Tulus Setulus-tulusnya…

Pertama kali mendengar nama Tulus, saya pikir itu nama panggung. Eh ternyata nama asli bawaan lahir. Muhammad Tulus Rusydi, kelahiran Bukittinggi, tanah Minang 27 tahun yang lalu. Penilaian singkat dari jauh, saya pikir nggak ada nama lain yang lebih pas untuk lulusan arsitektur Unpar ini.

Semua orang yang pernah mendengarkan lagu-lagu Tulus pasti mengiyakan kelihaian Tulus dalam hal menulis lagu. Kenapa ya kok kata-katanya bisa sebegitu menyentuh? Liriknya bisa dibilang sederhana, tapi juga nggak sederhana. Penyusunan dan pemilihan kata demi katanya bisa dibilang nggak umum. Menarik!

Begini sih jawaban yang sejauh ini dia rasa paling pas. Karena Tulus lahir dan besar di Bukitinggi, tanah Minang dan disanalah budaya sastra masih sangat kental di kehidupan sehari-hari. Menurut kita memang bahasa-bahasa Tulus nggak umum, tapi di kampungnya sana, bergaya bahasa seperti itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Wah, kebayang dong kalo bisa tinggal beberapa saat di sana. Pulang-pulang bisa jadi penyair dan puitis seketika!

Informasi tadi saya dengar langsung dari Tulus saat Meet & Greet menjelang #KonserGajahTulus Jakarta di Balai Kartini kemarin malam [2 Desember 2014]. Nekat membeli tiket VVIP yang nggak murah ternyata membawa kepuasan besar plus bonus Meet & Greet. Berbaur dengan 4000an penikmat musik Tulus lainnya, saya seketika terhipnosis oleh aura ketulusan yang terpancar dari setiap kata yang terucap dan musik yang mengalun. Sungguh malam yang luar biasa!

Total 21 lagu berhasil membius dan meluluhlantakkan hati ini. Semua lagu dari album pertama dan keduanya dinyanyikan, termasuk “Mengagumi dari Jauh” yang jarang banget dibawakan. Bahkan ini kali pertama saya mendengarkannya live on stage. Juga nggak ketinggalan lagu baru Tulus yang merupakan soundtrack film “3 Nafas Likas”. Nggak heran, lagu berjudul “Lekas” ini langsung masuk ke sanubari dan menempel dengan mudahnya.

“Hentikan tangismu. Hargai nafasmu. Waktumu sangat terbatas”

2 lagu karya seniman lain juga nggak ketinggalan dipersembahkan kepada kami. Lagu lawas karya Ismail Marzuki bertajuk “Juwita Malam” berhasil dinyanyikan beautifully duet dengan Bonita [yang kali ini tanpa The Husband]. Satu lagi, “Seribu Tahun Lamanya” karya Pongki Subrata pun nggak kalah membuai kami.

Yang tak akan terlupa adalah saat Tulus membawakan lagu andalan “Gajah” dimana dia bercerita sedikit tentang pengalamannya menghabiskan 7 hari di Lampung guna mendalami setiap lirik yang dia tulis. Foto-foto menakjubkan bagaimana dia berinteraksi dengan hewan besar ini ditampilkan di layar besar seraya kami mendengar setiap lirik yang merupakan cerminan masa kecilnya. [yang bisa jadi juga pengalaman masa kecil kita semua]

Panggung wah konser semalam bisa pecah benar-benar pecah saat secara mengejutkan Tulus mengundang satu per satu mystery guest nya. Mulai dari RAN – Vidi Aldiano – Raisa – Endah&Rhesa – Bonita. Menyanyikan “Lagu untuk Matahari” keroyokan di atas satu panggung betul-betul menekankan niat tulus menyampaikan pesan positif seperti ini:

“Mungkin mereka bulan, tapi ingat kau Matahari, cahya mereka darimu…”

Konser semalam yang dibuka dengan lagu “Baru” akhirnya ditutup dengan today’s hits “Cintai Aku Apa Adanya”. Betapa 2 jam pertunjukan yang memanjakan kami para penikmat musik Tulus, terlebih saya sang sepatu kiri.

Saya nggak akan berhenti mendengarkan Tulus dengan tulus selama Tulus berkarya dengan tulus. Karena di setiap lirik yang tercipta, ada banyak cerita. Cerita yang jujur dan apa adanya. Atau mungkin dengan kata lain, Tulus berhasil mengungkapkan apa yang sesungguhnya kita rasa dan ingin ungkapkan.

Teringat pertama kali jatuh cinta pada Tulus saat ia tampil di Ramadhan Jazz 2 tahun lalu dimana dia lupa lirik. Bukannya improvisasi atau diulang, dia justru batal menyanyikan lagu “Teman Hidup”.  “Pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan”, begitu dia mengakuinya. Pun saya demikian.

Thanks Tulus for being tulus.

I always believe, “Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik”.

Post Tagged with , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *