Menginjakkan Kaki di Ujung Barat Indonesia

“Lukisan terindah Tuhan hanya bisa dinikmati oleh mereka yg sengaja mencarinya atau mereka yg beruntung hidup di sekitarnya. Menyadari saya kurang beruntung, untuk itu saya harus mengejarnya. Kemanapun itu.” – kicauan saya beberapa waktu lalu.

Iya, kemanapun itu. Meski hingga ujung paling barat negeri ini.

1 Mei 2014 – Menyandang ransel berbekal untuk 4 hari ke depan, kaki ini untuk pertama kalinya menginjak bumi Aceh. Haru sudah pasti. Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda pun menyambut dengan senyum pagi itu.

Ada hawa yang berbeda begitu kaki menapaki tanah rencong ini. Hati mengingatkan, iya ini Aceh, Serambi Mekkah. Kota maju dengan syariah Islam yang menjadi aturan sehari-hari. *pasang kerudung menutupi aurat.

Siang yang cukup cerah mengantarkan saya pada 7 orang asing yang akan menjadi teman perjalanan saya selama 4 hari ke depan. 5 traveler wanita dari ibukota & sekitarnya dan 2 traveler pria sebagai tuan rumah. Cerita #MeetTheStranger pun kembali dimulai. Grup sekecil ini memberi harap akan cerita perjalanan yang lebih berkesan. Yang kemudian memang terbukti.

Tanpa berbasa-basi, agenda kami langsung menyeberang ke Pulau Weh, pulau paling barat di negeri ini melalui Pelabuhan Ulee Lheue. Karena katanya menelusuri kota Banda Aceh masih bisa menunggu.

Siang yang cukup panas dan jadwal kapal Ferry yang sedikit kacau membuat kami menunggu hingga sore untuk bisa diantar ke pulau seberang. Tak mengapa, karena toh kita jadi bisa menikmati cantiknya senja di langit Aceh dari atas kapal menuju Sabang sore itu.

Langit Sabang yang mulai gelap menyambut kedatangan kami. Selamat datang di pelabuhan Balohan.

Dengan transportasi elf yang sudah dipesan, perjalanan langsung dilanjutkan menuju Gapang yang menjadi salah satu tujuan wisata di Pulau Weh. Kami menginap di Gapang Resort. Areanya luas, bungalownya pun [seharusnya] bagus. Iya, seharusnya. Tapi sayang, sepertinya kurang dijaga dan dikelola dengan baik. Pantas, ternyata memang dikelola pemerintah.

Ini bungalow kami. Cantik dari luar memang.

2 Mei 2014 – Sarapan pagi itu di Gapang adalah langit cantik khas matahari terbit.

Berjalan sedikit keluar dari area Gapang Resort, berjejer penginapan lebih kecil yang langsung menghadap Pantai Gapang. Kami menikmati sarapan pagi kami disini.

Jumat memang hari yang pendek. Dan lebih berasa pendeknya saat di Aceh. Kami tak boleh berkegiatan apapun di luar hingga jam 2 siang saat ibadah sholat Jumat selesai ditunaikan. Meski Pulau Weh adalah pulau tujuan wisata dimana banyak turis asing dan turis domestik dari luar Aceh, tak lantas jadi pengecualian untuk peraturan yang berbasis syariah Islam itu. Polisi syariah, polisi darat, polisi air, dan banyak petugas lainnya yang berjaga dan berpatroli disini. Rombongan kami sempat mendapat terguran halus saat bersnorkeling di pantai Gapang. Tunggu sampai jam 2 siang, katanya.

Lewat jam 2 siang, kami melanjutkan agenda yang ada, yaitu menuju Iboih. Cukup dekat jarak Iboih dari Gapang. Iboih is just beautiful. Terik siang menambah cantik penampakan Iboih hari itu.

Dan siapa bisa menolak menceburkan diri di jernihnya air ini?

Ini Iboih, di Pulau Weh, Indonesia.

Iboih lebih ramai dan kental dengan kesan “must visit-nya pelancong”. Banyak penginapan dan pedagang disini. Kami menginap di Siti Rubiah.

Sore itu, saya bertemu Musna yang bersama ibunya berjualan rujak & minuman di pantai Iboih. Kelas 5 di SD 25 Iboih. Begitu ditanya besok gede mau jadi apa, dia malu-malu menjawab “belum tau”. Ah semoga buku ini bisa memberi dia inspirasi dan manfaat. #1Traveler1Book

Perlu diingatkan, jangan terlalu enak dan terlena saat bersnorkeling di Iboih karena kejutan lainnya menunggu di Titik Nol KM. Iya, waktu yang paling tepat berkunjung ke Titik Nol KM adalah sore hari karena kita bisa sekaligus menikmati lukisan senja yang tiada tara. *dengan catatan, kalau beruntung.

Sempat kecewa karena langit yang mendung dan tak terlihat tanda-tanda senja akan bersolek sore itu, namun kami tetap setia menunggu. Hingga akhirnya langit mendung tadi berganti rupa menjadi seperti ini.

Cerita haru berbalut senja nan cantik di Titik Nol KM bisa dibaca disini.

Mumpung sedang berada di lokasi yang spesial, makan malam pun harus spesial. Menu seafood di resto samping Siti Rubiah bisa jadi pilihan. Enak dengan harga reasonable. Tapi mohon pesan begitu tiba di Iboih supaya tidak menunggu lama. Apalagi untuk rombongan.

Menutup malam di pinggiran pantai Iboih dengan obrolan khas #MeetTheStrangers ditemani kopi Aceh. Cara yang sempurna untuk menutup hari dan bersiap dengan kejutan lainnya esok hari.

3 Mei 2014 – Berniat berburu matahari terbit di Pulau Rubiah, pulau kecil di seberang Iboih, terpaksa harus menelan kekecewaan. Langit pagi itu mendung. Mungkin ia lelah.

Pagi hari di Rubiah masih terlalu sepi. Rasa-rasanya hanya ada rombongan kami dan keluarga bule ini. *lalu berasa private island

Yang bisa dilakukan di pulau ini tentu saja snorkeling. Buat yang suka diving, ada juga beberapa spot menarik di sekitaran sini untuk menyelami keindahan dunia bawah laut Aceh.

Perasaan memiliki sendiri Pulau Rubiah ini ternyata salah besar karena kami berada di sisi lain dari keramaian pulau. Iya, begitu kami berjalan membelah pulau dan tiba di sisi lain Pulau Rubiah, ternyata Pulau ini sangat ramai. Sudah seperti Iboih dengan banyak warung-warung, pengunjung yang mulai memenuhi spot snorkeling dan kapal-kapal kecil juga speed boat yang bisa disewa.

Nah, di pulau ini juga kita bisa melihat secara langsung asrama haji jaman dulu. Jaman dimana kita bahkan belum dijajah. Itulah mengapa Aceh disebut Serambi Mekkah. Karena disinilah dulu para calon haji berkumpul sebelum diberangkatkan ke Mekkah melalui jalur laut yang memakan waktu hingga berbulan-bulan.

Kembali ke Sabang, mohon jangan tinggalkan Iboih sebelum mendapatkan pemandangan mainstream khas Iboih seperti ini. *dapet salam dari Teupin Layeu

Saya disini. Pulau Weh, ujung paling barat Indonesia :’)

Bergerak menjauhi Iboih untuk kembali mendekati kota Sabang sebelum besok kami sepenuhnya meninggalkan Pulau Weh. Dan ditengah perjalanan kami menuju Sabang, ada suguhan seperti ini…

Apa yang bisa ditemukan di sekitar kota Sabang?

Tibalah di Anoi Itam, 13km jauh nya dari kota Sabang. Dinamai Anoi Itam karena memang pasirnya yang hitam.

Selain itu, ada juga benteng jepang Anoi Itam yang merupakan salah satu situs bersejarah di Sabang.

Pemandangan di area benteng Anoi Itam ini sungguh menyenangkan nan syahdu. Birunya samudera di depan mata, semilir angin laut menerpa, hijau rumput sebagai alas, sungguh memberikan kedamaian :’)

Dari Anoi Itam, kami beralih menghabiskan sore di Pantai Sumur Tiga. Foto dibawah ini semacam angle mainstream Pantai Sumur Tiga di Sabang.

Kenapa dinamakan Sumur Tiga? Karena ada 3 sumur air tawar di pantainya.

Malam minggu di kota Sabang. Ramai tidak terlalu ramai, sepi tidak terlalu sepi. Mungkin Aci Rasa Coffee bisa menjadi pilihan untuk menghabiskan malam bersama abang-abang, alias anak gaul Sabang. Tempat yang tepat juga untuk bisa nyicip segala kuliner khas Aceh, mulai dari mie aceh, sate matang, sate gurita dan lainnya. Tak ketinggalan teh tarik dan kopi Aceh, tentu saja.

4 Mei 2014 – Pagi-pagi sekali di kota Sabang, kami berkemas dan bersiap menyeberang pulang ke Banda Aceh. Kali ini kami manfaatkan kapal cepat dari pelabuhan Balohan yang hanya butuh 2 jam saja untuk bisa tiba di pelabuhan Ulee Lheue. Tepat waktu, jam 8 teng kapal cepat membawa kami ke seberang. Kembali menginjakkan kaki di Banda Aceh, kerudung pun menandainya.

Masih ada waktu beberapa jam sebelum pesawat akan membawa kami kembali ke ibukota. Manfaatkanlah semaksimal mungkin.

City tour Banda Aceh kami mulai dengan mengunjungi Museum Tsunami Aceh. Persiapkan mental saat memasuki museum ini karena dijamin sisi kemanusiaanmu akan terombang ambing menyaksikan setiap sudut museum. Belum pun memasuki pintu masuk museum, saya sudah dibuat merinding dan berkaca-kaca hanya dengan melihat rangka helikopter yang ada di bagian depan museum ini.

Semakin ke dalam memasuki museum, kita akan dibawa semakin dalam ke perasaan-perasaan emosional, seakan kita diajak merasakan duka dan pedih para korban tsunami 2004 silam. Cerita lengkapnya tentang perjalanan penuh emosi di Museum Tsunami Aceh bisa dibaca disini.

Tak jauh dari museum Tsunami, kita bisa melihat Kapal PLTD Apung dengan bobot 2600 ton yang terdorong ke daratan hingga 5km. Ini membuktikan kedahsyatan tsunami Aceh saat itu.

Yang nggak boleh ketinggalan saat di Banda Aceh tentu saja Mesjid Raya Baiturrahman yang berdiri gagah di tengah kota. Yang konon tetap berdiri tegar meski tsunami menghantam saat itu. Memasuki area ini sudah pasti harus berkerudung dan tak boleh pakai celana jeans bagi kaum wanita.

Foto-foto di luar mesjidnya saja sudah bikin hati ini gembira tak terkira dan senyum tiada henti. Apalagi bisa menyempatkan diri menunaikan ibadah shalat di dalamnya. Wah, indescribable deh pokoknya. Mending rasakan sendiri sensasinya. Rasa puas dan ketenangan batin saat menginjakkan kaki di Masjid Baiturrahman hingga membuat saya yakin untuk bisa segera menginjakkan kaki di tanah suci, boleh dibaca disini.

Waktu terus berjalan dan semakin sempit mendekati jadwal terbang kami kembali ke ibukota. Rasanya betah berlama-lama di kota ini dengan teman-teman baru yang super menyenangkan. Tapi apa daya, semua ada porsinya.

Dalam perjalanan ke bandara, ada baiknya mampir sejenak di warung kopi Solong ini yang menjual kopi khas Aceh Ule Kareng. Kopi ini sangat terkenal dan wajib bawa sebagai oleh-oleh. Sebagai [bukan] peminum kopi, saya pun tak mau ketinggalan. Beli beberapa bungkus, entah untuk siapa. Ah, yakin aja, pasti ada yang mau kok.

Cerita perjalanan super menyenangkan dan takkan terlupakan pun berakhir di bandara. Saat kami berusaha keras packing ulang dengan semua hasil kalap belanjaan, saat bang agif merekam kami satu per satu, saat kami berfoto bersama untuk terakhir kalinya [dalam cerita jalan-jalan Aceh], dan saat air mata mengiringi kepergian kami meninggalkan Aceh. Tapi kami yakin, kami akan bertemu di cerita perjalanan berikutnya.

Sekian perjalanan travellie edisi Serambi Mekkah.  Yang tertangkap kamera dari perjalanan Aceh ini bisa dilihat disini. Semoga menikmati.

*Terima kasih tak terkira untuk Bang Agif dan Bang Ricky dari Pinouva yang impressively menemani 4 hari kami menjelajah Aceh, terima kasih teman dan saudara baru Mak’e, Kak Christine, Kak Dhena, Ricca, dan Acil. Sampai jumpa di cerita selanjutnya :’)

5 Responses so far.

  1. Ariev Rahman says:

    Jadi Iboih, Gapang, Sumur Tiga itu semuanya ada di Pulau Sabang kan kan kan?
    😀

  2. 0 kilometer tuh di aceh? saya kira di tomang?
    (itu 0km jalan tol jakarta merak ubay!)

    cerita perjalanan yang wow banget kak,ditambah #1Traveler1Book ,#MeetTheStranger jadi tambah berkesan.
    baru tau kalau disana aktifitas hari jumat dimulai pukul 14.
    hmmm semoga bisa ngerasain juga mampir ke serambi mekkah.

    • ellie says:

      Hi Ubay, salam kenal 😉

      Iya, semoga bisa kesampean ke Aceh. Amin.
      Kalo muslim, saran aja untuk menyempatkan solat di Masjid Baiturrahman. Saya dapat panggilan ke tanah suci di situ :’)

  3. Rivaldo says:

    budget ke semua itu berapa kak ? hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *