Musim Dingin di Korea [Eps. Keberangkatan]

Korea Selatan, negeri ginseng yang belakangan menjadi sorotan dunia karena K-Pop dan cerita dramanya. Termasuk Indonesia yang tak dapat dipungkiri memiliki komunitas besar pecinta segala-hal-tentang-Korea.

Korea Selatan

Korea Selatan

Saya pribadi bukan penggemar apapun yang berbau Korea. Korea pun sebetulnya nggak masuk di wish list destinasi jalan-jalan saya. Namun kemudian semesta mendukung dan berangkatlah saya melancong ke Korea bersama sahabat. Timingnya memang sengaja dibuat saat pergantian tahun. Selain mengisi libur panjang tahun baru, juga karena kami ingin mencicipi rasanya musim dingin. Iya, berlagak sanggup menerima suhu minus sekian derajat.

Tanpa persiapan yang matang dari pihak saya, selain terpaksa mengurus visa Korea sendiri karena menghindari harga calo yang lebih mahal, itinerary komplit dengan segala keterangannya telah dipersiapkan dengan seksama oleh sahabat saya. Pembuatan visa Korea pun cukup mepet, yaitu 2 minggu sebelum keberangkatan dan memakan waktu sampai dengan 7 hari kerja dengan biaya 300ribu. [Yang idealnya hanya 3 hari kerja]. Itu sih katanya karena lagi banyak visa application yang masuk.

Sabtu, 28 Desember 2013 – Baru menginjakkan kaki di ibukota saat pagi harinya dari perjalanan Jogja selama seminggu, sore harinya saya sudah harus angkat kaki lagi dari ibukota demi perjalanan ini. Packing secepat dan ala kadarnya dengan beberapa perlengkapan musim dingin modal pinjaman. Berbekal hanya dengan 500rb untuk ongkos taksi menuju bandara dan juga airport tax. Tanpa memegang uang dolar ataupun Won sepeser pun. Tanpa membaca itinerary yang sudah dibuat susah-susah oleh sahabat saya. I  had no idea apa yang akan saya hadapi 10 hari kedepan. “Biarlah menjadi kejutan”, bisik saya dalam hati. Dan saya pun tak tahu menahu tentang Korea selain Seoul sebagai ibukota-nya.

Sabtu hampir tengah malam saya tiba di LCCT Kuala Lumpur. Mencari-cari sahabat saya yang sudah duluan melancong di Kuala Lumpur. Menanti penerbangan menuju Busan yang masih keesokan paginya, kami melantai bersama pelancong lainnya. Merasa cukup aman karena banyak juga yang menginap disini.

Melantai di LCCT

Melantai di LCCT

Minggu, 29 Desember 2013 – Penerbangan selama 6 jam dari KL menuju Busan cukup membuat saya bosan maksimal. Dan penerbangan dengan budget airline tanpa fasilitas in-flight entertainment ini sungguh menyiksa. Baiknya membawa serta hiburan sendiri.

Setelah 6 jam melayang-layang di udara, akhirnya kami sampai di Gimhae International Airport, Busan – Korea. Begitu melangkahkan kaki keluar dari bandara, bbbrrrr! Tubuh ini disambut dengan suhu single digit.

Menggendong ransel sekaligus menggeret koper, seraya menggigil, pun tak bebas bergerak karena jaket yang tebal, sungguh ujian bagi saya. Namun demikian, mencoba mengerti sistem MTR di Busan meski sempat salah jalur, akhirnya kami bisa menemukan tempat kami menginap 2 hari ke depan di Busan. Hansung Motel Busan dengan rate KRW 45,000 per malam, berada di pusat kota Busan, walking distance dari Busan Station [baik itu station MTR maupun station KTX, Korea Train eXpress]. Kamar and fasilitasnya sendiri cukuplah. Hanya saja penjaga motelnya cannot speak English. Jadi agak ribet saat kita butuhkan.

Ah, bonus malam pertama di Busan, kami sempat mampir ke Gwangan Bridge, jembatan terbesar kedua di negeri ini setelah Incheon Bridge. Best to see di malam hari dari Gwangan Beach karena pertunjukan lampu warna-warni yang menari indah.

Gwangan Bridge

Gwangan Bridge

Malam ini pun kami berkesempatan mencicip Lotteria asli di kota kelahirannya. Hasilnya? Not recommended at all. Overpriced dan pilihan menunya pun nggak banyak dan nggak menarik sama sekali. Failed.

Suhu malam ini drop ke 1 derajat Celcius. Kami tak sanggup dan bergegas pulang menuju kamar hangat di Hansung Motel.

[Find more pictures taken from Korea Trip here]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *