Mengenal Baduy Dalam Lebih Dekat

Selama perjalanan sehari semalam menyusuri Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, banyak sekali informasi menarik tentang kehidupan ala Baduy atau urang Kanekes begitu mereka menamai kelompoknya. Berikut beberapa hal yang saya tangkap dari obrolan langsung saya dengan mereka tempo hari:

  • Kepercayaan Baduy Dalam adalah Sunda Wiwitan, pengikut Nabi Adam. Mereka percaya pada Tuhan YME, tapi mereka juga masih menyembah roh nenek moyang.
  • Kepala atau ketua adat Baduy Dalam disebut Pu’un. Pengangkatan Pu’un masih berdasarkan keturunan.
  • Baduy Dalam mengenakan pakaian khas mereka yang berwarna putih/hitam yang dijahit sendiri. Tidak diperbolehkan mengenakan pakaian warna lain.
  • Tidak boleh berfoto dimanapun di Baduy Dalam.
  • Menurut adat, mereka tidak diperbolehkan memakai alas kaki dan berkendara. Juga pantang menggunakan alat elektronik atau teknologi lainnya.
  • Menurut adat, mereka tidak diperbolehkan menggunakan bahan-bahan kimia bawaan dari luar seperti sabun, shampoo, pasta gigi dll. Minyak goreng pun mereka produksi sendiri berupa minyak sawit.
  • Orang luar diperbolehkan berada di Baduy Dalam tidak lebih dari 24 jam. Bahkan bagi Baduy Luar pun berlaku aturan yang sama.
  • Orang Baduy Dalam yang memutuskan untuk keluar dari Baduy Dalam biasanya menetap dan menjadi bagian dari Baduy Luar.
  • Orang Baduy Dalam yang melanggar tradisi akan dikeluarkan dari Baduy Dalam. Atau sebelum dikeluarkan, biasanya mereka akan menerima akibat yang tak kasat mata.
  • Pernikahan tidak bisa dilakukan sembarang waktu. Ada bulan-bulan khusus untuk menyelenggarakan pesta pernikahan. Dan dalam satu hari, hanya boleh ada 1 pernikahan. Karena begitu ada pernikahan, satu kampung akan sibuk merayakannya.
  • Pria-pria Baduy Dalam bisa berjalan sampai Jakarta bahkan Bandung untuk mengunjungi kenalan mereka di sana sambil menjual madu dan hasil lainnya. Perjalanan ke Jakarta biasa ditempuh dalam waktu 2-3 hari sedangkan ke Bandung biasa ditempuh dalam waktu 5 hari. Mereka akan senang menyimpan alamat siapapun untuk bisa dikunjungi saat mereka melakukan perjalanan jauh keluar Baduy Dalam.
  • Saat mereka menginap di rumah kenalan mereka, mereka mengaku boleh naik lift, mandi dengan sabun, makan apapun (kecuali kambing), dan menonton TV.
  • Baduy Dalam mulai menerima wisatawan sejak 15 tahun belakangan. Yang diperbolehkan memasuki Baduy Dalam hanya wisatawan lokal, alias orang pribumi. Wisatawan asing dilarang memasuki Baduy Dalam, mereka hanya diperkenankan berjalan sampai perbatasan Baduy Luar dan Baduy Dalam.
  • Baduy Dalam tidak beridentitas. Tidak ada KTP, akta ataupun identitas lain. Dan pemilu kemarin pun tidak sampai sini. Susah juga yah pendataannya karena mereka memang tidak punya identitas. Bahkan ada yang berpendapat, Baduy Dalam bukan bagian dari Republik Indonesia.
  • Baduy Dalam menolak pendidikan formal dari pemerintah juga pendidikan informal dari pihak luar yang mau berbaik hati mengajar baca tulis. Mereka berpendapat, pendidikan itu hak mutlak setiap orang tua. Terserah orang tuanya mau mengajarkan si anak baca tulis atau hanya bertani. Inilah mengapa adat istiadat, tradisi, dan banyak pantangan ini itu yang tidak tersimpan dalam bentuk tulisan melainkan hanya tutur kata yang diwariskan turun temurun.
  • Amazingly, pria pria dewasa Baduy Dalam banyak yang bisa baca tulis. Pertanyaan muncul, mereka belajar dari mana? Mereka pun menjawab bahwa mereka belajar sendiri. Belajar dari lingkungan saat mereka lihat bungkus ini itu. Mereka mulai mengenal huruf dan angka. Tapi kemauan untuk mengajari anak-anaknya tergantung dari diri masing-masing. Tentu saja mereka harus mengerti baca tulis karena mereka sudah mulai berdagang ke kota-kota besar.
  • Nama-nama Baduy Dalam menarik. Berikut beberapa nama yang saya tahu cukup menarik: Sangsang Nadi, Jermain, Zahara. Bukan, bukan pengaruh karena kebanyakan nonton sinetron. Mereka mengaku nama-nama itu didapat dari bahasa mereka sendiri yang mengandung doa yang tak sembarangan.
  • Dulu, bahan makanan pokok mereka hasilkan sendiri. Seperti beras, ikan, dan sayur-sayuran. Belakangan, ikan semakin sulit didapat dan mereka mulai mencari bahan makanan di pasar luar.

Saya tidak bisa menjamin kebenaran informasi diatas 100% karena ada kemungkinan kesalahan ucap atau kesalahan menangkap arti. Mohon dimaafkan dan dikoreksi. Tapi saya bisa jamin, informasi diatas saya dapatkan hasil ngobrol langsung dengan mereka.

Saya yakin informasi ini hanya sebagian kecil dari informasi lain yang belum terungkap tentang Baduy Dalam. Melihat dari luar, saya kagum dengan kepatuhan mereka yang menjaga adatnya sedemikian rupa dan tak mudah terbawa arus. Meski di sisi lain, sangat menyayangkan terisolasinya mereka dari pendidikan. Tapi toh sebetulnya mereka masih punya pilihan. Dan pilihan ada di tangan mereka.

– Kampung Cibeo, Banten, 13 September 2014 – 

Post Tagged with , , ,

2 Responses so far.

  1. indah says:

    kak elie waktu ke baduy sama kang sapri?? itu yang atas foto kang sapri kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *