Plesiran di Cirebon

“Maret akhirnya datang juga. Wake me up at 4 am on the first day of March! #MembunuhAkhirPekan”, kicauan saya di penghujung malam di akhir Februari lalu.

Sabtu,1 Maret – #MembunuhAkhirPekan sudah menjadi rutinitas yang selalu saya nantikan. Kali ini, saya melirik kota Cirebon yang konon sudah menjadi pilihan destinasi wisata akhir pekan warga ibukota dan Bandung. Beberapa kali saya temukan open trip yang menawarkan perjalanan ke Cirebon hanya dalam waktu satu hari, alias one day trip. Saya pikir-pikir, kalau hanya city tour, saya lebih menikmatinya tanpa rombongan orang tak dikenal yang kebanyakan foto diri. Saya ditemani @synthianatalia yang desperately ingin diajak jalan kemanapun di akhir pekan. Cocok!

Berbekal tiket kereta Cirebon Ekspress kelas bisnis seharga 90ribu yang sudah dipesan jauh-jauh hari, kami bertolak ke Cirebon dari stasiun Gambir dengan kereta pertama jam 6 pagi. Meski kurang tidur, perjalanan selama 3 jam dengan pemandangan serba hijau dan obrolan seru ala anak muda jaman sekarang (#halah), membunuh rasa kantuk.

Kereta yang tepat waktu, tiba di stasiun Cirebon pukul 9 pagi. Pelancong sok tahu pun beraksi. Katakan tidak pada becak dan tawaran transportasi lain. Katakan iya pada berjalan kaki meski “kesasar” mengintai.

Berbekal google maps, kami pun berjalan menyusuri jalanan kota Cirebon yang saya pikir cukup ramah. Google maps tidak 100% membantu, namun peta berjalan alias warga lokal tak pernah salah. Tibalah kami di hotel Sidodadi di Jalan Siliwangi No 72. Belakangan kami baru tahu, jarak berjalan kaki dari stasiun ke hotel ini jauh lebih dekat melalui jalur lain. Mungkin sekitar 10 menit berjalan. Tak apa, nggak kesasar nggak belajar.

Hotel Sidodadi cukup recommended mengingat lokasinya yang sangat strategis di Jalan Siliwangi, harganya yang masuk akal dan fasilitas juga kebersihannya yang cukup memuaskan.

Istirahat sejenak, lalu kami memulai petualangan hari ini dengan bergantung pada moda transportasi angkot dan becak. Berbekal ketidaktahuan dan rasa penasaran, kami berkenalan dengan kota udang ini. Dimulai dengan mencicipi makanan khas Cirebon yaitu Empal Gentong. Yang lagi naik daun adalah Empal Gentong Mang Darma yang berlokasi di Jl Slamet Riyadi No 1. Nggak bohong, empal gentong ini endes pisan :9

Perut kenyang, hati senang. Perjalanan sok tahu kami dilanjutkan ke Keraton Kasepuhan. Naiklah angkot sampai orang yang kamu tanyai di angkot pun sudah menyerah dan menyarankan kamu untuk meneruskan perjalanan naik becak. Oke, noted.

Memasuki Keraton Kasepuhan dengan tiket masuk seharga 8ribu.

Seperti inilah penampakan keraton dan sekelilingnya.

Yang membuat saya bertanya-tanya adalah kenapa mereka seakan “menyarankan” kami pengunjung untuk menaruh uang dimana-mana di setiap sudut museum.  Baru berjalan berapa langkah, sudah ada sindiran dan bisikan untuk kita taruh uang di atas barang-barang museum termasuk di kereta kencananya. Yah, ditaruh aja gitu. Nah seperti ini, taruh uang sembarangan sebagai pancingan. Padahal kan jadi mengurangi keindahan barang-barang museum. Katanya sih uang tip untuk penjaga museum. Hmm… mungkin perlu dipikirkan cara lain yang lebih tertib ya.

Sempat kembali ke hotel karena hujan yang mengguyur, bobo siang pun tak terhindarkan. Sore harinya kami melanjutkan perjalanan sok tahu kami ke Pelabuhan Cirebon hanya untuk berburu foto-foto cantik. Sempat baca salah satu point of interest di Cirebon adalah Taman Ade Irma Suryani. Ternyata sudah tak berlaku lagi sekarang. Tamannya sudah berubah menjadi lahan tak terawat.

Dari pelabuhan Cirebon, kami menuju Pantai Kejawanan. Yah, siapa tau bisa dapat tangkapan sunset ala Cirebon. Baru sadar belakangan, ternyata Pantai Kejawanan ini adalah lokasi untuk berburu matahari terbit, bukan matahari terbenam *wrong timing. Tapi sore itu terpantau ada beberapa fotografer lengkap dengan peralatan tempurnya sedang berburu foto kok.

Pantai Kejawanan yang terletak di Jl Yos Sudarso ini selain sebagai salah satu tempat wisata pantai warga Cirebon, juga sebagai tempat pengelolaan ikan sekaligus wisata terapi. Pemandangan apa adanya di Kejawanan dan sekitarnya ini sudah cukup bagus untuk diabadikan.

Jalan-jalan sore di pelabuhan, pantai dan tempat pelelangan ikan cukup memprovokasi perut ini untuk diasupi segala jenis seafood.

21.00 waktu setempat. Terpantau kawula muda mudi Cirebon mulai meramaikan jalanan dengan motor-motor kebanggaannya. Kami yang sudah cukup senior memilih menyudahi malam minggu ini karena kaki dan mata yang sudah tak sanggup lagi diajak berkelana. Pencapaian hari ini adalah berhasil naik turun angkot dan becak menelusuri kota.

Satu hal yang menarik tentang becak. Naik becak di kota Cirebon serasa naik wahana paling menakutkan sekaligus menegangkan. Betapa tidak, si abang becak tak pernah takut ambil jalur berlawanan arah. Seolah-olah kami penumpang yang ada didepannya akan ditabrakkan dengan kendaraan apapun yang ada di depan mata. puiiifh…

Minggu, 2 Maret – hari kedua dan terakhir di Cirebon. Kami pertaruhkan kesenangan hari ini pada ojek wisata yang kami sewa.  Tak dinyana, ojek wisata yang kami temukan di internet ini ternyata ojek bukan sembarang ojek. @plesirwisata nggak cuma mengantar boncengannya ke tempat-tempat menarik tapi juga lengkap dengan cerita-ceritanya. Jadi semacam travel guide. Mereka nggak perhitungan sama sekali, nggak rese, baik hati dan tidak sombong. Biaya sewanya hanya 50ribu dari jam 9 pagi sampai 4 sore, biaya termasuk bbm, tip driver dan parkir. Jangan khawatir, akang ojeknya bukan bapak-bapak yang seringkali sok tau dan nggak bisa dinego. Mereka pemuda-pemuda Cirebon yang juga punya visi meningkatkan aspek pariwisata di Cirebon. Seperti ini penampakan Kang Venggar dan Kang Fajar.

Seperti yang sering saya bilang, “There is always a moment when ojek is the only answer”.

Meski lokasi wisata yang ditawarkan adalah Keraton Kasepuhan, Masjid Sang Cipta Rasa, Keraton Kanoman, Gua Sunyaragi, Wisata Batik Trusmi dan belanja oleh-oleh khas Cirebon, tapi ojek wisata ini menawarkan lebih dari yang tersebut tadi. Open to discuss gitu deh. Bahkan kami yang ngidam durian pun bisa diakomodir. Jadi, seperti inilah meriahnya ngojek di kota Cirebon.

Keraton Kanoman, salah satu dari 3 keraton yang ada di Cirebon, selain Kasepuhan dan Kacirebonan. Breaking News: di halaman Keraton Kanoman siang itu sedang sibuk persiapan acara doa bersama untuk besok malamnya. Doa bersama Charlie Van Houten. Iya, Charlie ST12. Sangat menyesal karena harus melewatkan moment doa bersama kang Charlie. Hiks.

Masih di Keraton Kanoman, ini rumah sederhananya Pangeran Patih Kanoman XII yang berbaur dan mudah ditemui.

Melengkapi wisata Keraton di Cirebon, kami pun diajak ke Keraton Kacirebonan. Siang itu sedang ada rapat Sang Sultan bersama panitia Cultural Evening Cirebon di pendopo keraton. Tapi somehow kita masih bisa masuk ke dalam keraton dan ndak masalah. Duh, santai banget nih Sultan.

Di Cirebon, wajib kunjungi Gua Sunyaragi yang hijau di mata. Situs peninggalan sejarah di Cirebon dengan luas hingga 15 hektar. Sesuai dengan namanya, “sunya” artinya sepi dan “ragi” artinya raga, Sunyaragi dulu adalah tempat istirahat dan meditasi Sultan & keluarganya.

Ada 12 bagian di Gua Sunyaragi. Ini salah satunya, Gua Peteng.

Masih di Sunyaragi. Konon bila pintu ini ditelusuri terus, akan bisa membawa kita ke Mekkah. Tadinya mau coba, tapi ndak berani karena ndak bawa paspor.

Ada semacam amphitheater juga di Sunyaragi, tempat kesenian tradisional Cirebon dipertontonkan. Lihat!

Saat di Cirebon, wajib icip kue tapel. Serius enak. Rasanya garing manis terbuat dari beras ketan + pisang + gula merah + senyum penjual. Perkenalkan mimi Lena yang sudah memulai usahanya cukup lama di lapak kecil ini di Gg Alas Demang 3 No 35.

Melewati Jl Karanggetas Cirebon yang penuh misteri. Konon siapapun yang memiliki “ilmu” enggan melewati jalan ini karena seketika ilmunya akan menghilang seakan-akan diserap oleh energi yang lebih besar. Atau mereka yang memiliki jabatan pun akan menghindari jalan fenomenal ini karena konon jabatannya akan lepas dalam waktu yang tidak lama.

Masjid Jagabayan, yang nggak kelihatan seperti masjid ini sesungguhnya adalah salah satu cagar budaya Cirebon, tempat para wali dulu berkumpul. Sekarang banyak orang yang ke masjid ini demi air dari sumur keramat yang ada di sana. Plus doa-doa yang konon mujarab dari si penjaga masjid.

Nggak cuma keliling kota Cirebon, kami pun plesir sampai kabupatennya: Astapada, Jamblang, Plered dan sekitarnya. Salah satu tujuan ngojek yang highly recommended di daerah Astapada adalah CV Multi Dimensi, sebuah pusat kerajinan kerang (show room dan pabriknya). I can guarantee, you’ll be amazed dengan hasil kerajinannya yang menakjubkan. Kualitas tak diragukan lagi, sudah diekspor hingga ke Eropa. Sampai saat ini sudah ada 3 showroom di Bali dan 1 showroom di Jogja. Sayangnya, tidak boleh berfoto di dalam showroom. Dan juga pabriknya yang tutup di hari Minggu.

“Mau makan nasi jamblang, ya ke Jamblang”, ujar Fajar seraya membakar rokoknya.

Ini lho nasi jamblang, masakan khas Cirebon. Semacam prasmanan dengan berbagai lauk yang menggoda iman.

Cari oleh-oleh khas Cirebon? Musti banget ke Batik Trusmi yang terdaftar di rekor MURI sebagai toko batik terluas se-Indonesia Raya. Motif batik khas Cirebon ya mega mendung. Yang saya beli ini campuran motif mega mendung dan beras tumpah. Cantik bukan?

Sebelum diantar ke stasiun, kami menikmati sore seraya ngemil es duren di depan alun alun Kejaksan. Padahal 2 jam sebelumnya kami sudah menikmati satu durian utuh. Kepingin banget semacam ngidam gitu mungkin. Yang kocak adalah si Kang Vengar yang tetiba pucet cet cet dan mengeluh pusing sesaat setelah menghabiskan es durennya. Mabok duren sepertinya dia X)) Duh, jadi merasa bersalah kalau sampe besok dia harus terkapar dan nggak bisa kerja.

Di stasiun Cirebon. Stasiun ini sungguh likeable karena suasananya yang tidak terlalu sibuk plus suguhan musik tradisional dari ujung pengeras suara.

Meninggalkan Cirebon dengan senyuman karena lagi lagi successfully #MembunuhAkhirPekan

Tangkapan kamera handphone ala kadarnya selama di Cirebon bisa diintip disini.

Sekilas info: yang kepingin ke Cirebon, mungkin bisa cocokkan jadwal dengan acara keren #RentengBudaya yang akan diadakan tanggal 5 – 10 Mei 2014 seminggu suntuk di kota Cirebon.

 

2 Responses so far.

  1. bro, gw terharu dengan kisah lu.. hiks :(
    makasih bgt udh mau expose cirebon untuk publik, makasih bgt udh mau jd keluarga/sahabat kami di cirebon.

    jangan lupakan keluargamu di cirebon.
    we love u :)

    • ellie says:

      hehe… saya yang beruntung bisa ketemu kalian disana. Bikin cerita Cirebon jadi lebih seru lagi.

      Keep doing what you’re doing ya, demi Cirebon tercinta :)

      Suatu hari nanti, saya main2 lagi pasti ke Cirebon, mencari cerita lain disana.

      Love you back!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *