Meet Opa David, Master of Paragliding Indonesia

Ada yang bilang senior. Ada yang bilang sesepuh.

Ada yang bilang the master. Ada juga yang bilang “Bapak Paralayang Indonesia”.

Apapun julukannya, kehormatan semacam itu memang pantas disandang pria paruh baya ini.

Iya, saya setuju bahwa beliau sudah bukan lagi senior melainkan sesepuh. Betapa tidak, beliaulah yang merintis wisata olahraga dirgantara ini mulai dari nol di Indonesia.

Perkenalkan, David Agustinus Teak yang akrab disapa Opa David. Pria kelahiran tanah Rote, NTT ini sejak tahun 1997 mulai memperkenalkan paralayang ke khalayak umum.

Pagi itu menjelang siang di Agrowisata, Puncak, saya dan 2 travelmates saya (sebut saja Mawar dan Melati) berkesempatan ngobrol banyak dengan Opa. Angin sejuk yang bertiup di ketinggian Puncak menjadi sempurna karena obrolan hangat yang kami ciptakan. Sambil menunggu angin naik dan kami diperbolehkan terbang, Opa bercerita seolah membawa kami kembali ke 17 tahun silam dimana ia baru merintis dan memperkenalkan paralayang ke publik.

Tak heran, berlatang belakang keluarga militer, Opa sudah sangat akrab dengan olahraga dirgantara ini sejak kecil. Opa begitu mencintai paralayang. Apapun dia lakukan untuk memperkenalkan paralayang dan mengubah mindset orang kebanyakan yang menilai olahraga ini adalah olahraga ekstrim. Pantang menyerah dan tak mudah putus asa.

Usahanya sedikit demi sedikit membuahkan hasil ketika beberapa media massa, lokal bahkan internasional menggandengnya dan bantu mengangkat paralayang. Opa bahkan berhasil merebut hati TV Aljazair dan videonya tayang di penerbangan Qatar. Hal ini yang melatarbelakangi mengapa kita akan lebih banyak menemukan orang Arab di kawasan wisata paralayang Puncak. Puncak dan paralayangnya sangat familiar bagi mereka. Dan faktor penarik lainnya mungkin ya. *if you know what I mean. Terhitung sejak tahun 2008, semakin banyak ketertarikan orang Arab untuk mencoba paralayang di Puncak Bogor.

Tahun 2011, baru masyarakat kita mulai mengenal, tertarik dan mencobanya. Entah kenapa butuh waktu yang cukup lama. Tapi yang terpenting, Opa berhasil meyakinkan publik bahwa olahraga ini bukan olahraga ekstrim yang harus ditakuti, meski resiko akan selalu ada.

Alumni Mapala UI ini, punya rekor yang sangat luar biasa. Rekor terbang terjauhnya adalah 62 km, dari Wonogiri mendarat di Sragen. Rekor terbang terlamanya adalah selama 8 jam. Bayangkan saja, terbang melayang-layang di udara tanpa mesin dengan ketinggian ribuan kaki.

Kebangkitan olahraga ini ditandai juga dengan rekor yang terekam oleh atlit kita yaitu terbang sejauh 117km dari Wonogiri sampai ke Blora dan terbang selama 11 jam. Sementara rekor internasional berada di 18 jam terbang.

Menurut Opa, olahraga udara Indonesia sudah cukup dikenal dunia internasional. Bahkan untuk paralayang sendiri, sudah bukan hanya di level leisure melainkan juga di level prestasi atau untuk dipertandingkan. Memang kata Opa, kontur yang dimiliki Indonesia hanya memungkinkan paralayang untuk level leisure dan prestasi, tidak memungkinkan untuk level akrobatik.

Nama harum Indonesia di arena air sport dibuktikan dengan akan diadakannya kejuaraan internasional pada Agustus tahun 2015 nanti yang akan memperebutkan piala FAI, The Fédération Aéronautique Internationale, – The World Air Sports Federation. You are welcome to come and see, itu kata Opa 😉

Nggak perlu nunggu lama sampai tahun depan. Bisa kok nyobain terbang tanpa sayap kapanpun kamu mau dan siap lahir batin. Opa dan teamnya akan dengan senang hati mendampingi kamu terbang. Untuk yang di Jakarta, datang saja ke Agrowisata Puncak. Jadwal terbang dari jam 9 pagi sampai 5 sore setiap hari. Tapi mohon dicatat karena bisa atau tidaknya terbang dipengaruhi oleh angin. Jadi lebih baik cek dulu sebelum sia-sia bermacet ria ke puncak. Opa David bisa ditelp di nomor 081288528755.

Selain Puncak, lokasi lain yang cukup terkenal untuk paralayang adalah Batu Malang dan Bali. Tapi menurut Opa, lokasi paling bagus yang dimiliki Indonesia untuk terbang paralayang adalah Wonogiri.

Serius deh, challenge yourself! Jangan takut karena pilotnya certified, terbangnya tandem, dan perlengkapannya komplit. Kalo kamu beruntung, Opa David sendiri yang akan jadi pilotmu.

Satu pesan saya sebelum kamu memutuskan untuk terbang. “Hati-hati, nagih!”

– Puncak Bogor, 24 Agustus 2014 – 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *