Paralayang, Sensasi Terbang Tanpa Mesin

“If I could reach higher…Just for one moment touch the sky. From that one moment in my life…Then I could be stronger…”

Tersebut di atas adalah sepenggal lirik lagunya Gloria Estefan dari single “Reach” yang jadi theme song Atlanta Summer Olympic tahun 1996. Maksud lagunya memang membakar semangat untuk terus maju. Pokoknya push the spirit to the limit.

Kurang lebih gejolak rasanya sama lah seperti Minggu siang di area Agrowisata Puncak yang berawan itu. Saat saya mengumpulkan semua keberanian yang tersisa, sementara tanpa pikir panjang, crew paralayang bergerak cepat mempersenjatai saya dengan segala kelengkapan yang harus dikenakan.

I was like “Tunggu, tunggu, tunggu! Kok gw yang pertama??” Dan kedua teman pejalan saya yang notabennya pria kompak menjawab, “Nggak apa apa, ladies first!”

When I said “I was the first to fly”, meaning I was the very first person who flew on that day”. Iya, penerbangan pertama hari itu di hari menjelang siang setelah sejak pagi kami menunggu angin bersahabat. Berasa jadi semacam percobaan kan?

Pasrah. Begitu semua perlengkapan terpasang dengan baik pada tubuh saya dan Opa David, pilot tandeman saya yang juga master of paralayang Indonesia (sedikit merasa aman) bersiap, rasa-rasanya saya nggak bisa mundur lagi. Semua mata tertuju pada saya. Mau mundur ya pasti malu. Iya, malu sama tongsis yang udah jauh lebih siap. (tongsis yang dikaretin berlapis-lapis supaya nggak jatuh)

Menjelang lepas landas, nggak ada briefing yang serius. Saya gemetar dan lutut saya lemas seketika. Saya terus bertanya dengan nada ketakutan, “Jadi gimana, saya harus gimana nanti?” Dan si Opa dengan santainya menjawab, “Udah santai aja. Pokoknya sebelum take off, jalan ya. Jalan, jangan lari”. Saya mengangguk meski masih bingung. Semudah dan sesederhana itu kah?

Nggak pake basa basi, begitu parasut sudah siap, kami pun take off. “Jalan! Jalan! Jangan lari!” Sekilas terdengar beberapa orang teriak demikian. Samar-samar dengan teriakan mereka yang menonton. Saya pasrah saat itu. Whatever will be, will be lah. “Ya Allah, aku padaMu”, bisik hati.

Begitu take off berhasil, otomatis saya terduduk. Kemudian tersadar, saya terbang! Seriously, saya terbang melayang-layang tanpa sayap dan tanpa mesin setinggi 3000 kaki!

“I’m flying without wings!”

Benar kata Opa, begitu terbang, kamu nggak akan lagi merasa takut atau khawatir. Yang kamu rasa hanya damai. Peaceful! You feel nothing but peaceful!

Sejenak saya merasakan kedamaian itu lalu tanpa pikir lama, tongsis pun beraksi. Nggak cuma jeprat jepret dari ketinggian, saya pun berhasil live report sama Opa saat melayang-layang di atas sana.

Rasa-rasanya baru 5 menit terbang, si Opa memberitahu bahwa dia akan ajak saya bermanuver ria. Sensasinya sungguh luar biasa! You may screaming out loud! Ternyata aksi manuver tadi menandai berakhirnya pengalaman terbang paralayang karena dibawah sana sudah ada landasan hijau yang menanti pendaratan kami.

And that’s it. Pengalaman gila kurang dari 10 menit yang tak kan terlupa. Adrenalin rush! Sensasi luar biasa yang memacu adrenalin kita sekaligus tantangan bagi diri sendiri. Iya, menjawab ketakutan dan ketidakpercayaan pada diri sendiri itu yang paling penting. Sebetulnya, saya baru melirik paralayang saat libur lebaran kemarin. Kebanyakan di rumah nonton program jalan-jalan di TV. Entah kenapa, tetiba saya langsung berkicau “saya ingin coba terbang paralayang”. Be careful of what you wish for! Tuhan tak pernah tidur. Jika Dia berkendak, maka terjadilah. *cring!

Paralayang atau paragliding (in English) sudah cukup dikenal di Indonesia, baik untuk tujuan rekreasi ataupun kompetisi. Toh kita punya beberapa lokasi yang bisa mengakomodir aktifitas ini kok. Selain di Puncak Bogor, kita juga bisa coba terbang paralayang di Batu Malang, Jogja dan Bali. Bahkan kata Opa, lokasi terbaik yang Indonesia miliki untuk terbang paralayang adalah Wonogiri.

Sensasi terbang tanpa sayap sungguh tak bisa saya deskripsikan. Harus langsung coba sendiri, baru tahu bagaimana rasanya. Takut boleh, tapi jangan terlalu takut karena kita terbang tandem dengan pilot yang certified, perlengkapannya juga komplit. Biaya yang harus dikeluarkan adalah 350ribu untuk sekali terbang.

Setelah ini muncul ajakan skydiving di Pondok Cabe dengan estimasi biaya 1,5 juta saja untuk merasakan sensasi terjun yang sesaat! Mau coba?

15196127372_beffe56471_o

– Puncak Bogor, 24 Agustus 2014 –

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *