SUMBA, dari Barat ke Timur

“Sumba is a dynamic mystery. With its rugged undulating savannah and low limestone hills knitted together with more maize and cassava than rice, physically it looks nothing like Indonesia’s volcanic islands to the north. Sprinkled throughout the countryside are hilltop villages with thatched clan houses clustered around megalithic tombs, where villagers claim to be Protestant but still pay homage to their indigenous marapu with bloody sacrificial rites.”

Demikian petikan ulasan LonelyPlanet yang juga mengingatkan kita bahwa Sumba adalah one of the poorest island in Indonesia. 

Kemiskinan, sangat jelas terlihat di pulau ini, terlebih Sumba bagian barat dimana dengan mudahnya kita akan temukan anak-anak dengan kondisi yang kurang menyenangkan, baik kesehatan maupun pendidikannya. Juga konon tingginya tingkat kriminalitas di Sumba Barat yang tentu bisa dikaitkan dengan kehidupan ekonomi mereka. Ada beberapa sumber yang mengatakan kemiskinan mereka tak ayal adalah karena tradisi/adat istiadat yang masih mereka pegang erat. Tradisi yang mengharuskan mereka menghabiskan banyak uang untuk potong kuda atau babi di setiap upacara atau perayaan adat yang menyangkut kepercayaan mereka, yaitu Marapu.

Sayangnya karena saya bukan [atau belum jadi] menteri pendidikan, menteri perlindungan anak, menteri kesehatan, menteri sosial, atau menteri pariwisata dan budaya, saya bisa apa? Sebagai awam yang suka jalan-jalan, dibalik kemiskinan itu justru saya temukan harta karun luar biasa!

Waktu 5 hari 4 malam pun dirasa kurang untuk bisa menikmati harta karun itu. Bahkan mungkin masih banyak yang masih terpendam. Tapi setidaknya,, nikmati saja dulu apa yang ada di depan mata. Kira-kira seperti ini perjalanan saya bersama FunAdventure merambah Sumba, mulai dari Barat hingga ke Timur.

Sekilas tentang Sumba. Sumba adalah sebuah pulau dengan luas 10.710 km² yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur. Berbatasan dengan Sumbawa, Flores, Timor dan Australia, Sumba terdiri dari 4 kabupaten, yaitu Sumba Barat, Barat Daya, Tengah dan Timur.

Day 1: Tambolaka – Ratenggaro – Pantai Pero

Tambolaka bisa ditempuh jalur udara melalui Bandara Ngurah Rai di Bali atau Bandara El-Tari Kupang. Belum banyak pula pilihan akomodasi di Sumba Barat. Hotel Sinar Tambolaka bisa jadi pilihan yang terbaik.

Ratenggaro – Menuju Barat Daya, dengan perjalanan darat selama +/- 90 menit dari Tambolaka, tibalah di Kampung Adat Ratenggaro di Desa Umbu Ngedo. Kampung adat ini memiliki keunikan tradisi berupa rumah adat yang disebut Uma Kelada dengan atap yang menjulang tinggi hingga 15 meter, termasuk yang tertinggi dibandingkan rumah adat Sumba lainnya. Selain itu, di kampung ini terdapat pula ratusan kubur batu yang sangat bersejarah karena ternyata Ratenggaro itu sendiri pun memiliki arti Kubur Garo.

Photo by @FunAdventure_

Photo by @FunAdventure_

Kampung adat Ratenggaro berada persis di bukit pinggir pantai Ratenggaro yang berpasir putih.

Perjalanan berlanjut menuju Pantai Pero dengan tujuan utama menangkap salah satu dari sejuta sunset cantik di #NegertiSejutaSunset ini. Tapi sayang, alam berkata lain. Hujan menyapu bersih panggung langit si senja.

Day 2: Danau Weekuri – Pantai Mandorak – Kampung adat Tarung

The next day, early in the morning, bergegaslah untuk menikmati keindahan Sumba Barat lainnya.

Danau Weekuri – Ada Danau Weekuri yang sebening kaca di daerah Kodi Utara, 60km dari pusat Tambolaka. Tidak seluas Danau Toba, tapi layak disandingkan dengan danau-danau terkenal lainnya di Indonesia. Airnya air payau, campuran dari air tawar dan air laut yang masuk dari celah-celah tebing yang mengelilinginya. Begitu melihat jernihnya air danau ini, rasanya ingin langsung menceburkan diri tanpa aba-aba. Tapi tahan dulu, untuk kepentingan foto yang instagramable, baiknya explore dulu Danau Weekuri dari ketinggian tebing-tebing yang mengelilinginya.

Begitu sudah puas mengambil foto kecantikan Weekuri from the top and from different angle, the lake cannot wait anymore for you to jump!

Photo by @FunAdventure_

Photo by @FunAdventure_

Pantai Mandorak – salah satu aset pantai menawan milik Sumba adalah Pantai Mandorak yang terletak di Desa Kalena Rongo, Kec Kodi Utara, masih di Sumba Barat Daya. Lokasinya yang tersembunyi di balik tebing curam dan hanya selebar 50 meter, juga akses menuju pantai ini yang belum sempurna, menjadikan pantai ini lebih istimewa.

Photo by @FunAdventure_

Photo by @FunAdventure_

Kampung Adat Tarung – Menuju Sumba Barat, tepatnya ibukota kabupaten Waikabubak, kami mengunjungi salah satu kampung adat dimana tradisi, adat dan kepercayaan Marapu masih sangat kental. Kampung Tarung, yang konon adalah potret terbaik untuk melihat dan bersentuhan langsung dengan kepercayaan Marapu. Di kampung ini masih banyak dan rutin diadakan upacara-upacara adat dan keagamaan.

Day 3: Tarimbang – Bukit Warinding – Puru Kambera

Sumba Paradise Resort – Hari ketiga, kami sudah mencapai Sumba Timur. Tepatnya sejak malam kedua, kami sudah menginap di the famous Sumba Paradise Tarimbang, formerly known as Peter’s Magic Tarimbang. Pergantian nama yang dilatarbelakangi oleh urusan pribadi mixed couple ini.

Kesan resort mahal di perbukitan dengan pemandangan hijau pepohonan dan biru laut di depan mata juga eco living, dan open bathroom concept, menjadikan resort ini incaran para wisatawan. Cocok untuk yang ingin melarikan diri dari kebisingan khas ibukota. Minim listrik dan pencahayaan, no signal, no TV dan hiburan lainnya. Relax and enjoy every breath you take!

Pantai Tarimbang – Berkendara kurang dari 30 menit dari resort menuju Pantai Tarimbang dengan akses jalanan yang kurang bersahabat, membawa kami ke salah satu pantai terindah yang pernah saya tatap.

Sunbathing kah, berenang-renang lucu kah, hammock-an kah, berselancar kah atau bahkan hanya sekedar foto-foto cantik dan santai di pantai. All you can do at Tarimbang Beach. Dan cenderung sepi as if this is our private beach!

Perjalanan kami lanjutkan menuju Waingapu.

Karena cerita tanpa drama itu bagaikan sayur tanpa garam, maka perjalanan darat tanpa pecah ban pun seperti taman tanpa bunga. -_-

Bukit Wairinding – After all the drama, tibalah kami di Bukit Wairinding, salah satu spot terkenal lokasi pengambilan gambar film Pendekar Tongkat Emas.

Terletak di Desa Pambota Jara, Kec Pandawai atau sekitar 30 menit perjalanan dari pusat kota Sumba Timur, Bukit Wairinding adalah spot paling tepat untuk menikmati landscape Sumba yang khas dengan padang savanna-nya.

Duduklah sejenak menatap padang savanna itu sambil menikmati hembusan angin kencang, niscaya kamu akan terbuai dan sesaat akan terbawa ke salah satu scene film PTE. Bagi yang belum nonton PTE, mungkin kamu akan merasa terbawa ke film lain yang serupa 😛

Sekilas Info, dari informasi yang saya baca, Sumba Timur berpotensi menjadi gurun karena hilangnya vegetasi dan penurunan kelembaban tanah di daerah ini. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil penelitian seorang peneliti ilmu kehutanan yang mengambil sample dari Bukit Wairinding.

Puru Kambera – pantai indah lainnya di Sumba adalah Puru Kambera. Sayang disayang karena drama kendaraan yang tak ingin lepas dari rombongan ini, terpaksa kami tiba di Puru Kambera right before sunset. Meski tak sempat bermain air di pantai ini, kami bersyukur karena kami masih bisa menikmati senja menawan di pantai ini.

Day 4: Bukit Mau Hau – Pantai Walakiri – Danau di Laipori –  Desa Adat Rende – Pantai Walakiri for sunset

Bukit Mau Hau – atau lebih dikenal dengan nama bukit persaudaraan karena konon dulu sekali pernah terjadi perang antar saudara di bukit ini.

Karena ngantor nggak harus di kantor. Dan Senin nggak harus ngeselin.

Pantai Walakiri –Pantai Walakiri terletak di kelurahan Watumbaka, kecamatan Pandawai sekitar 24 Km dari Kota Waingapu. Pantai ini dibandingkan dengan Tarimbang lebih ramai. Mungkin karena lokasinya yang tidak jauh dari pusat kota dan juga dari pemukiman warga. Memiliki pasir putih yang halus dan garis pantai yang cukup panjang, pantai ini juga memiliki barisan mangrove yang akan sangat cantik diabadikan senja nanti.

Semakin siang menuju sore, air laut di pantai ini akan surut sehingga garis pantai akan semakin melebar hingga lebih 300meter.

Danau di Laipori yang kering kerontang – Danau ini juga dijadikan lokasi syuting film PTE. Namun sayang, yang kami lihat kemarin adalah hamparan endapan basah hampir kering yang tersisa dari danau ini. Tapi masih fotoable kok 😉

Desa adat RendeKampung Raja Praiawang Rende atau singkatnya Desa Adat Rende, terletak sekitar 60 km dari ibukota Sumba Timur, Waingapu, tepatnya di Kec Rende. Desa Rende yang juga memiliki rumah tradisional unik dengan atapnya yang menjulang,  juga terdapat sejumlah makam batu di depan rumahnya. Makam batu tertua di desa ini sudah berusia lebih dari 200 tahun.

Salah satu rumah di desa ini digunakan untuk menyemayamkan jenazah selama 1 – 2 minggu untuk mereka buatkan pesta sebelum nantinya jenazah dipindahkan ke rumah lain menunggu waktu hingga bertahun-tahun untuk akhirnya dimakamkan. Menunggu waktu bisa berarti menunggu dana terkumpul karena upacara pemakaman yang juga sekaligus pesta itu membutuhkan biaya tidak kecil. Sebut saja beberapa ekor kuda, babi dan persembahan lainnya.

Personally, saya menikmati desa ini karena anak-anak ini mau diajak berkomunikasi bahkan mengajari saya berhitung dalam bahasa Sumba!

Senja di Pantai Walakiri – keindahan pantai ini membuat kami memutuskan untuk kembali ke sini demi menikmati sunset ala Pantai Walakiri, lengkap dengan mangrove-nya. Persis seperti foto-foto cantik yang beredar di Instagram.

 

Day 5: Kampung Adat Raja Prailiu – Berburu tenun ikat Sumba

Untuk urusan oleh-oleh atau souvenir khas lokal, Sumba ini terbilang cukup mahal dibandingkan daerah lain. Tapi jika dilihat lebih detail dan mendalam, worth it kok. Pastikan berburu tenun ikat Sumba di tempat-tempat yang semestinya, seperti di Kampung Adat Raja Prailiu.

Oleh-oleh sudah di tangan, saatnya kembali ke peraduan. I’m thinking of coming back to Sumba some time, with boxes of books! God’s will! Amin.

More photos from the beautiful Sumba click here.

–       SUMBA, 29 Mei – 2 Juni 2015 –

Note: atas alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, saya baru menyusul rombongan open trip FunAdventure di hari-2. Kzl but nothing I can do. Thank you FunAdv for being flexible! Thank you Shelly and Kak Alex. Terima kasih juga teman-teman baru yang super duper menyenangkan. Salim ke tuan rumah Sumba: Kak Joe, kak Agus Hong, dan Kak Ciput. Juga teman-teman seperjalanan: Kak Fara, Kak Sisco, Kak Oni, Mbak Fitri, Mas Anto, Indi, Cenny, Ibu Magda, Ibu Clara dan rombongan Bapak Ibu Dokter Gigi. Another successful story of #MeetTheStrangers. 

3 Responses so far.

  1. Ada nama aku… Ada nama aku…..
    #edisinorak #gagalmoveon

  2. Brendan says:

    Very impressive post! Way to go Ellie!

  3. galuhsadewo says:

    woow , sumba yang indah sayang belum berkesempatan kesana. tak sengaja nemuin ini ternyata kakak ellie :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *