Semalam di Cianjur

“Kan kuingat… Di dalam hatiku… Betapa indah… Semalam di Cianjur”

Nggak apa-apa kalo kamu nggak kenal lagu ini. Toh lagu ini memang lagu lawas ciptaan Alfian Nasution di tahun 1963. Tapi saya pribadi sedikit familiar dengan lagu dan liriknya. Semoga kamu pun demikian.

Kurang lebih sama, penyanyi tahun 60-an ini menceritakan pengalamannya menghabiskan satu malam di Cianjur yang tak terlupakan.

Saya semacam diculik 2 pria ini ( Dida Pratama & Harmuzan Tazril) dan #MembunuhAkhirPekan bersama mereka. Lebih tepatnya sih kami menghabiskan semalam di Cianjur dan semalam lagi di Sukabumi dalam perjalanan ke Cianjur.

Road trip dari Jakarta ke Cianjur membawa serta si tangguh Marno menghabiskan waktu 8 jam. Waktu ini bukan untuk dijadikan patokan ya, karena saat itu kami nyetir kelewat santai. Maksud saya, 2 supir saya ini nyetir kelewat santai. Heu…

Dengan tujuan utama Situs Gunung Padang di Cianjur dan Paralayang di Puncak Bogor, toh realita nya kami dapat lebih banyak dari itu. Perjalanan sok tahu berbekal Google Map membawa kami ke jalur yang kurang tepat. Via Sukabumi, kami terbawa ke jalanan yang rusak parah. Melewati gelapnya malam, rumah-rumah penduduk yang sudah sepi, kebun teh di sebelah kanan, jurang di sebelah kiri, dan disinari bulan penuh, sungguh rasa deg-degan bercampur aduk dengan rasa penasaran “are we gonna make it or not?”

Saat Google Map meragukan, saatnya bertanya ke penduduk lokal yang surprisingly masih ada berkeliaran saat dini hari. Ternyata jalan rusak ini memang bisa membawa kita ke Gunung Padang, hanya saja memang ini bukan jalan yang biasanya diambil. Huft.

Situs Megalitikum Gunung Padang

5.30 pagi, akhirnya kami tiba di Situs Megalitikum Gunung Padang, yang berlokasi di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur (sekitar 50km dari Cianjur) setelah perjalanan panjang 8 jam dari ibukota. Dinginnya udara pagi di ketinggian 885 mdpl langsung menyambut kami. Loket masih tutup, kami dipersilakan naik terlebih dahulu. Ya semacam naik angkot “naik gratis, turun bayar”. Tiketnya 2 ribu rupiah saja per orang.

Saat akan memasuki area situs, kita akan dihadapi 2 pilihan. Mendaki 378 anak tangga dengan tingkat kecuraman 80 derajat dengan estimasi jarak lebih dekat namun menguras tenaga, atau mendaki 700an anak tangga dengan jarak yang lebih jauh namun lebih santai? Pilihan pertama merupakan tangga asli yang merupakan satu kesatuan dari konstruksi punden berundak. Sedangkan tangga kedua merupakan tangga buatan pemerintah dan warga lokal guna mempermudah pendakian.

Sebagai anak muda, tentu saja kami sanggupi pilihan pertama meski dengan susah payah dan ngos-ngosan. Ternyata rencana Tuhan membawa kami ke sini tepat pada waktunya. Sang mentari sedang bersiap menampakkan diri dari ujung timur sana. Aaah… penyambutan yang sungguh luar biasa.

Hanya dengan mata telanjang mengamati pemandangan sekitar, terlihat megahnya Gunung Gede dari kejauhan. Ada juga Gunung Karuhun, Pasir Emped Gunung Malati dan Gunung Pasir Malang. Jadi meski tanpa tahu sejarah dan berbagai versi cerita tentang apa yang sesungguhnya ada di dalam situs itu, kita sudah bisa menikmati Gunung Padang. Terlebih di pagi hari, saat udara masih sangat sejuk dan pengunjung belum ramai. Seolah-olah Gunung Padang adalah milik kita sendiri.

Jadi, usahakan datang pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit. Dan jangan lupa untuk mampir ke warung ini sekedar untuk minum teh hangat, menyantap gorengan panas dan makan mie rebus atau mie goreng.

Stasiun Tua Lampegan

Beranjak dari Situs Gunung Padang, akhirnya kami menemukan jalan yang seharusnya. Jalanan yang lebih baik lengkap dengan pemandangan kebun teh di pagi hari. Tanpa diniati di awal, tibalah kami di stasiun Lampegan yang berjarak hanya 8 km dari Gunung Padang. Hati gembira tak terkira. Pasalnya, setiap pejalan yang berkunjung ke Cianjur, pasti mampir ke stasiun tua ini dan pamer foto di terowongan Lampegan.

Stasiun Lampegan dibangun pada tahun 1882 sebagai stasiun penjaga terowongan Lampegan. Pada tahun 2001 stasiun ini sempat ditutup karena tanah longsor namun kembali difungsikan pada tahun 2010. Sedangkan terowongan Lampegan sendiri adalah terowongan pertama yang dibangun di Jawa Barat. Nggak heran, stasiun dan terowongan ini memiliki daya tarik tersendiri untuk kita abadikan.

Beruntung. Setibanya kami di stasiun Lampegan, tepat saat KA Siliwangi dari Cianjur menuju Sukabumi akan lewat. Sekali lagi, perfect timing.

Curug Cikondang

Puas berburu foto di stasiun Lampegan, lalu kami bingung mau kemana lagi. Karena badan yang lengket dan gerah, tetiba ada yang nyeletuk “mandi di kali yuk!” Iseng punya iseng, kami coba bertanya ke penduduk lokal dimana kami bisa menemukan sungai atau curug. Dan ternyata ada! Meski katanya cukup jauh, tapi kami bertekad bulat untuk menemukan Curug Cikondang ini.

Meski dari sumber internet mengatakan jarak Lampegan ke Curug Cikondang hanya sekitar 7 km, namun perjalanan kami rasa jauh lebih panjang. Bagaimana tidak, jalanannya rusak parah. Jadi kami harus ekstra hati-hati dengan kecepatan hanya 5km/jam. Setiap kali bertanya ke penduduk yang kami lewati, jawaban mereka selalu sama “Wah, masih jauh”.

Setelah 1 jam lebih, akhirnya tampak air terjun dari kejauhan. Dengan ketinggian sekitar 50 m dan debit air yang cukup deras, curug ini tampak cantik di siang hari saat kami tiba. Hasrat menceburkan diri di kubangan air ini pun tak terbendung.

Namun, baru saya tahu belakangan, baiknya kita menghindari kontak langsung dengan air ini. Konon airnya sudah tercemar limbah merkuri akibat aktifitas pencucian emas dan timah yang dilakukan para penambang. Pantas, sebelum turun ke air terjunnya, kami sempat melihat dan bertanya-tanya tentang mesin-mesin besar yang ada di atas air terjun. Airnya pun tak sejernih yang diharapkan. Waduh, sudah terlambat. Dua teman saya dengan asyiknya mandi di sana. Saya pun tak ketinggalan cuci muka. That’s alrite. We are fine. (for now)

Malam di Cianjur

Menghabiskan malam di Cianjur, kami memilih memanjakan perut. Mulai dari martabak hitam sampai sop duren. Kota Cianjur cenderung sepi meski di malam minggu. Tak banyak tempat nongkrong anak muda. Atau mungkin kami yang kurang informasi. Entahlah. Yang pasti kami cukup menikmati satu malam di Cianjur.

Paralayang di Puncak Bogor

Minggu, 24 Agustus 2041 – Pagi di Cianjur dan kami siap meninggalkan kota tauco ini menuju Bogor demi menutup perjalanan akhir pekan dengan klimaks.

Iya, kami merencanakan menutup perjalanan kali ini dengan “something BIG”. Harus klimaks ceritanya.

Sudah berkomunikasi dengan Opa David sejak kemarin, kami merencanakan bisa terbang paralayang di Puncak Bogor hari ini setelah kemarin gagal terbang karena angin yang kurang bersahabat. Sambil menunggu angin bertiup ke atas, kami berkesempatan ngobrol seru dengan Opa David, sang master paralayang Indonesia. Obrolan yang sangat menyenangkan sekaligus inspiratif! Mau tau apa saja yang beliau ceritakan? Baca obrolan (hampir) lengkap kami di sini.

Dan semesta mendukung! Setelah harap-harap cemas menanti angin yang sejak pagi kurang baik, akhirnya menjelang siang, alam memperbolehkan kami merasakan sensasi terbang tanpa sayap dan tanpa mesin.

“Ladies first”, begitulah alasan dari 2 rekan saya karena mereka terlalu takut terbang pertama. Hih. Mereka pikir saya berani? Tapi apa boleh buat, tanpa disadari, tim paralayang sudah mempersenjatai saya dengan segala perlengkapan terbang itu. What?! Oke fain, there is no way back! Saat itu saya sudah menjadi pusat perhatian seluruh orang yang ada di landasan Agrowisata Puncak karena I was the very first to fly on the day.

Dipiloti sendiri oleh Opa, saya merasa lebih tenang. Dan benar saja, rasa takut diawal, seketika akan menghilang saat kamu sudah terbang. You feel nothing but peaceful…

Bagaimana bisa akhirnya saya menjawab tantangan terbang paralayang? Temukan cerita serunya terbang paralayang di sini.

Too much excitement sudah wiken ini. Ingat, segala yang berlebihan itu tidak baik untuk kesehatan. Jadi, sudah waktunya pulang meski muka ini tak mampu menyembunyikan sumringah yang tak kunjung pudar. Foto-foto seru dari trip akhir pekan Cianjur bisa ditengok di sini.

Thank you for kidnapping me @didapratama and Harmuzan Tazril. Thanks for the moment we shared!

Cianjur, 22 – 24 Agustus 2014

2 Responses so far.

  1. @didapratama says:

    Ehm.. yg pertama komen. Hahah..
    Pertama, tolong dikoreksi, kebun teh ada di sebelah kiri kita, yg sebelah kanan itu jurang. Kedua kenapa gak ngomong klo itu air terjun ada kandungan merkuri nya????!!!
    Ketiga, boleh loh setiap ada nama gw nya di link ke akun instagram gw.. hahaha

    Thank you jeng ellie a.k.a ENUR
    Hahaha…

    • ellie says:

      Eh makasih loh…
      Pertama, kiri atau kanan, yang penting kombinasinya bener, kebun teh sama jurang. Ya maap, kan saya tertidur 😀
      Kedua, lah saya pun baru tauuu… nyesel juga cuci muka disono. Heuheu..
      Ketiga, wani piro??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *