Terbawa Arus Emosi di Museum Tsunami

Konon katanya, kota Aceh justru semakin maju pasca bencana tsunami tahun 2004 silam. Kehilangan ratusan ribu warganya, kehilangan sanak saudara, kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda, bahkan mungkin kehilangan semangat untuk terus hidup. Tapi kita bisa apa selain berpasrah pada Yang Maha Memiliki, karena yakin Dia punya rencana lain. Dan betul saja, Aceh bangkit dan semakin maju. Kota-kota bahkan negara lain berkaca pada pengalaman ini yang sesungguhnya tidak ingin kita alami lagi.

Mungkin inilah alasan dibangunnya Museum Tsunami Aceh. Bukan untuk terus-terusan bersedih dan mengingat pedihnya bencana itu, namun sebagai motivasi untuk kita terus maju. Bencana sedahsyat itu bisa kita lalui. Mata dunia pun tertuju pada kita. Rasa kemanusiaan diuji dan terbukti solidaritas dunia mampu membangun Aceh kembali. Lihatlah Aceh sekarang.

Untuk bisa merasakan semangat sekaligus membangkitkan empati pada kejadian delapan tahun silam, mengunjungi Museum Tsunami Aceh mungkin adalah jawaban yang paling tepat.

Persiapkan mental saat memasuki museum ini karena dijamin sisi kemanusiaanmu akan terombang ambing menyaksikan setiap sudut museum. Belum pun memasuki pintu masuk museum, saya sudah dibuat merinding dan berkaca-kaca hanya dengan melihat rangka helikopter yang ada di depan museum ini.

Semakin ke dalam memasuki museum, kita akan dibawa semakin dalam ke perasaan-perasaan emosional seakan kita diajak merasakan duka dan pedih para korban tsunami 2004 silam. Diawali dengan lorong gelap gelombang tsunami setinggi 40 meter yang dilengkapi dengan efek air jatuh dan cipratannya, seketika kita bisa sedikit merasakan air bah itu.

Di ruang video, kita akan diajak kembali menyaksikan koleksi video yang merekam detik-detik terjadinya bencana di Minggu pagi itu. Dengan durasi kurang lebih 20 menit, sudah cukup membawa kita semua kembali ke pagi itu hingga ikut merasakan duka terdalam. Baiknya siapkan tisu secukupnya.

Memasuki sudut lain museum yang disebut Jembatan Harapan, dimana menampilkan 52 bendera para pendonor yang membuktikan solidaritas konkrit masyarakat dunia dalam membantu Aceh. Bukan uang yang sedikit memang, donasi dunia yang jumlahnya hingga ratusan juta dolar itu turut bantu membangun Aceh menjadi seperti sekarang ini.

Tidak semua tentang uang dan materi. Dukungan moril pun tak kalah penting. Banyak organisasi lokal maupun internasional yang turut ambil bagian membangkitkan Aceh. Cara mereka mengekspresikannya pun beragam. Ada satu ruangan di museum ini yang menampilkan hasil karya seni para perupa yang dengan caranya sendiri meluapkan simpatinya. Seperti karya seni yang membuat saya takjub seperti ini.

Dari semua sudut ruangan, ada satu ruangan yang sungguh berhasil membuat saya merinding. Memasuki ruangan kecil ini, seketika itu pula bulu kuduk berdiri. The Light of God, berbentuk seperti cerobong dengan tulisan “Allah” menyala di puncaknya dan nama-nama korban yang terpatri di dinding yang melingkar. Merinding seolah semua pemilik nama di dinding ini mentransfer perasaannya. Masih ada kesedihan, namun perasaan ikhlas bisa kita rasakan. Percaya, mereka pasti mendapat tempat yang layak di dekat Tuhan. Amin.

Lalu bagaimana perasaanmu saat kamu melihat namamu terpampang di dinding ini? Dan kamu cukup dekat untuk menyentuh nama itu…

Aceh, 4 Mei 2014 

Post Tagged with ,

One Response so far.

  1. saia says:

    keren kak…
    terimakasih sangat telah berbagi banyak cerita dari aceh :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *