Senja Terindah di Baluran

Saya bukan pemburu senja, hanya pengagum saja. Tapi kapanpun ada kesempatan menikmati saat terbenamnya matahari itu, saya dipastikan ada di barisan depan. Entah itu mengejarnya secara sengaja atau secara tak sengaja.

Sebut saja senja di ujung laut, senja di tepian pantai, senja di bandara, senja di ujung jalan sana, hingga senja yang tampak diantara gedung-gedung tinggi khas ibukota. Tapi lain rasa dan sensasinya saat saya secara tak disangka-sangka diberkati dengan pemandangan senja ala TN Baluran.

Sore itu, 4 April 2014, saya dan rombongan sedang asyik menikmati keelokan Africa Van Java, Baluran. Saat perjalanan pulang melewati padang savanna-nya, kami dikejutkan dengan lukisan maha dahsyat Sang Pencipta sore itu. Seakan kami adalah orang-orang terpilih yang diberi hak istimewa untuk menikmati karya-Nya secara cuma-cuma. Yang harus kita lakukan hanyalah berhenti sejenak, turun dari kendaraan, menatap takjub untuk sesaat, mengucap syukur dan tak hentinya memuji kuasa Tuhan, lalu ditutup dengan jeprat jepret mengabadikan moment langka itu. [meski tak tertangkap baik dengan kamera smartphone saya].

Sungguh, bahkan saya masih tak sanggup berkata-kata tentang keelokan langit Baluran kala itu. Tak pernah saya melihat golden sunrise sesempurna itu. Semburat warna keemasan yang menutupi sebagian besar langit Baluran sore itu menjadi latar pepopohan dan rerumputan padang savanna, lengkap dengan pasukan monyet yang menghadang kami di tengah jalan seakan mereka pun tak ingin melewatkan moment golden sunset bersama kami.

Ah, sebagaimana pun indahnya saya berkata-kata mencoba melukiskan bukti keagungan Tuhan, saya tak akan mampu menjelaskannya. Not even closer. Percayalah, yang tertangkap mata jauh lebih indah dari kamera pro manapun.

Tuhan, terima kasih atas kemurahan hati-Mu berbagi rejeki tak ternilai ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *