Ya’Ahowu Nias!

Akhir pekan datang lagi. Kali ini, saya mau #MembunuhAkhirPekan lebih awal dan lebih panjang karena TKP-nya terlalu luas untuk dihabisi Sabtu dan Minggu.

Tersebutlah Nias atau bahasa lokalnya Tano Niha, sebuah pulau kecil di sebelah barat Pulau Sumatera yang dihuni mayoritas oleh suku asli Nias, yang mereka sebut Ono Niha.

Meski Nias sudah cukup dikenal karena tradisi lompat batunya (fahombo), namun Nias semakin didengar justru sejak bencana gempa bumi dan tsunami dahsyat pada Desember 2004 dan Maret 2005 silam. Gempa bumi kedua meluluhlantakkan Nias dan kehidupan di dalamnya. Namun perlahan Nias bangkit. Penasaran dengan apa yang dimiliki Nias selain lompat batunya dan sekaligus dukungan untuk sektor pariwisatanya yang belum maksimal, saya dan teman-teman pun mengunjunginya.

Bukan tanpa sebab saya menilai sektor pariwisata Nias masih perlu perjalanan jauh. Dimulai saat kami terbang menggunakan pesawat kecil Wings Air dari Medan menuju Gunungsitoli. Gelagat turis yang tampak jelas pada rombongan kami menyita perhatian penumpang lain yang notabennya warga Nias. Dengan anehnya mereka bertanya, “Kalian mau apa di Nias?”, “Kok saya belum pernah lihat kalian sebelumnya?” dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya. Setelah dengan semangatnya saya menjawab ke Bapak yang duduk di samping saya bahwa kami akan jalan-jalan di Nias, ia tak hentinya berterima kasih karena kami telah sudi main ke Nias. Nah loh. Mungkin masih aneh bagi turis lokal berkunjung ke Nias karena kebanyakan yang berkunjung justru turis mancanegara lengkap dengan papan surfing-nya.

Eniwei, saya merasa tersanjung karena baru kali ini disambut langsung dengan ucapan terima kasih oleh penduduk lokal bahkan sebelum saya menginjakkan kaki di tanah mereka.

Jadi, Nias memang lebih dari apa yang kamu kira lompat batu dan pantai untuk surfing. Berikut perjalanan kami menelusuri Nias, mulai dari Gunungsitoli, Nias Utara hingga Nias Selatan hanya dalam waktu 4 hari 3 malam.

Jumat, 20 Juni 2014 – mendarat di bandara kecil Binaka di Gunungsitoli. Tanpa basa basi, perjalanan langsung dimulai dengan mobil sewaan menuju Nias Utara. Mampir sebentar untuk sekedar sarapan yang digabung dengan makan siang di Pantai Fodo. Menakjubkan karena sejauh mata memandang, kami disuguhi Samudera Hindia langsung di depan mata.

Museum Pusaka Nias, Gunungsitoli, Nias

Dalam perjalanan menuju Nias Utara, baiknya mampir ke Museum Pusaka Nias yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso, Kota Gunungsitoli demi mengenal Nias lebih jauh lagi. Semacam rangkuman berbagai peninggalan budaya khas Nias, semua informasi yang dibutuhkan guna menelusuri keelokan budaya Nias, dapat ditemui di museum yang dikelola oleh Persaudaraan Kapusin Propinsi Sibolga ini.

Sayang disayang, saat kami tiba di komplek museum adalah waktu istirahat siang. Jadi kami tak sempat melihat-lihat lebih jauh ke dalam museum. Tapi berdasarkan apa yang bisa dilihat dari luar, Gedung Museum Pusaka Nias ini terdiri dari ruangan pameran dan beberapa gedung penunjang sebagai kantor operasional, tempat miniatur rumah-rumah tradisional, balai pertemuan (omo bale), rumah tamu, halaman batu-batu megalit dan kantin.

Pantai Lafau

Pantai cantik yang terletak di Nias Utara ini patut dikunjungi. Lokasinya yang pasti dilewati saat menuju Nias Utara dari Gunungsitoli, menjadikan pantai ini pilihan menarik untuk sekedar mampir. Hamparan pasir putihnya sungguh menawan beradu dengan air laut yang jernih.

Yang juga menarik dari lokasi ini adalah tempat pengasinan ikan hasil tangkapan nelayan setempat. Luangkan waktu sejenak untuk sekedar ngobrol santai dengan ibu-ibu yang sedang bekerja memilah ikan asin sembari mencicipi nikmatnya ikan asin langsung on the spot.

Memasuki wilayah penduduk, kami check in di penginapan Siang Malam yang konon adalah (masih) satu-satunya penginapan yang ada di daerah Nias Utara. Tanpa panjang lebar, kami bergegas ke destinasi pertama di hari pertama.

Pantai Tureloto

Terletak sekitar 80 km dari Kota Gunungsitoli, tepatnya di Desa Balofadoro Tuho, Kecamatan Lahewa, Pantai Tureloto menyuguhkan keunikan tersendiri.

Tak seperti Pantai Sorake dan Pantai Lagundri yang terkenal karena ombaknya yang tinggi, Pantai Tureloto justru menawarkan keindahan batu karang bawah laut yang menyeruak ke daratan. Munculnya bebatuan karang ke permukaan ini terjadi akibat surutnya air laut sebagai dampak gempa bumi yang terjadi di Nias pada Maret 2005 silam.

Hamparan karang ini pula yang menyebabkan pantai Tureloto hampir tak berombak cenderung sangat tenang. Air lautnya yang bersih dan bewarna kehijauan, putih dan lembutnya pasir pantai yang seakan berkilau jika terkena sinar matahari, membuat kita seakan-akan berenang di kolam renang pribadi.

Gempa bumi 2005 lalu juga mengakibatkan pantai ini memiliki garis pantai yang melebar hingga 1,5 km. Hal itu pula yang menyebabkan Nias memiliki beberapa lahan kosong tak bertuan yang saat ini masih bebas.

Pantai Walo, Pantai Pasir Merah di Afulu

Menjelang sore dan saatnya berburu sunset. Pantai pasir merah menjadi tujuan kami karena pantai pasir putih sudah terlalu mainstream, katanya.

Pantai Walo berlokasi di Desa Ombolata, Afulu, Nias Utara. Warna pasirnya yang memang merah sekilas terlihat seperti tanah liat dari kejauhan. Pasir merahnya juga terasa sangat halus di kaki.

Menurut informasi, merahnya pasir pantai dikarenakan butiran-butiran pasirnya merupakan hasil abrasi karang laut. Tapi lain cerita saat kita bertanya ke penduduk lokal karena mereka punya versi sendiri yang diyakini. Konon warna merah pantai didapat dari darah naga raksasa yang mati dibunuh oleh seorang pendekar sakti. Darah naga jahat itu mengalir dan menyebar ke seluruh penjuru pantai hingga membekas di pasir pantai. Begitu cara masyarakat Nias Utara meyakininya.

Anyway, panorama pantai dengan pasir merahnya ini sangat menarik karena didukung dengan ombak pantai yang juga cantik. Maka, moment matahari terbenam pun kami dapatkan dengan drama semburat jingga yang cukup sempurna.

Malam hari di Nias Utara. Tak banyak yang bisa kita lakukan karena sungguh tak ada kehidupan malam disini.

Sabtu, 21 Juni 2014 – masih berkeliaran di Nias Utara. Kali ini kami akan mencoba hopping island dan bersnorkeling ria. Garis start hopping island dimulai dari pelabuhan laut di Kecamatan Lahewa, Nias Utara lalu dilanjutkan dengan perahu bermotor sewaan selama kurang lebih 1 jam.

Pulau Panjang

Tak disangka, ternyata selain terkenal dengan tujuan wisata surfing dan tradisi lompat batunya, Nias juga punya pulau-pulau kecil yang eksotis. Pulau-pulau kecil tak berpenghuni ini tersembunyi dan belum terlalu terekspose. Termasuk salah satu dari 19 pulau yang terdapat di wilayah administratif pemerintahan Kabupaten Nias Utara, kami mendamparkan diri di Pulau Panjang yang terletak di sebelah timur pantai Lahewa.

Perjalanan yang cukup panjang menuju Pulau Panjang terbayar dengan indahnya kealamian pulau kecil yang tak berpenghuni ini. Pasirnya yang putih, airnya yang jernih, juga hutannya yang masih alami menggoda kami untuk betah berlama-lama terdampar di pulau ini. Dan kami pun buka dapur umum alias bakar ikan segar di pulau ini.

Pulau Makora

Beranjak dari Pulau Panjang, sekilas kami melihat Pulau Makora dari kejauhan. Sebagai salah satu destinasi pariwisata di gugusan kepulauan Nias Utara, Pulau Makora ternyata cukup popular di kalangan wisatawan.

Pulau Makora termasuk destinasi wisata pulau paling kecil di gugusan kepulauan Nias dengan keliling yang tak lebih dari 5 kilometer persegi. Meski demikian, pulau ini merupakan salah satu sumber penghasilan masyarakat Pulau Nias karena ratusan pohon kelapa yang tumbuh subur dan juga banyaknya pohon karet yang menghasilkan.

Dan kami pun hanya melewatinya demi berburu spot snorkeling di perairan ini. Nias memang bukan lokasi terbaik untuk snorkeling, tapi Nias bisa memperkaya perbendaharaan spot snorkeling.

Cukup seharian terombang ambing di laut, sore hari kami berpindah ke kota Gunungsitoli berharap menikmati malam minggu ala Gunungsitoli. Bermalam di Wisma Soliga, malam minggu kami habiskan di tempat gaulnya Gunungsitoli, Kaliki Beach.

Minggu, 22 Juni 2014 – beranjak dari Gunungsitoli, kami menuju Nias Selatan. Perjalanan darat selama 3 jam terasa seru meski di beberapa bagian, jalanan masih kurang bagus. Curi-curi dengar sih, tata kota dan pembangunan Nias Selantan selangkah lebih maju dibandingkan Nias bagian lain. Juga kesejahteraan penduduknya. Dunno why. Terbukti sih, begitu memasuki Nias Selatan, jalanan lebih halus. Begitupun dengan mobil-mobil bagus yang seliweran.

Puncak Genasi, Nias Selatan

Siapapun yang mengarah ke Nias Selatan dari Kota Gunungsitoli melalui jalur darat pasti lewat Puncak Genasi. Lokasinya yang strategis di ketinggian dengan panorama laut biru menjadikan Puncak Genasi sebagai tempat persinggahan wajib bagi siapapun yang melaluinya. Terletak di Kecamatan Lahusa, Nias Selatan, Puncak Genasi memiliki panorama bahari yang menawan. Sejauh mata memandang, terbentang Samudera Hindia yang tampak tenang dan biru. Katanya sih jika beruntung, kita  akan disuguhi atraksi menakjubkan dari kawanan kecil lumba-kumba yang melintasi Samudera Hindia. Jadi, alangkah sayang jika melintasi Puncak Genasi tanpa mampir sejenak sekedar untuk istirahat sambil minum kopi. 

Pantai Batu Atola

Masih dalam perjalanan darat menuju destinasi unggulan Nias Selatan, setelah istirahat sejenak di Puncak Genasi, kita juga melewati Pantai Batu Atola. Salah satu dari sekian banyak pantai cantik yang jadi alternatif tujuan, Pantai Batu Atola ada di dekat sungai Sa’ua, Teluk Dalam, Nias Selatan. Sambil istirahat sejenak dan menikmati ombak besar yang pecah di Batu Atola, nggak dosa kok borong duren yang banyak dijual di pinggir jalan. Murah meriah dan cukup bikin mabok. Dijamin.

Yang menarik dari Pantai Atola adalah adanya sebuah batu besar yang konon beberapa tahun lalu, posisi batu ini terletak jauh ke arah laut sekitar 200 meter. Kemudian sekitar 2 tahun yang lalu, secara mengejutkan batu ini mulai bergeser dengan sendirinya mendekati jalan raya. Hingga saat ini batu itu masih tetap pada posisi terakhirnya.

Desa Adat Bawomataluo

Kami mulai mengeksplor Nias Selatan dengan mengunjungi salah satu desa adat kebanggaan Nias. “Yeay! Yang dinanti-nanti datang juga. Dalam beberapa saat, saya bisa menyaksikan secara langsung tradisi lompat batu. Tepat di depan mata!”

Salah satu desa adat yang cukup terkenal di Pulau Nias adalah Desa Bawomataluo di Kecamatan Fanayama, Nias Selatan. Desa Bawomataluo ini sudah sangat populer di mata dunia internasional sebagai desa wisata di Indonesia yang begitu eksotis. Bahkan konon nama desa ini sudah masuk ke dalam tentative list world heritage oleh UNESCO di tahun 2009.

Lokasi desa yang berada di ketinggian, mengharuskan pengunjung menaiki anak tangga yang jumlahnya sekitar 86 untuk dapat memasuki desa. Di dalam desa adat Bawomataluo, berjejer rapi ratusan rumah adat khas Nias dengan sekitar 5,000 warga asli yang hidup di dalamnya. Diantara jejeran pemukiman tua tersebut, ada sebuah bangunan rumah yang menonjol paling tinggi. Rumah tersebut adalah rumah pemuka adat di Desa Bawomataluo dimana masyarakat setempat lebih sering menyebutnya sebagai Omo Sebua.

Bicara tentang tradisi dan kepercayaan, orang Nias masih kental dengan budaya aslinya. Dalam beberapa hal, mereka masih memelihara dan menjalankan apa yang mereka percaya, baik itu dalam bentuk ritual, upacara, kesenian, dsb.

Yang paling menarik perhatian dan juga menjadi salah satu simbol kekuatan budaya Nias adalah batu setinggi 2 meter yang disusun rapi di tengah desa. Iya betul, batu inilah yang menjadi media bagi mereka melaksanakan tradisi Fahombo atau lompat batu. Senang tak terkira adalah bisa menyaksikan secara langsung tradisi yang sempat diabadikan dalam uang kertas 1.000 rupiah yang dulu beredar mulai tahun 1992.

Sayangnya, kini fahombo dilakukan bukan lagi sebagai ritual/tradisi secara kultural melainkan hanya sebagai atraksi wisata bagi pengunjung yang dibanderol dengan harga 200.000 rupiah untuk sekali lompatan. Tapi konon jika kita berkunjung di saat yang tepat ketika mereka sedang berpesta, mereka akan mempertontonkan fahombo dan juga tarian khas mereka, tari perang.

Sebagai informasi, dahulunya tradisi lompat batu adalah tradisi yang dilaksanakan secara rutin di Desa Bawomataluo sebagai sarana inisiasi bagi pemuda-pemuda yang akan dinobatkan sebagai prajurit yang membela desanya dari serangan musuh. Inisiasi ini juga sebagai penentuan pantas tidaknya sang pemuda menjadi seseorang yang dianggap dewasa.

Layaknya desa adat yang sudah berubah menjadi desa wisata, orang-orangnya pun mulai menggantungkan diri pada wisatawan yang datang. Mereka akan mengikuti kemanapun kita melangkah sambil mencoba menjajakan barang dagangan mereka. Belilah satu atau dua, tapi hati-hati karena membeli satu akan mengundang pedagang lain untuk menyerbu.

Pantai Sorake, Nias Selatan

Puas dengan foto-foto lompat batu, mari beralih untuk menikmati sore di Pantai Sorake yang terkenal itu. Lokasi surfing dan selancar yang konon katanya terbaik kedua setelah Hawaii. Betapa tidak, pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia ini memiliki ombak yang bisa mencapai ketinggian 5 meter dan memiliki 5 tingkatan yang tidak dimiliki pantai-pantai lainnya.

Nggak heran dong, bagi penggila olahraga surfing atau professional atau kelas dunia, Pantai Sorake ini ibarat surga dunia. Boleh dicatat, musim ombak besar di Nias di mulai dari bulan Juni – July.

Semakin sore, semakin banyak surfer beraksi karena ombaknya mulai asyik. Sore itu, saya puas hanya dengan menjadi penonton. Dan sore itu pula, saya tak terlalu menghiraukan perburuan senja. Iya, cukuplah kali ini saya menjadi “pemburu surfer”, bukan pemburu senja. Maksudnya, saya ingin sekali menangkap moment indah surfing meski hanya menggunakan smartphone.

Dan haru adalah bisa kenalan sama surfer cilik ini. Namanya Dilo, anak asli Sorake. Rasanya kok kalau anak pantai nggak bisa surfing, ada yang salah ya. Makanya, di sini kita akan dengan mudah menemukan bibit-bibit unggul calon surfer kelas dunia. 

Pantai Lagundri, Nias Selatan

Beranjak dari Pantai Sorake ke Pantai Lagundri yang hanya sejauh 2km. Disini beberapa teman memberanikan diri untuk belajar surfing meski waktunya sedikit. *Iya, sudah menjelang malam.

Jika belum berminat, duduk santai di pinggir pantai sambil menyaksikan peselancar beraksi pun cukup mengasyikan kok. Atau ditambah ngobrol cantik dengan bapak pemilik rental papan surfing, Bang Alan. Ngobrolin si anak, Swen Oliver yang baru usia 7 tahun namun dibanggakan karena kemampuannya membelah ombak dengan papan surfing. Si Bapak sedang berusaha mencarikan sponsor apparel untuk anaknya ini. Hiks, belum bisa bantu. Saya kasih buku aja dulu ya dek #1Traveler1Books

Sama seperti Pantai Sorake, Lagundri pun dilihat sebagai lokasi terbaik surfing karena ombak besarnya. Dan karena keunggulannya itu pula, Pantai Lagundri beberapa kali menjadi lokasi lomba selancar baik taraf nasional maupun internasional.

Menginap di Nias Keyhole Surf Camp

Karena Pantai Sorake sudah terkenal hingga mancanegara, tak heran kita akan menemukan banyak penginapan di sepanjang pesisir pantai. Dan harga sewa kamarnya cukup affordable kok, mulai dari 75 ribu hingga 200 ribu per malam, meski sebagian besar pelanggan mereka adalah turis asing.

Kami menginap di Nias Keyhole Surf Camp. Yang sulit saat berkunjung di bukan musim liburan adalah sepi dan sulit cari makan. Tidak ada keriaan yang menarik dan cenderung seperti kota mati saat malam tiba. Hanya tampak beberapa rombongan turis asing yang asik ngobrol di depan kamarnya masing-masing. Hmmm justru tampaknya bisa jadi tempat menyepi untuk jangka waktu yang cukup lama.

Senin, 23 Juni 2014 – meninggalkan Nias dengan berat hati. Kesimpulannya, Nias sungguh punya potensi besar untuk jadi tujuan wisata yang serius bagi turis lokal bahkan mancanegara. Mereka punya alam yang indah dan budaya yang menarik. Hanya tinggal kesiapan dari dalam saat nanti Nias mulai ramai wisatawan, seperti akomodasi. Mungkin inilah salah satu sebab kenapa jalan-jalan ke Nias masih terbilang mahal. 2,7 juta hanya untuk 3 hari diluar tiket pesawat. Contoh lainnya, Nias tak begitu terkenal dengan kuliner/makanan khas. Bahkan saat kami berniat membeli oleh-oleh pun, terkesan Nias tak punya apa-apa untuk dipamerkan. Toko oleh-oleh pun sangat sulit ditemukan.

Tapi overall, saya puas sudah menginjakkan kaki di Nias saat orang lain masih bertanya, “ada apa di Nias?”

Thanks @pinouva and CherryWeh for the moment we shared! For more pictures of Beautiful Nias, please click here.

Nias, 20 – 23 Juni 2014

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *