[Nggak] Diving di Raja Ampat

“Wah lo salah lie, lo salah banget nggak diving di Raja Ampat!”

“Lo nggak sayang ke Raja Ampat tapi nggak diving?”

“Gila lo ya! Orang-orang mah ke Raja Ampat buat diving!”

— — — — — —

Dan seterusnya dan seterusnya. Itu ungkapan langsung teman-teman untuk saya. Belum lagi yang ngomong di belakang. Yah kurang lebih sama lah begitu. Menyayangkan saya jauh-jauh dan mahal-mahal traveling ke Raja Ampat cuma buat snorkeling.

Mereka mungkin adalah orang-orang yang paling tahu Raja Ampat karena mereka tahu persis “what to do in Raja Ampat”. Dan mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk bisa menginjakkan kaki dan menyelami bawah lautnya Raja Ampat.

Sedemikian rupa para traveler dan/atau penyelam memimpikan destinasi Raja Ampat. Dan seringkali menyimpan destinasi ini baik-baik untuk bisa direalisasikan di saat yang tepat nanti. Save the best for the last, katanya. Bahkan ada yang bilang, diving di Raja Ampat ibarat naik haji bagi para penyelam.

Masuk akal saya dapati saat mereka [sedikit terlalu bersemangat] mengungkapkan keheranan mereka. Iya, karena saya nggak diving. Cuma snorkeling dan menikmati keindahan Raja Ampat dari tanah yang saya pijak. Dan memang indah. As expected lah karena kita sudah sering membekali diri dengan foto-foto Raja Ampat dari internet. Sudah bayar mahal toh, ya harus dapat yang seperti itu.

Disalah-salahi karena nggak diving di Raja Ampat, bahkan dibodoh-bodohi. Seakan-akan dosa besar telah saya perbuat. Padahal kan, masing-masing punya agenda, tujuan dan prioritas sendiri. Bukan begitu, bukan? Saya punya teman. Dia bahkan nggak bisa snorkeling tapi dia sudah pernah Sailing Lombok, hidup terapung dan terombang ambing di lautan, berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya selama 5 hari. Salah? Nggak. Nggak harus semuanya hebat seperti kalian. Karena kalau nggak ada kami-kami yang kurang hebat alilas traveler gadungan, ya nggak akan ada traveler sejati seperti kalian.

Kalau saya bilang: 1 hal yang paling saya rindukan dan membuat saya ingin kembali ke Raja Ampat adalah senyum khas anak-anak Papua, apakah kalian akan menyayangkan [lagi] hal ini? Karena memang begitu adanya. Merekalah yang paling saya rindukan dan memberi kesan mendalam. Bukan kehidupan airnya, bukan Wayag, bukan pula Piaynemo yang memang sungguh indah di pandang mata.

Tapi bagaimanapun, saya tersadar dan saya bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang mengerti betul indahnya alam negeri ini. Kapan harus kemana dan ngapain. I love being surrounded by those people. I love you all :*

 

Post Tagged with , , , ,

2 Responses so far.

  1. Indah says:

    Keren kak.. Aku pengen bgd kesini tapi apalah daya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *