air terjun Bantimurung yang super cantik dan juga penangkaran kupu-kupu yang menarik untuk diamati.

Setelah puas di Bantimurung, perjalanan pendek dilanjutkan menuju Taman Prasejarah Leang-Leang, yang sebetulnya masih terletak di dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di daerah Maros Pangket. Di Leang Leang ini, kita dapat temui jajaran pegunungan karst yang menarik dan juga goa-goa yang dipercaya sebagai tempat tinggal di jaman prasejarah dulu.

Terbukti dengan ditemukannya berbagai jejak tangan dan gambar lainnya di dinding-dinding goa.

Sudah beranjak sejauh 40km dari Kota Makassar, kami memasuki Objek wisata Rammang-Rammang yang berada di Gugusan Pegunungan Kapur Maros – Pangkep. Di Rammang Rammang, kami menuju Kampung Berua, kampung dengan pemandangan hutan batu yang menakjubkan. Bahkan, perjalanan kami menuju kampung Berua ini pun tak kalah menawan. Kami menyusuri Sungai Pute yang cantik itu dengan katinting, semacam kapal kecil yang kami tumpangi.

 

Drama menyusuri sungai ini cantik berlangsung sekitar 30 menit hingga akhirnya kami tiba di Kampung Berua.

Sore hari kami bergegas menuju Toraja yang diperkirakan akan memakan waktu 9 jam perjalanan darat.

Day 2 : Dari Makam ke Makam di Toraja

Pagi di Tana Toraja yang sejuk. Saatnya berkeliling untuk belajar sejarah dan budaya negeri ini.

Kete Kesu, sebuah desa tradisional suku Toraja dimana kita dapat melihat rumah adat Tongkonan dan lumbungnya yang menarik.

Disini pula kita akan terbuai dengan hasil tangan penduduk lokal, seperti ukiran kayu, dan berbagai hasil karya lainnya yang cocok untuk oleh-oleh. Sukses dibuat pening kepala ini.

Dari Kete Kesu, kami menuju Londa, salah satu gua makam paling popular sebagai tujuan wisata di Tana Toraja. Jangan hanya mengamati dan mengagumi gua makam ini dari luar saja. Masuklah ke dalam dan rasakan hawa mistisnya. Untuk bisa masuk ke dalam gua, kita harus ditemani oleh seorang pemandu yang sudah siap dengan lampu petromak. Begitu tiba di dalam, pastikan kita semua bersikap baik karena bagaimanapun, kita harus menghormati mereka yang sudah pergi. Bukan cuma karena takut hal-hal yang berbau mistis.

Konon banyak sekali kubur batu dan pemakaman di Tana Toraja, namun beberapa saja yang dibuka untuk umum sebagai tujuan wisata. Salah satunya Lemo. Berbeda dengan Londa, pemakaman dalam gua, Lemo adalah kuburan batu yang dibentuk sendiri di dinding bukit batu. Mereka melubangi bukit untuk kemudian dijadikan kubur batu.

Berbeda dengan Londa dan Lemo, Kambira yang juga merupakan pemakaman unik di Tana Toraja, memberikan kami pemandangan lain. Kambira ini adalah kuburan bayi yang ada di pohon besar yang disebut Pohon Taraa’. Bayi yang dikubur disini adalah mereka yang berusia di bawah 6 bulan, belum tumbuh gigi susu, belum bisa berjalan, dan masih menyusui.

Day 3 : Sarapan dengan view Gunung Nona – Sunset di Tanjung Bira

Pagi-pagi sekali kami bergegas demi mengejar waktu tiba di Tanjung Bira yang diperkirakan akan memakan waktu 10 jam perjalanan.

Tidak terlalu jauh dari Toraja, kami tiba di Buttu Kabobong atau Gunung Nona di Kabupaten Enrekang. Lokasi paling oke untuk bersantap sarapan dengan pemandangan Gunung Nona dan udara pagi yang sejuk. Dinamakan Gunung Nona bukan tanpa alasan. Karena dari kejauhan, bentuk gunung ini mirip dengan “kepunyaan” si nona.

Sisa pagi dan siang kami habiskan dalam perjalanan darat menuju Tanjung Bira dengan pemandangan cantik khas tanah Sulawesi Selatan.

Kami tiba di Tanjung Bira, tepat sesaat sebelum sunset. Dan inilah hasil perburuan sunset kami di Tanjung Bira.

Karena kebetulan hari itu adalah hari libur, kami disambut dengan ramainya pengunjung di pantai ini. Ayolah, nggak perlu “nggrumeng” [bahasa ibu saya yang artinya menggerutu] karena pantai yang terlalu ramai. Apa salahnya sih berbagi moment indah ini dengan yang lain. Toh sunset bukan punya kita sendiri toh?

Day 4 : Hoping Islands di Tanjung Bira – Kuliner Malam di Makassar

Pagi di Tanjung Bira, pilihannya adalah berburu matahari terbit yang lokasinya di Pelabuhan Tanjung Bira. Sayangnya pagi itu langit Bira mendung dan matahari tak nampak sama sekali.

Hoping islands dimulai dengan mengarah ke Pulau Kambing yang cantik. Tidak ada alasan untuk tidak menceburkan diri di jernihnya air laut ini. Konon disini adalah spot paling tepat untuk diving.

Spot snorkeling kedua adalah di dekat Pulau Liukang Loe yang juga tidak kalah jernih.

Setelah puas berenang kesana kemari, mampirlah di Pulau Liukang Loe. Di pulau berpenghuni ini, terdapat penginapan dan restaurant dimana kita bisa menikmati makan siang menu pesisir yang enak sambil menikmati putinya pasir di pantai ini.

Perut kenyang, mata pun sudah puas melihat keindahan bawah laut ala Bira. Saatnya kembali ke Tanjung Bira karena pantai di Tanjung Bira pun tidak kalah cantiknya. Seperti ini nih…

Sudah sampai di Tanjung Bira, jangan sampai terlewat Tanjung Bara yang juga menawan. Karena ada masa dimana Tanjung Bara lebih indah dibanding Tanjung Bira, dan begitupun sebaliknya, tergantung musim dan angin, kemana pasir putih halus itu terbawa.

Day 5 : Makassar City

Cari aman dengan berada di Kota Makassar sehari sebelum penerbangan pulang, bisa juga dimanfaatkan dengan jalan-jalan di sekitaran kota, wisata kuliber dan beli oleh-oleh. Jangan lupa untuk mengcapture view dan juga landmark kota yang terkenal seperti ini.

Sayangnya, penerbangan saya terlalu pagi untuk bisa menikmati pemandangan khas kota Makassar. Thanks to @FunAdventure_ and @BugisMksrTrip for arranging. Terima kasih Kak Christine, Rica, Acil dan teman-teman baru seperjalanan. More photos click here.

Sulawesi Selatan, April 2015 

2 Responses so far.

  1. Annisa Gita says:

    Dear Kak Ellie,

    Hasil dari kegabutan menunggu delay di negara orang, Iseng buka catatan online mu, click overland Sul-Sel, wifi on, sit and read, sukses bikin kangen trip sama kakak-kakak super ini. Kapan Kita Kemana #MembunuhAkhirPekan ?

  2. Mul says:

    Gak sekalian lanjut ke Selayar mbak, disini juga banyak spot menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *